
Sementara itu, di gubuk tempat penyekapannya, Bagas hanya mampu diam mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya.
"Kenapa diam ? Apa sekarang kau mengingat sesuatu, tuan Bagas Anggara ?" tanya Jeje alias Jeremy.
"Apa maumu ? Kenapa kau lakukan semua ini ?" tanya Bagas datar.
"Kau ini tuli atau bodoh ! Bukankah tadi sudah aku katakan jika aku menginginkan kematianmu, Bagas Anggara ! Apa kau pernah mendengar pepatah jika hutang nyawa harus dibalas nyawa ? Itu yang sekarang akan aku lakukan padamu, Bagas ! Kau seorang pembunuh, dan kau pantas aku bunuh !" teriak Jeje geram.
"Aku benar-benar tidak mengerti, siapa yang telah aku bunuh ? Asal kau tahu, seumur hidupku, aku tidak pernah merasa memiliki musuh ! Jadi siapa yang sudah aku bunuh ?"
"Ha....ha...ha...! Kau benar-benar naif sekali, Bagas ! Kau memang tidak pernah secara langsung membunuhnya. Tapi karena mu, karena penolakanmu adikku Rachella bunuh diri. Rachella kecilku..., Rachella yang malang...hu...hu....!" Jeje mulai terisak saat mengingat kematian adiknya.
Setelah mengetahui jika pemuda yang dicintainya telah menikah, Rachella pun kembali ke London. Tiba di London, sikap Rachella berubah. Dia menjadi lebih tertutup dan sering mengurung diri di kamarnya.
Hingga pada suatu hari, Jeremy datang untuk menemuinya.
"Hallo princess ! Apa kabarmu ?" ujar Jeremy seraya membelai lembut rambut adiknya.
"Baik kak !" jawab Rachella masih dengan nada murungnya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan pangeran berkuda putihmu ?" kembali Jeremy bertanya.
Tiba-tiba, Rachella segera memeluk tubuh Jeremy dengan erat. Dia pun mulai menangis pilu.
"Di...dia sudah menikah..kak...hu...hu..., aku...aku tidak akan bisa mendapatkannya..., dia jahat padaku..., dia sudah mengkhianati cinta ku...aku...hu..hu..., aku tidak mau hidup lagi..., aku mau mati saja ka...., hu...hu..., aku nggak sanggup hidup tanpa dia....hu...hu...."
Rachella semakin terisak dalam pelukan Jeremy.
Jeremy pun mengepalkan tangannya. Dia benar-benar marah melihat adik kesayangannya menderita seperti itu.
"Tenang saja ! Kamu tahu kan kekuasaan kakak seperti apa ? Kakak akan memaksa dia untuk hidup bersamamu !" ujar Jeremy berusaha menenangkan adiknya.
Namun sayangnya, Rachella tidak pernah bisa menerima kenyataan dengan ikhlas. Dua hari kemudian, berita tentang kecelakaan tunggal yang menewaskan seorang gadis pun mulai menyebar. Ya, mobil Rachella ditemukan di dasar jurang. Saksi mata mengatakan, jika pengendara dengan sengaja melajukan mobilnya ke arah jurang.
Air mata Jeje mulai jatuh di pipinya saat melihat jenazah Rachella.
"Dengar Je, aku minta maaf ! Aku benar-benar tidak tahu semuanya akan terjadi seperti ini. Namun sejak awal sudah kutegaskan kepada Rachella bahkan tante Mona, jika aku sama sekali tidak mencintainya. Dan Rachella..., saat itu Rachella bilang padaku jika dia akan melupakan aku."
"Ya...! Tapi dia tidak pernah bisa melupakanmu ! Dia tidak pernah bisa, Bagas. Baginya, kamu adalah cinta pertamanya. Dia bahkan tergila-gila padamu ! Kau tahu apa ini !"
Jeremy mengeluarkan sebuah benda dari saku jasnya. Dan ternyata benda itu adalah sebuah buku harian Rachella.
"Max ! Buka tangannya !" perintah Jeremy kepada anak buahnya.
Pria bertato itu pun membuka ikatan tangan Bagas.
"Baca !" perintah Jeremy seraya melemparkan buku harian itu ke arah pangkuan Bagas.
Bagas mengambil buku harian itu. Dia pun mulai membuka dan membacanya halaman demi halaman. Memang tidak banyak yang tertulis di sana. Buku itu hanya berisikan beberapa halaman yang menggambarkan rasa cinta dan kekecewaan Rachella terhadap Bagas. Setelah selesai membacanya, Bagas melemparkan kembali buku harian itu ke arah Jeremy.
"Dengar, aku sangat menghargai perasaan adikmu ! Tapi kau sendiri tahu jika cinta tidak pernah bisa dipaksakan ! Sekarang, katakan ! Apa dengan membunuhku, adikmu akan kembali hidup, hah ?" tanya Bagas dingin.
"Ha...ha...ha...! Kau benar Bagas, adikku memang tidak akan pernah bangkit kembali dari kematiannya. Tapi setidaknya, dia akan merasa tenang dalam kematiannya karena dendamnya kepada istrimu telah terbalaskan. Kyara yang merebutmu dari kehidupan adikku, dan sekarang, aku yang akan merebutmu dari kehidupan Kyara. Akan kubuat istrimu menderita dengan kematianmu Bagas ! Ha...ha...ha...!"
"Gila...! Kau benar-benar gila...!" teriak Bagas.
"Ya...! Aku gila...! Sejak dulu aku memang sudah gila ! Bahkan ayah kandungku sendiri mengatakan aku gila, karena aku memiliki penyakit penyimpangan seksual !"
Jeje mendekati Bagas, dia mencengkeram rahang Bagas dengan kuat.
"Apa kau tahu Bagas ! Dalam hidupku, dalam keluargaku, hanya mommy dan Rachella yang bisa menerimaku apa adanya. Dan kau...!"
Jeje menghempaskan wajah Bagas ke arah kanan.
"Kau telah merenggut kedua orang itu dariku ! Adikku bunuh diri karena mu, sedangkan mommy ku, dia mengalami depresi hebat karena kematian adikku. Sekarang, aku tidak punya siapa-siapa lagi Bagas ! Apa kau tahu, sejak kecil aku selalu dikucilkan oleh keluarga besar daddy ku yang sempurna. Hanya karena aku memiliki sifat seperti perempuan, mereka menghina daddy sampai daddy merasa malu dan tidak pernah ingin kembali ke negaranya. Setelah besar pun, daddy mengucilkan aku hanya karena aku seorang g*y. Hanya Rachel dan mommy yang selalu mendukungku. Tapi kau benar-benar kejam Bagas. Kau telah merenggut mereka dariku ! Sekarang aku tidak memiliki alasan lagi untuk hidup ! Hidupku hancur karena kau Bagas ! Karena kau yang telah merenggut napasku ! Kau telah merenggut nyawaku ! Aku membencimu ! Dan aku akan membawamu menemui princessku !"
Sepertinya Bagas mulai mengerti kenapa Jeremy melakukan semua ini. Bagas pun mulai mengerti, kenapa om Danu tak pernah pulang ke kampung halamannya.
"Jangan gila kamu, Je ! Kita bisa bicarakan ini baik-baik ! Aku akan membantumu untuk mendapatkan semua yang kamu inginkan ! Kau ingin pengakuan keluarga besar om Danu kan ? Aku akan membantumu untuk mendapatkan itu, aku janji Je ! Tapi aku mohon, lepaskan aku dulu !"
"Ha...ha...ha...! Sayangnya, aku sudah tidak tertarik lagi ! Aku sudah tidak peduli lagi dengan ayahku dan juga keluarga terhormatnya ! Ha...ha...ha...!"
__ADS_1
Jeje tertawa dingin sekali.
"Max ! Bawa dia ke mobilku. Ikat dengan kuat di kursi depan ! Aku ingin dia merasakan apa yang Rachel rasakan saat dia menjemput kematiannya !"
"Tunggu...! Apa yang akan kau lakukan...! Lepas...! Lepaskan aku...!"
Bagas berteriak, Bagas meronta sekuat tenaga. Namun sayangnya, kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan 4 orang pria bertubuh besar yang beramai-ramai mengangkat tubuhnya.
Keempat pria itu membawa Bagas ke mobil yang tadi ditumpangi oleh Jeremy. Dia mendudukkan Bagas di kursi depan. Tangan kaki dan tubuhnya di ikat kuat dan dililitkan ke sandaran jok depan.
"Lepaskan...! Lepaskan aku...!" teriak Bagas
Tanpa di duga, tiba-tiba pria botak yang ikut serta mengikat Bagas, memukul Bagas dengan kuat, hingga tubuhnya jatuh menimpa Bagas. Saat tubuhnya menindih tubuh Bagas, tiba-tiba tangan kirinya segera memegang tangan Bagas yang telah terikat di belakang dan mengepalkan sebuah pisau kecil di tangan Bagas.
Bagas menatapnya heran, namun pria botak itu hanya tersenyum tipis.
PLAKK....!
Kembali pria botak itu menampar wajah Bagas saat Jeremy mulai memasuki mobilnya.
"Hei...! Apa yang kau lakukan kepada adik iparku !" seru Jeremy
"Maaf bos ! Tadi dia menatapku dengan tatapan menantang, karena itu aku emosi bos !"
"Ah, kau benar ! Dia memang sombong ! Malaikat maut sudah di hadapannya saja, masih saja bisa bersikap sombong seperti itu ! Bagaimana adik ipar ? Apa kau sudah siap dengan perjalanan kita menuju neraka ? Ha...ha...ha...!"
Jeje mulai menyalakan mesinnya. Dia memainkan pedal gas untuk memanaskan mobilnya. Sementara Bagas masih memberontak mencoba melepaskan tali yang mengikat kuat di sekujur tubuhnya.
"Oke...! Are you ready my little brother in law...! Three.... two.... one....gooo...!!"
Jeje mulai menginjak pedal gas dengan kuat. Mobil pun melaju di atas kecepatan rata-rata.
shitt...! Dia menggunakan projects B !
Bagas benar-benar tersentak kaget saat menyadari jika mobil yang digunakan Jeje adalah mobil hasil rancangannya sendiri. Mobil yang bisa melaju secepat bayangan. Bagas tidak merasa khawatir jika orang yang mengendarainya adalah orang-orang pilihan dan terlatih dengan baik. Namun Jeremy, sungguh Bagas meragukan kemampuannya. Terlebih lagi, saat ini Jeremy tengah dalam kondisi yang labil.
"Yuhuuuu....! Apa kau menikmatinya tuan Bagas Anggara ! Bukankah ini mobil hasil karyamu ! Ha...ha...ha..." Jeremy tertawa gembira, merasa mempunyai mainan baru.
"Hentikan Je ! Kita bisa celaka !" teriak Bagas.
Jeje masih terus tertawa dan bersorak mengelilingi hutan belantara ini. Sesekali mobilnya menyerempet pohon-pohon besar yang berada di tengah hutan itu.
"Stop ! Hentikan Je !"
Bagas berteriak mencoba menghentikan Jeje. Tapi Jeje sudah tidak bisa dikendalikan. Bagas mencoba memotong tali yang mengikat di tangannya dengan pisau pemberian pria botak itu. Tapi ternyata tidak mudah, mobil itu mengalami guncangan akibat si sopir yang ugal-ugalan mengendarainya.
"Oke Bagas, apa kau sudah siap ! Sekarang kita akan menemui Rachel ! Lets go....!"
Jeje semakin menginjak pedal gas nya, dia kembali melajukan mobilnya lurus ke depan. Dan ternyata, di depan jalanan itu terdapat jurang yang sangat dalam.
Shitt...! Aku harus segera keluar dari sini !
Di waktu yang sama, sebuah mobil melaju dengan kencangnya di sebuah jalan berkelok-kelok di pinggir jurang. Sang sopir melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan karena ternyata mereka sedang mengikuti lomba balap liar bersama temannya.
Bagas masih mencoba memotong talinya.
Alhamdulillah..., berhasil...! Ya Tuhan...., bantu hamba...!
"Hentikan Je...! Bahaya...! Kita berdua bisa Mati !"
Bagas mencoba bernegosiasi dengan Jeje seraya tangannya terus mengiris tali yang mengikat tubuhnya di sandaran jok depan.
"Diamlah Bagas ! Itu tujuan kita ! Mati...! Ha...ha...ha..."
Saat mobil Jeje keluar dari hutan dan mulai memasuki jalanan beraspal, sejurus kemudian datanglah mobil yang sedang melakukan balapan tadi...
Ciiiiiitttt....
Braaakkk....
***
__ADS_1
"Tidaaaakkkk....! Kakaaaang....!"
"Neng...! Bangun neng...! Astaghfirullah hal adzim...!"
Bik Lilis menggoyang pelan bahu Kyara yang tengah berteriak histeris dalam tidurnya.
Kyara segera mengerjapkan matanya. Sejenak kemudian dia menatap kosong ke langit-langit ruang tamunya.
"Neng Kya...!" ujar bik Lilis menyentuh bahu Kyara.
Kyara menatap bik Lilis. Dia pun segera memeluk bik Lilis.
"Kang Bagas, bu...! Kang Bagas..., hu...hu...hu...!"
Kyara terisak dalam pelukan bik Lilis.
"Ssst....! Tenanglah...! Itu cuma mimpi, nak ! Insyaallah tidak akan terjadi apa-apa pada suamimu !" ujar bik Lilis seraya mengusap-usap punggung Kyara untuk menenangkannya.
"Ta... tapi bu...!"
Bik Lilis melepaskan pelukannya. Dia kemudian menyeka air mata di kedua pipi Kyara.
"Tenanglah, nak ! Itu hanya bunga tidur ! Kamu lihat jam berapa sekarang ? Ini sudah sore, kata orang tua jaman dulu, jangan pernah tidur saat waktu menjelang sore, pamali ! Nah, buktinya sekarang Kya mimpi buruk kan ?" ujar bik Lilis.
Kyara mengangguk.
"Sudahlah, sekarang bersihkan dirimu ! Sebentar lagi sudah masuk waktu maghrib. Kita solat berjamaah dan berdo'a sama Allah. Supaya nak Bagas selalu ada dalam lindungan-Nya di mana pun dia berada."
"Iya bu !"
Kyara pun segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap-siap melaksanakan solat berjamaah bersama bik Lilis.
***
Di kota B. Dokter Nita sedang berkunjung ke rumah kediaman tuan Ali untuk membicarakan tentang kepindahan Ajay ke kota J.
"Jika itu yang terbaik untuk Ajay, om akan mendukungnya, nak !" ujar tuan Ali.
"Tapi, apa kamu yakin anak saya akan sembuh seperti semula, nak ?" tanya nyonya Diana.
"Insyaallah, tante ! Sejauh ini Nita lihat perkembangan Ajay sudah semakin baik. Bahkan Ajay sudah bisa mengingat tentang Bagas." jawab Nita.
"Syukurlah kalau begitu, om sangat senang bisa mendengar Ajay mulai bisa mengingat semuanya."
"Pih, jika Ajay sudah sembuh total, kita lanjutkan kembali pertunangannya dengan Kyara, ya ? Mamih harap Kyara bisa menerima dan memaafkan Ajay kembali. Apa papih setuju ?" tanya nyonya Diana.
"Uhuk...uhuk...!"
Nita yang sedang menyeruput teh nya langsung tersedak mendengar ucapan nyonya Diana.
"Aduh nak Nita, hati-hati sayang !" ujar nyonya Diana seraya menepuk punggung dokter Nita.
"Kamu nggak apa-apa, nak ?" tanya tuan Ali.
"Ti... tidak om ! Nita baik-baik saja !" jawab Nita. "Maaf, om, tante, se... sebenarnya ada yang harus Nita sampaikan tentang Kyara." lanjutnya.
"Ada apa dengan nak Kya ?" ujar tuan Ali.
"Mmm..., se... sebenarnya..., Kya.... Kya sudah menikah, om, dan kemarin..., kemarin Kya datang menjenguk Ajay, itu...itu atas permintaan Nita."
"Uhuk....uhuk...!" kali ini nyonya Diana yang tersedak karena mendengar kabar pernikahan Kyara
"Maksud kamu ?" tanya nyonya Diana.
"Dulu, Nita dan Kya teman satu kampus. Pada saat itu, sikap Kya sangat dingin terhadap laki-laki. Kami bertemu kembali saat Kya melakukan terapi di klinik Nita. Ternyata selama ini, Kyara mengalami trauma hingga dia tidak bisa menjadi istri seutuhnya bagi suaminya. Namun beberapa bulan kemudian, Kyara bisa mengatasi traumanya dan bisa hidup secara normal dengan suami yang sangat mencintainya. Beberapa waktu lalu, Kya kembali datang ke klinik, karena dia merasa tertekan dengan kabar kembalinya mantan tunangannya. Saat itulah Nita tahu, jika mantan tunangannya yang selama ini telah membuat Kyara menjalani trauma selama 6 tahun, dia adalah Ajay. Tapi kita sendiri tahu bagaimana sifat Kyara. Dia pun meminta bantuan Nita untuk bisa menyembuhkan Ajay agar Ajay bisa melanjutkan hidupnya dengan normal tanpa ada bayang-bayang penyesalan. Dia bersedia membantu Nita untuk menarik Ajay dari dunianya. Namun ke depannya, dia meminta Nita untuk menangani Ajay tanpa kembali melibatkannya, karena dia merasa tidak enak dengan suaminya. Nita yakin suaminya akan mengizinkan Kyara membantu Nita menyembuhkan Ajay, namun Nita juga tidak ingin hal ini bisa memicu keretakan rumah tangga mereka. Karena itu, Nita minta bantuan om dan tante untuk tidak melibatkan Kyara lagi dalam penyembuhan Ajay." pinta dokter Nita.
Untuk sejenak, mereka diam dan hanya bisa saling pandang.
"Nak Nita, apa kau tahu siapa suaminya Kyara ? Om sama tante sangat berhutang budi karena dia mau berbesar hati mengizinkan Kyara membantu Ajay. Mungkin setelah Ajay pindah, om sama tante akan menemuinya untuk meminta maaf dan berterima kasih atas semua kebaikannya." ujar tuan Ali.
"Kak Bagas, pih ! Suaminya kak Kyara, dia adalah kak Bagas !"
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏🤗