
Assalamualaikum readers....
Hari ini author coba up kembali yaaa...
Semoga masih suka ceritanya...ππ
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Aaron mendorong kursi roda Bagas menuju ruang ICU, Sisil mengikutinya dari belakang dengan segudang pertanyaan di kepalanya. Tiba di depan ruang ICU, dari balik kaca jendela, mereka melihat Kyara yang tengah terbaring lemah tak berdaya.
"Tu...tuan...mm... bolehkah saya bertanya ?" tanya Sisil, ragu.
Bagas menoleh, kemudian mengangguk.
"Janin...! Tadi dokter menyebutkan janin. Apa... apa Kyara sedang mengandung ?"
Bagas melihat ke arah Aaron. Aaron pun mengangguk, pertanda dia setuju dengan apa yang akan dikatakan Bagas untuk menjawab pertanyaan Sisil.
"Iya." jawab Bagas, singkat.
"Lalu, di antara kalian, siapa ayah dari janin itu..?" nada bicara Sisil mulai meninggi, dia seakan tak percaya, merasa kesal dan kecewa atas fakta yang mereka sembunyikan
"Kau !!" Aaron membentak Sisil, merasa tak terima atas pertanyaan Sisil yang dianggapnya tidak masuk akal.
Bagas memegang tangan Aaron, berusaha meredam emosi Aaron. "Sudahlah...! Kamu bisa menanyakannya pada temanmu nanti ! Hanya dia yang punya hak untuk menjawab pertanyaanmu. Sekarang, boleh aku meminta bantuan darimu ?" tanya Bagas lembut. Hey..! Tumben dia bersikap lembut, apa karena telah mendonorkan darahnya, hingga dia bisa berubah..?!
"Baiklah, apa yang bisa saya bantu ?" jawab Sisil.
"Tolong kamu bersihkan ceceran darah yang ada di tempat kost nona itu...!"
"Kyara, tuan. Dia punya nama. Dan namanya Kyara..!" tegas Sisil, merasa tidak suka akan panggilan Bagas terhadap Kyara.
"Baiklah, Kyara. Bisa kan....?"
"Apa tidak bisa besok pagi saja, tuan..?" jawab Sisil, malas.
"Lebih cepat lebih baik !"
"Tapi, aku ingin menunggunya sampai dia sadar."
"Ada kami di sini."
"Tapi...."
"Pergilah !!" bentak Aaron yang mulai merasa kesal akan alasan Sisil.
"Lo...! Dasar cowok pemarah..! Oke, tapi lo pesenin gue taksi online ! Gue nggak bawa dompet, jadi nggak punya uang !" ujar Sisil, kesal.
Bagas merogoh ponselnya dari saku jaketnya, kemudian mengetikkan sesuatu. "Ini ! Sudah aku pesan. Tunggulah di lobi !"
"Ish... dasar cowok-cowok aneh...!" gerutu Sisil sambil meninggalkan kedua pria tampan itu.
"Duduklah Ar ! Lo nggak pegal, berdiri terus..."
"Gue di sini saja, nemenin Kyara, Gas." kata Aaron sedikit melow.
Huh...lebay banget....batin Bagas. "Mau lo liatin terus juga, dia nggak bakalan bangun. Dia masih di bawah pengaruh obat bius. Kemarilah !" perintah Bagas sambil menepuk kursi tunggu yang ada di sebelahnya.
Aaron menurut, dia menghampiri Bagas. "Kenapa lo nggak mau dirawat, Gas ?"
"Hey ! Gue nggak sakit ya...!"
__ADS_1
"Tapi, wajah lo pucat.."
"Wajarlah..., bentar lagi juga baikan..."
"Arrgh....!" Aaron mengusap kasar wajahnya.
"Just calm down...., she's gonna be oke...!" ujar Bagas.
"I hope...." jawab Aaron. "Gue masih penasaran dengan apa yang menimpanya, Gas. Apa yang terjadi...? Kenapa...?
Bagas menghela napasnya, seandainya lo tau Ar, bukan hanya lo aja yang penasaran, gue juga... batinnya. "Apa mungkin dia terjatuh, Ar...?" tanya Bagas.
"Entahlah...!" jawab Aaron. "Gas, bagaimana kalau dia sadar nanti ?" tanyanya lagi.
"Ya... baguslah ! Itu artinya, nyawanya selamat, karena bisa melewati masa kritis."
"Bukan itu maksud gue...!"
"Terus...?"
"Bagaimana jika dia menanyakan anaknya ? Apa yang mesti gue jawab ?"
"Lo jawab aja yang sebenarnya, Ar !"
"Lo gila Gas ! Gue nggak tega...! Gue bener-bener nggak bisa bayangin reaksi dia Gas...!!"
"Tenanglah Ar, kita tunggu kondisinya stabil dulu. Setelah itu, baru pelan-pelan kita katakan padanya." jawab Bagas. Ah, Bagas memang selalu bijaksana dalam berkata dan mengambil keputusan.
"Kira-kira, apa dia bisa terima, Gas ?"
"Lo bilang, Kyara bukan gadis yang tipis imannya kan ? Jadi gue rasa, dia pasti bisa menerimanya."
Bagas menepuk pundak Aaron, "Istirahatlah !"
Aaron menyandarkan punggungnya di kursi tunggu. Sejenak, dia memejamkan matanya. Ah Kya..., apa yang terjadi padamu...? pertanyaan itu masih mengganggu pikiran Aaron.
"Ar, sudah ada kabar dari mbak Risa ?" tanya Bagas membuyarkan lamunan Aaron.
Aaron mengerjapkan matanya, "Ah, iya... mbak Risa...! Gue sampai lupa ngecek HP...!" Aaron merogoh ponselnya di dalam saku jaketnya. Dia membukanya, misscall dari mbak Kinan dan mama, kenapa begitu banyak sekali panggilannya... batin Aaron, tertegun melihat hampir 60 panggilan tak terjawab dari ibu dan kakaknya. Entah kenapa, tiba-tiba saja perasaan Aaron menjadi tak menentu.
"Ada apa Ar...?" tanya Bagas yang melihat perubahan raut wajah Aaron.
"Ini, mbak Kinan sama mama nelpon. Banyak banget Gas, panggilannya. Perasaan gue jadi nggak enak.
"Coba lo hubungi kembali ! Siapa tahu ada hal penting yang ingin mereka sampaikan." perintah Bagas.
"Oke...! Sebentar, Gas...!" Aaron berdiri, hendak menelpon kembali ibu dan kakaknya.
Aaron mencoba menghubungi nomor ibunya, tapi tak diangkat. Berulang kali dia terus menghubungi ibunya, hasilnya masih sama, tidak diangkat. Akhirnya Aaron beralih menghubungi nomor kakaknya.
"Hallo, Ar...! Papa Ar....pa...pa...huu...huu...hu.." detik selanjutnya, yang terdengar hanyalah isak tangis kakaknya di ujung sambungan telponnya.
"Hallo, mbak.... mbak... papa kenapa...? Mbak.... hallo...hallo... mbak, masih dengar suara gue kan...?" tanya Aaron, namun hanya isak tangis mbak Kinan yang dia dengar. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mbak Kinan menangis ?
"Hallo, Ar...!" tiba-tiba saja suara laki-laki terdengar di ujung sambungan telpon Aaron.
Ah....ini pasti mas Ardi... batin Aaron. "Iya mas, kenapa dengan papa, mas...? Kenapa mbak Kinan menangis ?" tanya Aaron tak sabar.
"Kamu, tenanglah dulu...! Papa terkena serangan jantung. Sekarang beliau dirawat di rumah sakit M.E Singapore. Segeralah kemari ! Mama sangat membutuhkanmu. Dari tadi, dia meminta kakakmu untuk menghubungimu dan menyuruhmu datang."
"Apa...! Papa kena serangan jantung...?! Iya, mas... Aaron segera ke sana.." setelah itu, Aaron menutup telponnya. Kecemasan semakin tampak di wajahnya.
__ADS_1
"Ada apa Ar...?" tanya Bagas.
"Papa..., papa kena serangan jantung, Gas...!"
"Astaghfirullah...! Terus...?"
"Mas Ardi minta gue untuk segera nyusul ke sana. Mama terguncang dengan kejadian ini, dan dia butuh gue."
"Pergilah, Ar...!"
"Tapi, Kya...?"
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Orang tua adalah yang utama. Kya, biar gue yang urus."
"Beneran...? Lo nggak keberatan, Gas ?" tanya Aaron.
"Huss...! Temen lo, temen gue juga. Apalagi, cewek ini berharga banget buat lo kan...?"
"Apaan sih lo, Gas...!" ucap Aaron tersenyum sambil menonyor pelan bahu Bagas.
"Nah... gitu dong... senyum. Ayo, semangat...!"
"Ah... entahlah Gas, malam ini dua kabar buruk benar-benar membuat kepala gue mau pecah...aargh...!" Aaron menjambak rambutnya dengan kasar.
"Huss !! Istighfar...! Pergilah !"
"Lo janji, nggak bakalan ninggalin Kya kan..?"
"Iya, gue janji !"
"Oke...gue tenang sekarang. Setidaknya, Kyara berada di tangan orang yang tepat."
"Iya... iya..., gue janji bakalan jagain cewek lo sampai semua urusan lo selesai ! Oh iya, jam berapa lo berangkat ke Singapore ?"
"Penerbangan pertama, Gas. Lebih cepat lebih baik."
Bagas melirik jam tangannya, "Sudah hampir jam empat pagi, Ar... Pergilah ! Lo bisa telat nanti, lo kan belum beres-beres !"
"Gue berangkat dari sini saja, Gas."
"Hey...! Setidaknya lo ganti pakaian dulu ! Baju lo penuh darah tuh...!"
Aaron melirik pakaiannya, hmm... Bagas benar, "Oke ! Aku pulang sekarang, setelah itu aku ke bandara."
"Oke ! Hati-hati Ar...!"
"Siip....,titip Kyara ya, Gas...!"
Bagas mengacungkan kedua jempolnya. Aaron tersenyum dan mengangguk. setelah itu, dia pun pergi.
Kini, tinggal Bagas seorang diri di depan ruang ICU. Dia bangkit dari kursi rodanya, berjalan mendekati jendela kamar ICU. Dia melihat Kyara masih terbaring lemah. Ah..., entah kenapa, ada rasa sakit di hatinya saat melihat gadis itu terbaring tak berdaya. Bagas menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Dia mulai mengatur emosi yang berkecamuk di hatinya. Hmhhh.... tidurlah...! Aku akan menjagamu...!!
Bersambung....
Terima kasih untuk para readers yang sudah memberikan like, vote n komennya...
Semoga author bisa lebih baik lagi...
Jangan lupa, selalu dukung author ya....
like, vote n komennya selalu author tunggu...ππ
__ADS_1