
Ini episode ketiga untuk hari ini ya readers...
Semoga bisa segera di up....
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Sesuatu terjadi pada Kya...! Ayo, cepat Gas...!" Aaron melemparkan kunci mobilnya ke arah Bagas, kemudian menyambar jaket yang tergantung. Begitu pula dengan Bagas. Mereka pun segera pergi...
Dalam perjalanan...
"Ting" sebuah notifikasi WhatsApp masuk ke ponselnya. Aaron membuka dan membacanya. "Tuan, jika sudah sampai, tolong jangan parkir di depan gerbang. Hubungi saya jika tuan sudah sampai di rumah sebelum tempat kost." (Sisil)
"Kenapa?" (Aaron)
"Tolonglah jangan banyak bertanya, cepatlah datang..!" (Sisil)
"Shit..! Dia pikir, dia siapa ? Beraninya nyuruh-nyuruh gue..!" bentak Aaron, melemparkan ponselnya ke atas dashboard.
Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Aaron. "Kenapa ?"
"Gadis itu menyuruh kita untuk menghubunginya nanti jika sudah sampai di rumah sebelum tempat kost Kyara." kata Aaron.
"Oh.."
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di depan rumah yang dimaksud Sisil.
Aaron mengambil ponselnya untuk menghubungi Sisil. "Hallo...., nona..., aku sudah sampai di depan rumah yang kau maksud.." (Aaron)
"Baiklah, sekarang, tuan terus lurus ke depan, sampai melewati tempat kost-an. Setelah itu, tuan belok ke sebelah kiri. Setelah dua rumah dari depan, ada gang kecil. Saya tunggu tuan di gang itu. Cepatlah..!" Sisil kemudian mematikan sambungan telponnya.
"Ish... bener-bener ya, nih cewek...! Lanjut Gas...! Depan, belok kiri...!" perintah Aaron.
Bagas kembali melajukan mobilnya. Setelah belok kiri...
"Satu....dua....itu dia ! Stop...!!"
"Ciiiittt" Bagas menginjak rem secara spontan.
"Astaghfirullah....lo ini ! Bilang dong kalau mau berhenti...!" kata Aaron sewot, karena hampir saja kepalanya mencium dashboard...
"Lagian lo.... ngasih instruksinya ngedadak !" Bagas tak kalah sewot...
Aaron membuka pintu mobil. Tampak Sisil sedang menunggunya di ujung depan gang. Aaron menghampirinya.
__ADS_1
"Ah, syukurlah tuan sudah sampai. Ayo...!" Sisil menarik tangan Aaron. Mereka berjalan beriringan menyusuri gang sempit itu. Setelah mengunci mobilnya, Bagas mengikuti mereka dari belakang.
"Masih jauh...?" tanya Aaron.
"Ssst... jangan berisik !" mereka terus berjalan dalam keheningan. "Ayo cepat, kemarilah...!" Sisil berbicara setengah berbisik ketika telah sampai di pintu belakang kamar kost Kyara. Aaron dan Bagas mengikutinya. Sisil membuka pintu dapur, dan mengajak kedua pria tampan itu untuk masuk.
"Ya Tuhan.... darah !" pekik Aaron begitu tiba di ruang tengah.
"Sssstt.... tenanglah !" ujar Sisil. " Ayo !" kembali Sisil menarik tangan Aaron menuju kamar Kyara. Setibanya di sana, tampak Kyara masih tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Ya Tuhan... Kya..!!" segera Aaron menghampiri Kyara.
"Ayo tuan, kita bawa ke rumah sakit...!" ajak Sisil.
"Ayo..!" Aaron segera mengangkat tubuh Kyara.
"Tunggu...!" Bagas mencegahnya.
"Kenapa Gas ? Kita nggak punya waktu lagi ! Lo nggak lihat, Kyara sudah pucat kayak gini...!" ujar Aaron.
"Lo gila ya..., mau bawa gadis yang hanya pakai bathrobe...! Nona, tolong ganti pakaiannya. Kami akan tunggu di luar. Dan lo..., turunkan cewek lo di atas kasur !" perintah Bagas tegas.
Aaron menuruti permintaan Bagas. Dia meletakkan kyara di atas kasur. Setelah itu mereka keluar untuk menunggunya di ruang tengah. Aaron bergidik, melihat darah berceceran di lantai. Apa yang terjadi, Kya.. batinnya.
Sepuluh menit berlalu, Aaron tampak semakin cemas, ah...kenapa dia lama sekali... Aaron tampak berjalan mondar-mandir, sedangkan Bagas, dia sudah kembali ke mobil dan menunggunya di sana.
Setelah agak bersih, Sisil segera keluar kamar, "Ayo tuan, kita bawa Kyara ke rumah sakit !"
Aaron segera masuk ke kamar, kemudian mengangkat tubuh Kyara dan membawanya pergi. Sisil mengunci seluruh pintu kamar kost Kyara. Setelah itu, dia pergi mengikuti Aaron dari belakang.
Tiba di jalan, Bagas segera membuka pintu belakang mobil. Pelan-pelan, Aaron masuk sambil tetap menggendong Kyara. Kemudian Bagas membuka pintu depan, Sisil pun masuk. Lepas itu, mereka pergi menuju rumah sakit.
"Apa yang terjadi ?" tanya Bagas, dingin.
"A...aku tidak tahu, tuan. Tiba-tiba kyara menelponku, dia hanya bilang : "Sil...tolong..sakit.." setelah itu, aku tidak mendengar apa-apa lagi. Lalu aku cek ke kamar kostnya, tiba di sana, aku sudah melihat Kyara tergeletak di lantai dengan bersimbah darah di sekitar kakinya. Aku juga melihat ada ceceran darah di depan pintu kamar mandi sampai kamarnya Kyara."
"Kau tidak menjaganya ! Bukankah aku pernah bilang untuk selalu menjaganya !" bentak Aaron.
"Hey tuan ! Kau pikir aku baby sitternya ! Yang setiap saat harus jagain dia !" Sisil tak kalah berteriak, merasa tidak terima dengan bentakan Aaron.
"Kamu...!! Shit...! Teman seperti apa kamu...!"
"Dengar tuan, asal kau tahu...." belum sempat Sisil menyelesaikan ucapannya...
__ADS_1
"DIAM...!! Pertengkaran kalian membuat konsentrasiku terganggu ! Kalian mau, kita celaka..!!" bentak Bagas, mengakhiri perdebatan Aaron dan Sisil.
"Maaf...! Sorry...!" jawab Sisil dan Aaron berbarengan.
"Ar... hubungi mbak Risa. Cepat...!" perintah Bagas.
"Ups ! Iya, gue sampai lupa...!" Aaron merogoh saku jaketnya dengan tangan kiri. Sementara, tangan kanannya masih menyangga kepala Kyara.
Tut...tut...tut..." telpon tersambung, namun belum ada jawaban. Aaron tampak putus asa, dia kembali menekan nomor kontak dokter Risa. Tetap saja...masih belum terdengar jawaban. "Nggak diangkat Gas..." kata Aaron.
"Voice note saja Ar...!" perintah Bagas.
"Mbak, ini Aaron. Sesuatu terjadi pada Kyara. Aku mohon, mbak cepatlah datang ke rumah sakit ! Aku sama Bagas sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit sekarang. Cepatlah ya mbak, Ar mohon....."
(Ting...pesan terkirim)
"Ayo cepetan Gas....! Darahnya makin banyak...!" teriak Aaron yang merasa panik melihat darah semakin banyak di celana piyama yang dikenakan Kyara.
"Apa...! Ra... bertahanlah....gue mohon...!" teriak Sisil tak kalah panik sambil menengok ke belakang. Wajah Kyara tampak semakin pucat. Bibirnya membiru...
Kepanikan di dalam mobil semakin menjadi saat Aaron merasa denyut nadi Kyara mulai tak ia rasakan. "Ya Tuhan.... cepatlah Gas.... denyut nadinya hilang...!"
"Astaghfirullah hal adzim.... bagaimana ini...? Gue mohon Ra.... jangan mati dulu..., siapa yang bakalan nemenin gue ngopi ntar Ra....jangan mati Ra...!" Sisil mulai meracau membuat Aaron mendelikkan matanya.
"Lo nyumpahin Kya meninggal..!" bentak Aaron.
"Tidak...gue..gue cuma..."
"Cukup ! Kalian, diamlah...!"
Bagas terlihat kacau, dia berusaha untuk berkonsentrasi. Bagas menambah kecepatan laju mobilnya. Bertahanlah....! Aku tidak akan membiarkan kau pergi begitu saja...! Tidak Secepat ini...! Bertahanlah....aku mohon... kata Bagas dalam hati.
Mobil terus melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. setelah satu jam dalam kepanikan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit.....
bersambung....
Alhamdulillah....seperti janji author... tiga episode ya readers....
Semoga masih suka ceritanya...
Terima kasih untuk like,vote n komennya...
πππ
__ADS_1