
Malam pun semakin larut, hingga Bagas tertidur di samping Kyara.
Kyara memberanikan diri untuk membuka matanya saat dia mendengar dengkuran halus di sampingnya. Lama dia memandangi wajah tampan yang tampak kelelahan itu. Masih terngiang jelas di telinganya, kata-kata Sisil yang mengabsen semua kebaikan Bagas saat menjaganya.
Pandangan Kyara terkunci pada tangan Bagas yang terbalut perban. Kyara diam, mengingat kembali kejadian tadi siang. Dia menyentuh pelan tangan Bagas yang terluka, "Maafkan aku, kak..." ucapnya lirih.
Kembali Kyara mengalihkan pandangannya, menatap langit-langit kamar. Kilasan kejadian demi kejadian yang menimpanya, mulai dia putar seperti sebuah film di memori ingatannya.
Kyara menghela napasnya. Sudah tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan. Sudah tidak ada lagi yang bisa aku jadikan alasan untuk tetap berjuang di kota ini. Lebih baik aku pergi dari sini. Aku tidak mau menjadi beban bagi orang lain.... batin Kyara
Lama Kyara terjaga, mengingat setiap kejadian yang menghampirinya. Sekilas dia tersenyum, saat teringat akan kenangan indah yang dijalaninya di kota ini. Namun, senyum itu seketika sirna, saat dia menyadari sebuah kenyataan pahit di kota ini.
Kyara masih tetap terjaga hingga azan subuh mulai berkumandang. Pergerakan tangan Bagas menyadarkan Kyara dari lamunannya. Kyara kembali memejamkan matanya.
Bagas mengerjapkan matanya, ish..., perih sekali... Bagas meringis, merasakan perih di tangannya. Sejenak Bagas diam dan menatap Kyara yang masih terlelap. Setelah puas menatapnya, dia pun pergi ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, Bagas keluar. Dia telah siap dengan peci dan sarungnya. Bagas meraih sejadahnya yang tersampir di sofa. Kembali dia menghampiri Kyara. Tangannya menyentuh pipi Kyara, "Aku ke mesjid dulu, tidurlah...!"
Tangan dingin itu mengelus pipi Kyara. Rasanya ingin sekali Kyara membuka matanya, namun dia tak punya keberanian. Ya Tuhan..., sudah cukup aku membebaninya, aku tidak ingin merepotkan orang-orang di sekitarku lagi. Ini kesempatanku untuk pergi, ku mohon, lindungilah aku...!
Setelah dirasa ruangan cukup sepi, Kyara membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya, "Sepi..." gumamnya. Kyara melihat barang-barangnya yang tergeletak di atas nakas. Kyara bangkit, mendekati nakas itu dan segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kecil yang kemarin dibawa Sisil.
Aku tidak mungkin pergi dengan hanya memakai baju pasien ini, aku harus menutupinya... Kyara tampak berpikir sejenak. "Ah, jaket itu...!" gumamnya saat melihat jaket Bagas yang tergeletak di sofa. Kyara segera mengambilnya, kemudian memakainya. Aku pinjam dulu jaketnya ya, kak...! Maaf..., batinnya.
Dengan mengendap-endap, Kyara keluar dari kamarnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Kyara akhirnya tiba di lobi rumah sakit. Sepertinya Tuhan berpihak padanya. Subuh ini, suasana rumah sakit tampak sepi. Hanya tinggal melewati pos penjagaan itu. Tuhan..., bantu aku untuk pergi dari sini...!
Lagi-lagi, dewi fortuna berpihak pada Kyara. Pos penjagaan terlihat sepi. Hanya ada seorang penjaga keamanan yang sedang tidur mendengkur.
Kyara mengendap-endap pergi ke samping pos, berjalan cepat, kemudian berbaur dengan orang-orang yang lalu lalang di sekitar rumah sakit. Tak ada seorang pun yang memperhatikannya dengan seksama. Karena itu, dengan mudahnya Kyara bisa melewati gerbang utama rumah sakit.
Tiba di tepi jalan raya, segera Kyara memanggil taksi dan berlalu pergi entah kemana....
***
Di mesjid rumah sakit, selepas solat subuh Bagas merebahkan tubuhnya. Pikirannya masih berkecamuk dengan berbagai pertanyaan. Kenapa tiba-tiba Kyara menyerangnya dan mengatakan pembunuh ? Kenapa jam tangan Ajay bisa berada di tempat kost Kyara ? Apa semua saling berhubungan ? Apa Ajay yang memaksa Kyara untuk menggugurkan kandungannya ?
Tiba-tiba, Bagas teringat pada Aaron. Haruskah aku bilang ke Aaron tentang semua kecurigaanku terhadap Ajay ? batin Bagas. Sejenak, Bagas tampak berpikir...
"Tidak..., tidak...! Aku nggak boleh membebani pikiran Aaron lagi." gumamnya. Bagas memejamkan matanya hingga tertidur.
***
__ADS_1
Pukul 06.30 pagi. Seperti biasa, perawat-perawat yang bertugas jaga malam akan mengecek setiap pasien sebelum pergantian shift jaga. Begitu juga dengan suster Irma. Dia pergi ke kamar Kyara untuk melihat kondisi terakhir Kyara.
Suster Irma masuk ke kamar Kyara. Dia sedikit terkejut ketika melihat ranjang Kyara kosong. Mungkin dia sedang di kamar mandi. Tapi kok aneh ya, kenapa dia bisa pergi ke kamar mandi sendiri...? Apa mungkin ingatannya sudah kembali...? Ah, syukurlah... batin suster Irma.
Lama suster Irma menunggunya, tapi tidak ada tanda-tanda orang yang akan keluar dari kamar mandi. Suster Irma mendekati pintu kamar mandi, aneh..., kok nggak ada bunyi gemericik air ya...
Karena penasaran, suster Irma pun membuka pintu kamar mandi. Ceklek..., pintu terbuka. "Tidak dikunci..." gumamnya. Suster Irma semakin penasaran, dia kemudian membuka lebar pintu kamar mandi. Kosong..!
"Astaghfirullah...! Kemana ibu Kyara pergi...?" suster Irma segera berlari keluar, dan...
Brugh....
"Aww....!" pekik suster Irma, dia terpental ke belakang.
Segera Bagas menarik tangan suster Irma, "Kenapa lari, sus ?" tanyanya.
"Maaf, pak...! Itu..., anu...anu..., mm ibu Kyara hilang, pak !" jawab suster Irma, gugup.
"Apa...! Hilang...?!" seru Bagas. Dia pun berlari ke kamar Kyara. Kosong...., "Kemana dia...?" gumamnya.
"Suster yakin dia hilang ? Atau..., dia sedang di kamar mandi ?" tanya Bagas.
"Saya sudah cek di kamar mandi, tapi ibu tidak ada. Apa mungkin ibu pergi ke taman ? Mungkin ibu ingin menghirup udara segar, pak !" jawab suster Irma, mencoba menenangkan Bagas.
Bagas dan suster Irma pergi ke taman rumah sakit untuk mencari Kyara. Namun sayangnya, sudah hampir setengah jam mereka berkeliling taman, tapi masih belum berhasil menemukan Kyara. Perasaan cemas mulai muncul di hati Bagas. Benarkah Kyara menghilang...? batinnya.
Bagas kembali ke kamar. Tiba di sana, dia mengedarkan pandangannya, mencari petunjuk. Tunggu...! Jaketku...! Kemana jaketku...? Bagas mendekati sofa, hilang...! Aku ingat betul, aku menaruhnya di atas sofa...
Kembali Bagas mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Astaghfirullah...! Barang-barangnya..? Tasnya...?
Bagas mendekati nakas tempat menyimpan barang-barang Kyara, kosong...! Hanya tinggal jam tangan itu. Bagas membuka laci nakas, masih tetap kosong...
Ya Tuhan, dia benar-benar menghilang. Pergi kemana dia ? CCTV..., ya...aku harus cek CCTV... ! Bagas segera pergi ke pos penjagaan untuk menemui petugas keamanan.
"Maaf pak, bisa antar saya ke ruang kontrol CCTV ?" tanya Bagas kepada seorang penjaga keamanan yang sedang bertugas.
"Mohon maaf, pak. Itu privasi rumah sakit." jawab petugas keamanan.
"Saya tahu, tapi saya membutuhkan rekaman kejadian beberapa jam yang lalu. Bisakah bapak membantu saya ?" Bagas kembali bertanya.
"Mohon maaf, itu melanggar privasi, pak !"
__ADS_1
Bagas menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Istri saya hilang ! Apa anda mau, saya mempublikasikan kelalaian rumah sakit ini karena tidak bisa menjaga pasien ?!" ancam Bagas.
Mendengar ancaman Bagas, seketika wajah penjaga keamanan itu pucat pasi. "Baiklah pak, saya akan membawa bapak untuk menemui manager rumah sakit. Mari ikut saya, pak !" akhirnya penjaga keamanan itu mengantarkan Bagas untuk bertemu dengan manager rumah sakit.
Tok.... tok...tok...
"Permisi...!" sapa penjaga keamanan.
"Ya, masuk !" perintah sang manager.
Petugas keamanan itu membuka pintu, "Permisi pak, ini ada salah satu keluarga pasien yang hendak meminta izin untuk ke ruang kontrol CCTV." ujar penjaga keamanan kepada sang manager.
Manager rumah sakit mengernyitkan dahinya, "Maksudnya, apa ya...?"
"Istri saya menghilang, pak." jawab Bagas. "Saya dan suster Irma sudah mencari di seluruh penjuru rumah sakit ini, tapi tidak ada. Saya mohon bantuan bapak, izinkan saya untuk melihat rekaman CCTV beberapa jam yang lalu !" lanjut Bagas
"Apa anda hendak menuntut kami ?" tanya manager itu.
Bagas menghela napasnya, "Saya tidak akan menuntut pihak rumah sakit jika anda mau bekerja sama dengan saya." jawab Bagas, tegas.
"Baiklah, ikut saya, pak !" ajak manager itu.
Mereka bertiga keluar dari ruang manager, kemudian pergi ke ruang kontrol pusat CCTV. Tiba di sana, segera manager itu meminta penjaga ruangan untuk membuka file rekaman CCTV di arah koridor ruang Lavender beberapa jam yang lalu.
Layar monitor terbuka, tampak Kyara yang sedang mengendap-endap keluar dari rumah sakit. Dari awal dia keluar kamar sampai terakhir CCTV di gerbang utama menunjukkan Kyara pergi menggunakan taksi, semuanya terekam jelas.
Seketika, lutut Bagas terasa lemas.... Dia pergi...! Ya...! Dia telah pergi...! Entah kemana dia pergi.....
Bersambung....
Hai...hai...hai...
Author mau mengucapkan banyak terima kasih nih, karna kalian sudah mendukung karya author ini...
suport readers membuat author tambah semangat untuk terus memberikan karya yang terbaik...
Sekali lagi...
Makasih...
Makasih...
__ADS_1
Makasih...
Love... love...pokok nya mah...🤗🙏🙏