Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Firasat


__ADS_3

"Kau...!!" seru Ajay kaget, saat mendapati Cecilia sedang berdiri di pintu pagar rumahnya.


Keadaan Cecilia sungguh sangat memprihatinkan.


"Bo... boleh aku ma..masuk ?" tanya Cecilia dengan bibir yang bergetar.


Ajay mengangguk, dia pun membuka pintu pagarnya dan segera memayungi Cecilia agar tidak terkena hujan.


Mereka berjalan beriringan menuju rumah. Ajay mempersilakan Cecilia masuk dan menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu. Sementara itu, dia pergi ke kamarnya, mengambil pakaian ganti untuk Cecilia.


Tidak terlalu sulit bagi Ajay untuk menemukan pakaian perempuan di rumah itu, karena memang sebagian dari isi lemari pakaiannya adalah barang-barang Kyara yang telah dipersiapkan oleh eyang uti sebagai kebutuhan Kyara jika mereka sudah menikah kelak.


Setelah mendapatkan pakaian yang dianggap pantas untuk Cecilia, Ajay pun segera keluar menemui Cecilia.


"Gantilah pakaianmu...!" ujarnya seraya memberikan bathrobe dan satu stel baju tidur milik Kyara kepada Cecilia.


Cecilia menerima pakaian tersebut.


"Ayo..., aku antar kamu ke kamar mandi ?" ajak Ajay.


Cecilia berjalan mengikuti Ajay dari belakang.


"Ini kamar mandinya." ujar Ajay mempersilakan Cecilia untuk mengganti pakaiannya. "Aku pergi dulu untuk membuat teh jahe."


Cecilia mengangguk.


Ajay pun pergi ke dapur membuat secangkir teh jahe untuk Cecilia. Setelah itu, dia kembali ke ruang tamu. Apa yang sebenarnya terjadi pada Cecil, kenapa dia datang ke rumahku di saat hujan-hujan begini...? batin Ajay.


Di kamar mandi...


Gila...! Benar-benar gila...! Sejauh apa hubungan mereka, sampai baju Andin pun tersedia di rumah ini...? Ish...! Sebenarnya aku enggan memakai pakaian ini..., tapi aku tidak punya pilihan lain. Pokoknya malam ini harus bisa..! Ini kesempatanku, jika gagal.., maka semuanya akan hancur berantakan...! Hidupku dan juga masa depanku...! gumam Cecilia dalam hati.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Cecilia kembali ke ruang tamu. Tubuhnya masih menggigil, menandakan dia masih sangat kedinginan.


Ajay tersenyum begitu melihat Cecilia. "Minumlah...! Ini akan menghangatkan tubuhmu..." ujar Ajay seraya menyerahkan cangkir yang berisi teh jahe.


Cecilia menerimanya, kemudian menyeruput minuman tersebut. Sejenak kemudian, Cecilia merasakan badannya terasa sedikit lebih nyaman.


Setelah dirasa cukup tenang, Ajay mulai bertanya tentang maksud kedatangan Cecilia ke rumahnya.


"Sebenarnya kamu kenapa...? Kenapa malam-malam begini kamu datang kemari ? Hujan-hujanan lagi, kamu nggak takut sakit..?" tanya Ajay.


"Ma... maafkan aku...!" ujar Cecilia menunduk, wajahnya berubah sendu mendapati pertanyaan Ajay yang menusuk hatinya.

__ADS_1


Ajay yang melihat perubahan raut wajah Cecilia, langsung merasa tidak enak. "Hei..., aku hanya bercanda..!" ujar Ajay, mendekati Cecilia.


Tiba-tiba saja, Cecilia memeluk Ajay, dan mulai menangis.


"Aku...hiks...aku tidak tahu lagi...hiks...ha.. harus pergi kemana...? Aku mohon..., to...tolong aku...hu...hu..hu.." ujar Cecilia.


"Apa yang terjadi ?" tanya Ajay.


Mau tidak mau Ajay pun balas memeluk Cecilia untuk menenangkannya.


Cukup lama Cecilia terisak dalam pelukan Ajay. Sejenak kemudian, dia melepas pelukannya dan mengusap air matanya.


Ajay menatap Cecilia, "Katakan...! Ada apa...?" tanya Ajay lembut.


Cecilia menatap tajam ke arah Ajay. "Ayah..., ayahku mengirim anak buahnya untuk membawaku pulang. Dia..., dia hendak menjodohkan aku kepada rekan kerjanya demi sebuah proyek bisnis..." ujar Cecilia menunduk.


Ajay diam. Tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, dia sangat prihatin dengan kondisi Cecilia. Tapi di sisi lain, dia tidak mampu berbuat apa-apa, karena dia tidak punya kewenangan untuk menahan Cecilia. Dia tidak berhak ikut campur urusan ayah dan anak tersebut.


"Jay..., aku mohon, tolong aku...?" Cecilia memohon.


Ajay mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu ?"


"Mereka berhasil menemukan apartemenku. Tapi, aku masih sempat kabur, aku mohon, untuk malam ini, izinkan aku menginap di sini. Besok aku akan cari tempat tinggal baru. Kalau malam ini aku tidur di hotel, aku takut mereka akan menemukanku. Aku mohon, bantu aku Jay...!" ujar Cecilia seraya mengatupkan kedua tangannya.


Waktu terus berlalu, Ajay sudah tak kuasa menahan kantuknya.


"Sudah malam...! Ayo, aku antar kamu ke kamar..!" ajaknya.


Cecilia mengangguk, kemudian mengikuti Ajay dari belakang. Tiba di kamar...


"Istirahatlah...! Jika kamu butuh sesuatu, aku ada di kamar depan." tunjuk Ajay pada sebuah kamar yang berukuran besar yang letaknya tepat bersebrangan dengan kamar Cecilia.


Cecilia mengangguk. Setelah itu Ajay pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Beberapa menit berlalu. Ajay mulai terlelap ke alam mimpinya. Tiba-tiba saja, dia bermimpi Kyara datang menghampirinya. Dia tersenyum sungguh manis sekali, "Kya..." gumamnya. Dia melihat Kyara mengangguk, mengangkat tangannya, menyentuh bibirnya kemudian mengecupnya. Sungguh sebuah kecupan yang terasa manis. Tangan mungil Kyara mulai membuka piyamanya satu persatu, menyentuh dadanya, kemudian mengecupnya. Hawa panas mulai terasa di dadanya Ajay, bibir itu menyentuh dadanya lembut, menyusuri nya hingga ke lehernya, dan berhenti di bibirnya.


Tiba-tiba Ajay merasakan bibirnya terhisap. Dia membuka matanya. Dan...


"Kau....! Hhupp....humpp...."


***


Sementara di tempat yang lain di waktu yang sama. Tampak seorang gadis yang mondar-mandir kesana kemari untuk mencari sesuatu.

__ADS_1


"Tadi kamu simpan di mana ?" tanya Anti.


"Aku pakai mbak, aku tidak pernah menaruhnya di manapun. Aku selalu memakainya." jawab Kyara.


"Kalau kamu pakai, tidak mungkin bisa hilang begitu saja..!" ujar Anti ketus.


Kyara masih terus mengobrak-abrik kamarnya, sehingga membuat Anti jengah melihatnya.


"Kya...! Cukup...! Ini sudah malam, kamu hanya akan membuat kegaduhan dengan sikapmu itu. Besok kita cari lagi, sekarang tidurlah !" perintah Anti.


Kyara menghentikan kegiatannya. Dia pun duduk terkulai di tepi ranjang. Anti yang melihat kecemasan di raut wajah Kyara, akhirnya merasa iba juga. Dia pun menghampiri Kyara.


Anti menepuk punggung tangan Kyara. "Sudahlah, besok aku bantu kamu untuk mencarinya."


Kyara diam. Hatinya benar-benar kacau. Entah kenapa, dia merasakan sesuatu yang besar sedang terjadi pada dirinya, namun dia tidak tahu, apa sesuatu itu ?


Tiba-tiba saja, air mata Kyara mengalir begitu saja. Dadanya terasa sangat sesak. Kyara memukul-mukul dadanya, berharap dengan seperti itu, dapat mengurangi sesaknya.


Anti paham dengan keadaan Kyara. Dia pun memeluknya. "Ssstt...., sudahlah...! Jangan menangis lagi, besok kita cari sama-sama." ujar Anti seraya mengusap-usap punggung Kyara untuk menenangkannya.


"Tapi...hiks... hiks..., i...itu cincin pertunangan...hiks Kya, mbak. Kya takut...hiks...hiks... jika ini pertanda buruk, entahlah..., firasat Kya mengatakan jika...hiks... jika sesuatu yang besar pasti akan terjadi. Ta... tapi, Kya tidak tahu apa...?" ujar Kyara dalam isak tangisnya.


"Sudahlah, itu cuma perasaanmu saja, Kya..! Tidak usah terlalu cemas." jawab Anti.


"Tapi mbak, orang bilang, jika cincin pertunangan hilang, itu artinya permasalahan besar sedang terjadi pada ikatan pertunangan itu." ujar Kyara semakin cemas.


"Dan kamu percaya...?" tanya Anti menyentil pelan kening Kyara.


Kyara diam sambil memegang keningnya yang terasa sakit.


"Ish, mbak ini...! Sakit...!" ucapnya mengusap-usap keningnya.


"Kamu pantas mendapatkan itu ! Untuk bisa menyadarkanmu dari hal bodoh seperti itu. Ayolah..., itu cuma mitos saja. Hilangnya cincin kamu, tidak ada hubungannya dengan permasalahan yang akan datang menghampiri kamu ! Itu semata-mata karena keteledoran kamu saja ! Sekarang, tidurlah...! Besok kita cari lagi, ya..!" ujar Anti sambil merebahkan tubuh Kyara dan menyelimutinya.


Kyara mengangguk. Tuhan...., lindungilah ikatan pertunangan ini...! Do'a Kyara dalam hati.


Bersambung...


Mohon maaf author baru bisa up, dikarenakan beberapa hari ini author memiliki kesibukan yang cukup padat.


Semoga masih pada suka ceritanya yaaa...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2