
Waktu terus berlalu. Namun Kyara masih belum bisa melepaskan dukanya. Mengurung diri dan memandangi foto ayahnya, menjadi kegiatan yang seolah difavoritkannya.
Saat dia memandang lembut foto sang ayah, saat itu pula kemarahannya terhadap Ajay kembali membuncah. Ada rasa sesal di dalam hatinya.
Seandainya aku tidak pernah bertemu dengan Ajay, mungkin ayah masih hidup sampai detik ini. Maafkan Aneng, yah...! Aneng sudah sangat mengecewakan ayah...! Aneng tidak pernah bisa membahagiakan ayah...! Hanya itu yang selalu Kyara ucapkan dalam hatinya.
Aku membencimu Ajay...! Sampai aku mati pun, aku akan selalu membencimu...! Aku berdo'a agar bayanganku tak akan pernah lepas darimu, hingga apa pun yang kau lakukan, akan selalu membuatmu tersiksa karena mengingatku...!! Rutuk Kyara dalam hatinya.
Pada akhirnya, Kyara akan kembali berderai air mata ketika dia merutuki semua kejadian yang pernah menghampiri hidupnya. Kyara selalu menyalahkan dirinya atas kematian ayahnya.
"Sudahlah, nak...! Tidak ada gunanya kamu menyesali semua yang telah terjadi. Semua perasaan sesalmu, tidak akan pernah mengembalikan ayahmu ke sisi kita. Lagipula, ayahmu pasti bersedih ketika melihat putrinya terus bersikap seperti ini ! Mau sampai kapan kamu mengurung diri terus ?"
"Tapi bu...! Semua ini gara-gara Aneng ! Seandainya dulu Aneng tidak pernah berhubungan dengan laki-laki itu. Seandainya dulu Aneng mendengarkan pendapat ayah tentang pemuda kota, semua ini pasti tidak akan terjadi. Ayah pasti tidak akan neninggal karena serangan jantung ! Aneng emang bodoh bu ! Aneng emang anak durhaka !"
Kembali tubuh Kyara berguncang hebat karena tangis penuh emosi.
"Ssstt....! Sudahlah, nak !"
Bu Ratna menarik tubuh anaknya dan menenggelamkannya ke dalam pelukannya.
"Semua ini sudah takdir dari Gusti Allah. Sekuat apa pun kita berusaha untuk menghindarinya, kita tidak akan mampu, nak...! Qada dan qadar, hanya milik Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa menerimanya, berusaha dengan ikhlas untuk menerima qada dan qadar yang diberikan Allah kepada kita, itu merupakan jalan untuk membuat hati kita tenang. Ikhlaskan semua kejadian pahit yang pernah terjadi di hidupmu ! Ambil hikmahnya ! Dan jadikan semuanya pelajaran, jadikan semuanya sebagai cermin agar kamu tidak pernah mengulanginya lagi di masa yang akan datang !"
"Aneng, nggak bisa bu...!"
"Insyaallah kamu bisa, nak ! Kamu pasti bisa !"
"Se... setiap kali Aneng ingat ayah, Aneng juga teringat Ajay. Aneng membencinya bu..! Aneng sangat membencinya...!"
Bu Ratna semakin erat memeluk putrinya.
"Apa kau tahu nak, kenapa kau tidak pernah mengikhlaskan kepergian ayahmu ?"
Kyara menggelengkan kepalanya. Bu Ratna kemudian melepaskan pelukannya. Dia kembali menegakkan tubuh anaknya, memegang dagunya agar anaknya bisa menatapnya.
"Itu karena kamu masih memiliki kebencian di hatimu. Semakin kau membencinya, maka semakin nyata kau mengingatnya. Mengingat semua kenangan bersamanya, mengingat semua keburukan dan pengkhianatannya. Saat itu, hatimu akan selalu merasa tidak pernah ikhlas pada takdirmu. Lepaskanlah, neng ! Lepaskan kebencianmu ! Buang masa lalumu ! Jangan terus menengok ke belakang, tapi kamu harus bisa melihat ke depan untuk menata kembali kehidupanmu. Jadikanlah masa lalumu, sebagai pondasi yang kuat untuk menciptakan masa depan yang lebih baik ! Setelah kau bisa melepaskan kebencian di hatimu, ibu yakin, kau pasti bisa mengikhlaskan kepergian ayahmu."
Kyara hanya mampu menangis kembali saat mendengar nasihat ibunya.
Tiba-tiba...,
__ADS_1
Tok....tok...tok...
"Punten....! Assalamualaikum...!!"
Seseorang mengucap salam di depan pintu rumah Kyara.
"Kya...! Kya....! Assalamualaikum...!"panggilnya kembali.
"Ada tamu, ibu ke depan dulu, ya.. !"
Kyara mengangguk.
"Waalaikumsalam...! Antos sakedap...!" jawab bu Ratna. ( Waalaikumsalam...! Tunggu sebentar ! )
Bu Ratna segera membuka pintu.
"Eh..., neng Anti ! Ayo masuk, nak !" bu Ratna mempersilakan Anti masuk.
"Iya, makasih bu ! Kya nya ada bu ?" tanya Anti.
"Ada. Sebentar, ibu panggilkan, kamu duduklah dulu, nak !" ujar bu Ratna.
Tak lama kemudian, Kyara muncul di ruang tamu. Ketika melihat Anti, sahabat yang sudah dianggapnya kakak, Kyara segera menghambur ke arahnya dan memeluk Anti dengan erat. Kembali dia menangis dalam pelukan sahabatnya.
Bu Ratna yang memahami hubungan mereka, akhirnya pergi meninggalkan mereka di ruang tamu.
"Ssst...! Tenanglah, Kya...! Semuanya akan baik-baik saja...!" hibur Anti seraya mengusap-usap punggung Kyara.
"Maafkan aku, karena baru sempat datang. Aku turut berduka atas kepergian ayahmu. Semoga beliau mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT."
Tangisan Kyara semakin pecah tat kala teringat kembali tentang kematian ayahnya.
"Semua ini salah Kya, mbak ! Kalau saja Kya tidak mengenal Ajay, ayah pasti masih hidup..! Kya bener-bener bodoh, mbak ! Kya lebih memilih laki-laki itu dibandingkan dengan nasihat ayah. Kya nyesel, mbak !"
Kembali Kyara terisak dipelukan Anti.
"Hei..., tidak ada yang perlu disalahkan dari setiap takdir yang menghampiri kita. Kamu harus ingat, Kya ! Jodoh, Kematian, Kebahagiaan, Musibah, semua itu, Allah yang menentukan. Kita sebagai manusia, hanya mampu menjalaninya, dan berusaha ikhlas untuk menerimanya. Tidak ada seorang pun yang bisa melawan takdir, sekali pun para ulama ! Ingat itu, Kya !"
"Tapi, mbak...! Kya nggak rela ayah harus pergi dengan cara seperti ini ! Seandainya ayah tidak mendengar berita pertunangan Ajay, ayah pasti akan baik-baik saja. Kenapa harus ayah yang menjadi korban dari keegoisan laki-laki brengsek itu ? Kya membencinya, mbak ! Kya sangat membencinya !" ujar Kyara berapi-api.
__ADS_1
"Inilah kesalahan manusia yang tak pernah disadarinya !" ujar Anti.
Kyara mengerutkan dahinya. "Maksud, mbak ?" tanyanya tak mengerti.
"Selama kamu memelihara kebencian di sini." ujar Anti seraya menunjuk dada Kyara. "Kamu tidak akan pernah terlepas dari masa lalu, dan pada akhirnya, kamu tidak akan pernah merasa ikhlas dengan takdirmu." lanjutnya.
"Ish, kenapa omongan mbak Anti, sama dengan omongan ibu ?" ujar Kyara seraya mengerucutkan bibirnya.
"Karena kebencian itu bisikan setan. Dia terus membisiki hati manusia agar terus memelihara kebencian, sehingga nantinya, kebencian itu akan menyesatkan kepercayaan manusia terhadap rukun iman yang terakhir. Iman pada qada dan qadar. Semakin kita memiliki kebencian, maka semakin kuat kita akan menyangkal qada dan qadar yang ditetapkan Allah untuk kita."
"Apa yang harus Kya lakukan, mbak ? Kya tidak pernah bisa melupakan laki-laki itu."
"Bukan tidak pernah, tapi belum bisa ! Ayo...!" ujar Anti seraya menarik Kyara ke kamarnya.
Meskipun tidak mengerti, tapi Kyara mengikuti ajakan Anti. Tiba di kamarnya.
"Sekarang, kamu kumpulkan semua barang yang pernah Ajay dan keluarganya berikan untuk kamu !"
"Untuk apa ?"
"Sudah, ikuti saja ! Bukankah kau ingin tahu cara melepaskan kebencianmu ?"
Kyara mengangguk, kemudian dia mengikuti perintah Anti. Kyara mulai mengumpulkan satu persatu barang-barang yang pernah diberikan oleh Ajay saat mereka masih sekolah. Mulai dari boneka Teddy bear love, kalung perak berliontinkan jantung hati, gelang yang berukir nama Ajay, cincin yang berinisial nama dirinya dan Ajay, dan beberapa kaos couple yang pernah dibelinya saat mereka melakukan studi tour ke Jogja.
Kyara juga mulai mengumpulkan barang-barang yang diberikan keluarga Ajay saat melamarnya, termasuk cincin tunangannya dan ponsel yang diberikan eyang uti. Kyara lupa, jika ponsel yang dipegangnya saat ini, itu adalah ponsel yang diberikan Bagas untuknya.
Setelah semuanya terkumpul, Anti membantu Kyara memasukkan barang-barang itu ke dalam dus besar. Dia pun menyuruh Kyara untuk berganti pakaian dan sedikit memoles wajahnya dengan bedak. Sementara itu, Anti membawa dus itu ke ruang tamu.
Sambil menunggu Kyara yang tengah berganti pakaian, Anti menemui bu Ratna untuk meminta izin karena hendak mengajak Kyara ke suatu tempat.
Bu Ratna tersenyum dan mengizinkan Anti. Dia bersyukur, Kyara memiliki teman yang sangat peduli padanya. Bahkan, bu Ratna bisa melihat kalau hubungan mereka tidak hanya sebatas teman, tapi juga sudah seperti saudara kandung. Anti seorang gadis yatim piatu, karena itu bu Ratna pun telah menganggap Anti sebagai putrinya sendiri.
"Aku sudah siap, mbak !"
Bersambung...
Terima kasih telah mendukung karya ini...
Jangan lupa untuk terus memberikan like, vote n komennya 🙏🤗
__ADS_1