Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Menjemputnya...


__ADS_3

Assalamualaikum readers...


Author ucapkan ribuan terima kasih karena telah bersedia mendukung karya ini.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tanpa terasa sudah hampir 5 bulan Kyara menjalani pertunangan yang semakin terasa hambar. Tak ada kabar ataupun berita dari diri pribadi Ajay. Tak pernah ada komunikasi satu sama lain. Hanya eyang uti saja yang selalu menanyakan kabar kepada Kyara.


Terkadang Kyara ingin meminta nomor telpon Ajay kepada eyang uti. Namun dia tidak pernah punya keberanian untuk mengutarakan keinginannya. Hanya menunggu dan menunggu yang saat ini bisa dia lakukan.


Sementara itu di kota B. Pembangunan rumah yang akan dijadikan hadiah oleh tuan Mahesa kepada cucunya, telah mencapai finishing. Rumah megah berlantai 2, berdiri kokoh di sebelah rumah Bagas. Bagas penasaran tentang siapa yang akan menjadi penghuni rumah itu selain Ajay.


Hmmm..., seperti apa sosok yang akan menjadi istrinya Ajay, sampai-sampai eyang Mahesa membangun rumah yang begitu megah untuk mereka. Mungkin wanita itu keturunan ningrat, sehingga eyang Mahesa memperlakukannya dengan sangat spesial. Aah..., beruntung sekali kamu Jay...! Semoga kamu tidak akan pernah menyia-nyiakan kasih sayang eyang Mahesa, batin Bagas.


Di Singapore. Pasca operasi, kondisi tuan Damian semakin membaik. Masa kritis yang membuat beliau koma selama hampir 6 bulan, membuat Aaron benar-benar melupakan keberadaan Kyara.


Kondisi papa hanya tinggal pemulihan. Setelah papa keluar dari rumah sakit, aku akan meminta izin mama untuk kembali lagi ke Indonesia. Ah, aku sangat merindukan Kyara. Apa dia sudah sembuh sekarang ? Apa mentalnya baik-baik saja, setelah dia mengetahui tentang kepergian anaknya ? Semoga saja dia baik-baik saja. Aku yakin Bagas akan menjaganya dengan baik. Batin Aaron. "Sudah malam, sebaiknya besok pagi saja aku hubungi Bagas dan Kyara." gumam Aaron.


***


Keesokan harinya.


"Aini, apa kamu sudah menghubungi Kyara untuk segera datang kemari !" tanya tuan Mahesa kepada istrinya.


"Belum, suamiku." jawab nyonya Aini.


"Hubungi sekarang ! Agar dia bisa segera kemari. Jangan ditunda terlalu lama ! Aku ingin segera mengisi rumah itu dengan berbagai macam perabotan." perintah tuan Mahesa.


"Kenapa harus menunggu gadis itu sih, yah...? Kenapa kita nggak belanja sendiri saja, lagipula aku tahu selera anakku seperti apa ?" tukas nyonya Diana.


"Yang akan tinggal di rumah itu bukan hanya Ajay. Jadi, calon istrinya pun berhak untuk mengisi rumah itu dengan seleranya sendiri. Paham kamu !!" ujar tuan Mahesa.


"Terserah deh...!!" nyonya Diana berlalu pergi meninggalkan kedua mertuanya.


"Ya sudah, tidak usah ditanggapi. Aku telpon Kyara dulu, ya ?" ujar nyonya Aini.


Telpon tersambung.


"Assalamualaikum...!" ( Kyara )


"Waalaikumsalam...! Apa kabarmu, nak ?" ( nyonya Aini )


"Alhamdulillah, baik eyang." ( Kyara )


"Oh iya nak, apa kamu tidak sibuk ? Kalau kamu sedang tidak sibuk, besok kamu kemari ya..! Eyang akung punya kejutan untukmu, nak..!" ( nyonya Aini )


"Iya, baiklah eyang. Nanti Kya coba minta izin bu Hana dulu ya...?" ( Kyara )


"Ya sudah, eyang tunggu besok ya ! Assalamualaikum !" ( nyonya Aini )


"Waalaikumsalam.." ( Kyara )


Panggilan pun terputus.


"Bagaimana Aini ?" tanya tuan Mahesa.


"Iya, Insya Allah dia akan datang." jawab nyonya Aini.


"Syukurlah...!" tuan Mahesa tampak tersenyum senang mendengar kabar dari istrinya.


***


Sore harinya...


"Aku pulang...!" teriak Ajay memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum...!" sapa Bagas yang mengikuti Ajay dari belakang.


Hari ini Bagas mempunyai janji dengan tuan Ali untuk belajar tentang dunia bisnis. Bagaimanapun juga, ada perusahaan kecil yang ditinggalkan almarhum ayahnya untuk dikelola Bagas kelak. Semenjak ayah Bagas meninggal, perusahaan itu dikelola oleh tuan Ali. Namun, mengingat usia Bagas yang sudah menginjak 22 tahun, tuan Ali meminta Bagas untuk segera belajar tentang bisnis. Agar, jika Bagas telah lulus kuliah nanti, dia bisa segera memimpin perusahaannya.


Ajay menoleh ke belakang, "Ngapain lo kemari, Gas ?" tanya Ajay.


"Gue ada urusan sama om Ali." jawab Bagas.

__ADS_1


"Oh ya sudah, masuk yuk !" ajak Ajay sambil merangkul pundak Bagas.


"Ish, apaan sih lo Jay...! Iihh...geli gue..!" tukas Bagas sambil menurunkan tangan Ajay dari bahunya.


"Ha...ha...ha..., lo takut dibilang gay...? Makanya, cari cewek dong...! Betah amat jadi jomblo..!" ledek Ajay.


"Sialan lo..!" ujar Bagas seraya menjitak kepala Ajay.


"Eh..., cucu-cucu eyang sudah pulang...!" nyonya Aini menghampiri kedua pemuda yang telah dianggapnya sebagai cucunya.


Bagas Dan Ajay mencium tangan nyonya Aini dan tuan Mahesa.


"Jay..., besok eyang minta, kamu jemput calon istrimu di terminal kota B !" perintah tuan Mahesa.


"Malas ah, yang...! Besok Ajay ada acara..." jawab Ajay


"Kamu kenapa sih Jay...? Tiap kali diminta tolong sama eyang, selalu saja bikin alasan..!" tegur tuan Mahesa.


"Ya, eyang yang kenapa..? Selalu saja dibikin ribet, kan masih ada sopir, kenapa harus Ajay yang jemput !" tukas Ajay tak mau kalah.


"Kamu itu...!!" tuan Mahesa mulai geram.


"Maaf eyang, besok biar Bagas saja yang menjemput calon istrinya Ajay !" ujar Bagas menawarkan dirinya.


"Ah..., ya sudah kalau begitu, besok, kamu saja yang menjemputnya. Aini ! Tolong berikan nomor telpon cucu menantu kita kepada Bagas, ya..? Biar nanti mereka bisa saling komunikasi jika sudah sampai di terminal." perintah tuan Mahesa.


"Iya suamiku." jawab nyonya Aini. "Ini nak Bagas, silakan disimpan nomornya !" lanjut nyonya Aini menyerahkan ponselnya kepada Bagas.


Bagas pun menyalin nomor yang diberi id name "cucu menantu" di ponselnya nyonya Aini. Hmmm..., gue kasih id name apa ya...? Masak iya cucu menantu...he...he... mm, gue kasih id calon ipar aja deh...! batin Bagas seraya mengetikkan id name "calon ipar" di nomornya Kyara.


Setelah semua urusan selesai, Bagas pun segera menuju ruang kerja tuan Ali. Sedangkan Ajay, dia langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


***


Waktu berjalan begitu cepat.


"Jam berapa gue mesti jemput calon istri lo..?" tanya Bagas kepada Ajay.


"Terserah lo...!" jawab Ajay, ketus.


"Gue bukan hanya kurang senang, tapi nggak suka dan nggak ngarepin juga...! Gue pergi dulu Gas ! Ada janji sama teman." Ajay pun pergi meninggalkan Bagas di kamarnya.


Kenapa lagi tuh anak...? Sebenarnya apa yang terjadi antara dia dan eyang Mahesa. Terus, seperti apa calon istrinya Ajay, sampai Ajay pun tidak bisa menolak pilihan eyang Mahesa... batin Bagas.


"Nak Bagas, tadi cucu mantu eyang telpon, katanya dia sudah keluar tol. Sebaiknya kamu pergi sekarang untuk menjemputnya. Jangan sampai dia menunggu terlalu lama." ucapan nyonya Aini membuyarkan lamunan Bagas.


"Iya eyang, Bagas pergi sekarang, assalamualaikum...!" kata Bagas seraya mencium tangan nyonya Aini.


"Waalaikumsalam.." jawab nyonya Aini.


***


Di Singapore, Aaron masih terus berusaha menghubungi Kyara, tapi jawabannya masih tetap sama. Kenapa nomor Kyara tidak aktif..? batinnya. Kemudian dia menghubungi nomor Bagas.


Ponsel Bagas berbunyi. Bagas meraih ponselnya yang tergeletak di atas dashboard, "Aaron" gumamnya. Dia pun meletakkan kembali ponselnya.


Ya..! Bagas tak berniat untuk mengangkat telpon dari Aaron. Bukan karena tidak mau, tapi karena dia tidak tahu alasan apa yang harus dia katakan jika Aaron menanyakan tentang Kyara. Selama ini Bagas belum berhasil menemukan Kyara. Karena itu, dia selalu menghindari telpon dari Aaron.


Bus yang ditumpangi Kyara tiba di terminal bertepatan dengan kumandang azan dzuhur. Setelah turun dari bus, Kyara segera menuju masjid terminal untuk melaksanakan solat dzuhur.


Begitu pun dengan Bagas. Dia segera singgah di masjid yang sama, saat mendengar azan dzuhur berkumandang. Lebih baik aku solat dulu sebelum mencari keberadaan calon ipar, batin Bagas.


Selang beberapa menit, Kyara keluar dari masjid. Sejenak dia duduk di teras masjid untuk melepaskan lelahnya. Kyara merogoh ponselnya dari dalam tas. Kemudian mengetikkan pesan kepada nyonya Aini. Dia memberitahukan nyonya Aini jika dirinya sudah sampai di terminal.


Sambil menunggu jawaban pesannya, Kyara menyenderkan tubuhnya ke dinding masjid, dia mulai memejamkan matanya. Tanpa dia sadari, seseorang sedang memperhatikannya dari arah samping kanan.


Ya..! Bagas sedang mengikat tali sepatunya saat gadis itu duduk tak seberapa jauh dari sampingnya. Bagas memperhatikan gadis itu dengan seksama. Tidak salah lagi, dia Kyara...! Gadis yang selama ini aku cari ..! batinnya. Bagas pun menghampirinya saat gadis itu sedang memejamkan matanya.


"Nona...!" sapa Bagas.


Kyara mengerjapkan matanya saat mendengar suara seseorang di hadapannya.


Deg....!

__ADS_1


Kyara terkejut, mendapati orang yang memanggilnya adalah Bagas.


"Kak Bagas.." gumamnya.


Kyara segera berdiri, berusaha pergi untuk menghindari Bagas. Tapi Bagas tidak tinggal diam. Dia segera mencekal lengan Kyara.


"Sudah cukup main kucing-kucingannya, nona !" seru Bagas dengan nada yang sangat dingin.


Bagas menarik tangan Kyara. Dengan langkah tegapnya, dia membawa Kyara pergi. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Satu yang pasti, Bagas ingin segera membawa gadis itu untuk meminta penjelasan atas kepergiannya dulu.


Tiba di parkiran masjid, Bagas segera membuka pintu mobilnya. "Masuk !" perintahnya dengan nada suara yang masih terdengar dingin.


Kyara tidak punya keberanian untuk melawan. Bagaimanapun, dia memiliki kesalahan yang cukup fatal terhadap Bagas. Tanpa banyak bicara, Kyara masuk ke dalam mobil.


Brakk...!!


Bagas menutup pintu mobilnya dengan sangat keras. Tiba-tiba saja amarah dan kekesalannya memuncak saat teringat perbuatan Kyara, dulu.


Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Bagas menjalankan mobilnya ke suatu tempat. Danau Tirta ! Ya, hanya tempat itulah yang selalu dijadikan tempat untuk melepas semua penat, gelisah dan kekacauan yang dia rasakan.


"Turun !" perintah Bagas, saat mereka tiba di Danau Tirta.


Tanpa banyak bertanya, Kyara turun dari mobil Bagas. Dia kemudian mengikuti laki-laki itu yang telah turun mendahului Kyara.


Bagas berjalan ke tepi danau. Dia pun duduk di salah satu kursi yang berjejer di tepi danau. Bagas menengadahkan wajahnya seraya memejamkan matanya. Sungguh dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Semua rasa bercampur menjadi satu dalam hatinya.


Kyara menghampiri Bagas. Dia berdiri di belakang kursi yang diduduki oleh Bagas. "Ma..maaf..!" ujarnya, lirih.


Bagas membuka matanya, mendapati wajah Kyara yang begitu teduh dipandangnya. Kembali ada gelanyar aneh merasuki hati Bagas.


"Apa kau tahu, aku hampir gila mencarimu ?" tanya Bagas, datar.


Kyara menundukkan kepalanya. Dia semakin merasa bersalah.


"Apa kau tahu, berapa banyak kebohongan yang aku katakan pada Aaron ?!" teriak Bagas.


Bagas tak bisa lagi mengontrol emosinya. Tanpa sadar, dia pun berbicara dengan nada yang cukup keras.


Kyara semakin tertunduk, "A...aku..minta maaf..." ujar Kyara yang mulai menitikkan air matanya.


Drrt... drrt...


Ponsel Bagas bergetar. Dia sedikit menjauh dari Kyara


"Assalamualaikum..!" ( Bagas )


"Waalaikumsalam...! Apa kau sudah bertemu dengannya, nak ?" ( nyonya Aini )


Astaghfirullah...! Aku lupa, aku harus segera menjemput calon iparku..!


"Belum eyang, Bagas baru selesai solat." ( Bagas )


"Ya sudah ! Coba kamu hubungi dia ! Eyang tunggu, ya !" ( nyonya Aini )


Sambungan pun terputus.


Bagas menekan nomor id name "calon ipar"


Drrtt...drrtt...


Ponsel Kyara bergetar.


Bagas menoleh ke arah Kyara. Jangan-jangan...? Tapi.., tidak mungkin...! batin Bagas.


Kyara merogoh ponselnya dari dalam tas. Nomor yang tidak dikenal, tapi siapa ? Ah, jangan-jangan ini orang yang diperintahkan eyang untuk menjemputku..., batin Kyara. "Hallo..! Assalamualaikum..!" sapa Kyara menjawab telpon dari nomor yang tak dikenalnya.


Seketika, tubuh Bagas terasa lemas mendengar suara orang yang dihubunginya.


Bersambung....


Alhamdulillah..., bisa up lagi ya...


Jangan lupa like vote n komennya...

__ADS_1


Terima kasih...πŸ™πŸ€—


__ADS_2