Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Alasan Kemarahan Bima


__ADS_3

"Jangan berbelit-belit, Gas ! Katakan !"


Ajay mulai tak sabar untuk mendengar alasan kenapa Bima bisa berubah menjadi seseorang yang sangat kasar.


Sebelumnya, Bima adalah sosok yang sangat baik. Dia tidak pernah berulah, sehingga selalu menjadi kebanggaan ayahnya.


Ya, meski hubungannya kurang baik dengan nyonya Diana, karena Bima selalu menolak keinginan nyonya Diana yang selalu bertolak belakang dengan kata hatinya, tapi Bima sangat menghormati ibunya. Sedikit pun dia tidak pernah berbicara kasar kepada nyonya Diana. Tapi sekarang..., ish...! Ada apa dengan anak ini...? Batin nyonya Diana.


Bagas menghela napasnya.


"Seminggu yang lalu, Bima meminta saya untuk menemui Kyara di kampung halamannya. Dia..."


"Ish...! Ngapain kamu nemui gadis kampung itu !"


"Cukup nyonya.. ! Jangan hina kakakku lagi !"


Belum selesai Bagas berbicara, nyonya Diana menyelak pembicaraan Bagas, membuat Bima kembali lagi terpancing emosi.


Semua orang terperanjat mendengar ucapan Bagas. Dia tidak pernah menyangka jika Bima akan melakukan hal itu.


"Mohon dengarkan dulu penjelasan Bagas, tante ! Agar kalian tidak salah paham lagi dengan perbuatan Bima hari ini !" pinta Bagas.


"Mamih diamlah dulu ! Kita dengarkan penjelasan Bagas !"


Entah kenapa Ajay merasa tertarik untuk menyimak ketika nama Kyara disebutkan. Sedangkan Cecilia, dia tampak jengah karena harus mendengar nama orang yang dicemburuinya setiap malam, harus kembali disebutkan di rumah ini.


"Lanjutkan, Gas ! Apa kalian bertemu dengannya ? Apa kalian bertemu orang tuanya ? Apa kalian sampaikan alasan putusnya hubungan pertunangannya ? Apa kalian sampaikan permintaan maaf dari keluarga besar Sanjaya ?" gumam tuan Ali, merasa sangat bersalah ketika mengingat nama Kyara disebutkan kembali.


"Apa...!! Apa Bima tidak salah dengar ? Apa papih tidak salah bicara ! Kenapa harus Bima dan kak Bagas yang harus meminta maaf karena keegoisan kalian ! Apa kalian tidak berpikir dengan nama baik mereka ! Kenapa kalian tidak mengembalikan kak Kyara secara baik-baik ! Apa kalian tahu ? Hidupnya menderita karena rasa gengsi kalian ! Kalian benar-benar kejam ! Dulu kalian meminta dia secara baik-baik untuk menjadi istri dari putra kalian, tapi sekarang, di saat hubungan mereka berakhir, kenapa kalian tidak mengembalikan dia secara baik-baik kepada orang tuanya ! Kenapa !!" teriak Bima penuh emosi.


"Bima tanya, apa sikap orang tua seperti itu yang harus Bima hormati ! Orang tua yang egois dan sangat pengecut untuk mengakui kesalahan anaknya dan meminta maaf pada mereka ! Kenapa hanya derajat saja yang selalu kalian pandang ! Apa karena derajat kak Kya berbeda, sehingga kalian pantas merendahkannya !"


"Dan kamu...!"


Dengan penuh emosi, Bima mengarahkan telunjuknya ke arah Ajay.


"Karena kebodohan dan rasa pengecutmu yang selalu mengikuti keinginan mamih, tanpa sadar kamu telah mengambil seseorang yang sangat berharga untuk kak Kyara ! Kamu benar-benar kejam ! Brengsek..!!"


"Apa maksud kamu Bima ! Kenapa kamu selalu menyalahkan kakakmu !"

__ADS_1


Nyonya Diana masih membela putra sulungnya.


"KARENA DIA BERSALAH !" Bima berteriak keras.


"Dia bersalah, mih.. ! Kebodohan dia yang mengikuti keinginan mamih untuk menayangkan acara pertunangannya di televisi telah merenggut nyawa ayahnya kak Kya !" gumam Bima lirih.


Ajay segera menyambar kerah baju adiknya.


"Apa maksud kamu ? Apa yang terjadi dengan pak Ahmad ?" teriak Ajay.


Bukannya menjawab, Bima malah jatuh terduduk karena sudah tidak mampu lagi menahan emosi dan kemarahannya.


"Lepaskan tangan kotormu, brengsek !" ujarnya seraya menepiskan tangan kakaknya.


Bagas segera menghampiri mereka berdua.


"Cukup Jay ! Lepaskan dia ! Kau telah dengar apa yang ingin Bima sampaikan, jadi tolong lepaskan dia !"


"Diam.. ! Bocah ini harus menjelaskan apa yang terjadi pada pak Ahmad !"


"Beliau meninggal ! Beliau meninggal tanpa mengetahui alasan gagalnya pertunangan kalian. Beliau meninggal sesaat setelah menyaksikan pertunanganmu dan gadis itu di televisi ! Beliau meninggal tanpa sempat melihat istri dan anaknya lagi ! Apa itu sudah cukup, Jay ! Sekarang, lepaskan tanganmu !" ujar Bagas mulai terpancing emosi.


Tuan Ali tampak terkejut mendengar kabar meninggalnya pak Ahmad. Kepalanya terasa berat, hingga dia kembali terduduk lemas di kursinya.


Sedangkan nyonya Diana dan menantunya Cecilia, mereka hanya diam. Sedikit pun, tak nampak guratan kesedihan di wajah mereka. Tiba-tiba, Ajay segera bangkit dan hendak berlari.


"Sayang, kau mau kemana...?" tanya Cecilia, heran.


"Maaf Cecil, aku...aku harus segera menemui Kyara. Aku harus menjelaskan semuanya pada bu Ratna.


"Tapi, sayang...!"


Tiba-tiba...


"Bhua...ha...ha...ha...!!


Bima tertawa dengan sangat kerasnya, membuat semua orang kembali memperhatikannya.


"Rupanya ada yang mau menjadi pahlawan kesiangan...!!" ujarnya sinis.

__ADS_1


Ajay tak menghiraukan perkataan Bima, dia terus berlari kecil ke rumahnya untuk mengambil mobilnya.


"Percuma Jay ! Kau tidak akan menemukan Kyara di sana !"


Tiba-tiba teriakan Bagas mampu menghentikan langkah Ajay.


"A... apa maksudmu Gas ?" tanya tuan Ali.


"Kyara sudah tidak tinggal di sana lagi, om. Karena tidak tahan harus mendengar gunjingan dan cemoohan orang, akhirnya ibunya Kyara memutuskan untuk menjual rumahnya dan membawa Kyara pergi. Kami sudah berkeliling untuk mencari tahu keberadaan Kyara. Tapi tak satu pun dari mereka, yang mengetahui kemana Kyara dan ibunya pergi." jawab Bagas.


Rasa terkejut kembali menghampiri tuan Ali. Dia benar-benar tidak pernah menyangka akan nasib Kyara. Setelah cukup lama terpaku, akhirnya tuan Ali masuk ke dalam rumahnya. Dia segera menuju ruang kerjanya.


Setelah kepergian tuan Ali, Bima pergi ke kamarnya. Tiba di kamarnya, dia segera mengemasi barang-barangnya. Setelah semua ini, Bima memutuskan untuk tinggal bersama eyang utinya. Bima tidak ingin tinggal lagi di lingkungan orang-orang yang tidak pernah memiliki hati. Ketika dirasa semuanya sudah beres. Bima kembali ke bawah.


"Mau kemana kamu, Bima ?" tanya nyonya Diana.


"Bukan urusanmu !"


Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Bima. Dia pun menuju garasi rumahnya. Dengan mengendarai mobilnya, dia pergi begitu saja tanpa berpamitan.


Bagas yang sangat memahami perasaan Bima, tak berniat untuk menghentikannya. Bagas tahu kemana Bima akan pergi. Dia membiarkan Bima pergi untuk memberikan waktu dan ruang, agar Bima bisa menenangkan dirinya.


Sedangkan Ajay, dia kembali ke rumahnya tanpa menghiraukan istri dan ibunya. Perasaannya benar-benar kacau, pada akhirnya, dia hanya mampu mengurung diri di kamar tamunya. Sebuah kamar yang selalu dikuncinya, karena terpampang foto Kyara saat bersamanya di pantai dulu, dengan ukuran yang sangat besar. Dengan berderai air mata, Ajay menatap foto itu tanpa mampu berucap...


***


Hari yang dinantikan Bagas, akhirnya tiba. Bagas terlihat tampan menggunakan setelan jas berwarna abu tua dan berbalutkan pakaian wisuda, duduk bersama para wisudawan lainnya.


Proses acara wisuda berjalan dengan lancar. Bagas terpilih menjadi mahasiswa terbaik dengan nilai IPK tertinggi di antara mahasiswa lainnya.


Alhamdulillah..., ayah...! Ibu...! Akhirnya Bagas bisa menjadi seorang sarjana, sesuai dengan keinginan kalian ! Bagas janji, Bagas akan memanfaatkan ilmu ini dengan sebaik-baiknya. Bagas akan membuat sesuatu yang bermanfaat dengan ilmu yang Bagas miliki sekarang....


"KEJUTAN...!!"


Bersambung...


Terima kasih untuk yang telah memberikan kritik dan sarannya.


Semoga ke depannya author bisa membuat karya yang lebih bisa memuaskan keinginan para readers semua..

__ADS_1


Terima kasih untuk semua readers yang telah memberikan like vote n komennya 🙏🤗🤗


__ADS_2