Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Aku Mohon, Nikahi Aku !


__ADS_3

Selang beberapa menit, mobil ambulans tiba di hotel Bintang. Dibantu oleh seorang penjaga keamanan, Mita dan Laura segera mengantar Cecilia ke rumah sakit terdekat.


Tiba di rumah sakit, Cecilia segera dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan dokter. Mita dan Laura hanya bisa mengantarkannya sampai depan pintu ruang IGD.


"Maaf, nona ! Tunggulah di sini ! Dokter akan segera memeriksa kondisi pasien." ujar salah seorang perawat menghalau Mita dan Laura di depan pintu IGD.


"Baiklah..!" jawab Laura.


"Apa dia akan baik-baik saja ?" tanya Mita penuh kecemasan.


"Entahlah.. ! Kita berdo'a saja semoga dia dan bayinya selamat !" jawab Laura.


"Aku benar-benar tidak percaya jika dia bisa melakukan hal itu ! Gila...! Benar-benar gila.. !" gumam Mita. "Menurutmu, kenapa dia bisa tega mengkhianati persahabatannya dengan Andin ?" tanya Mita.


"Entahlah...!" Laura menggedikkan bahunya. "Satu yang pasti, mungkin pernah terjadi satu hal di antara mereka, sehingga mereka bisa saling menjatuhkan satu sama lain." ujar Laura.


"Aku pikir, Cecilia wanita yang baik. Tapi nyatanya, dia bisa hamil di luar nikah. O.M.G...!! Hati orang emang tidak pernah bisa diselami...! Aku kasian sama Andin.." ujar Mita.


"Aku juga turut prihatin terhadap kejadian yang menimpa Andin. Tapi jujur saja, aku berharap kejadian ini bisa menyadarkan Andin atas semua perbuatannya. Jika aku pikir-pikir, mungkin ini hukuman bagi Andin." jawab Laura.


"Aku tidak mengerti, maksud kamu apa, Ra ? Kenapa kamu anggap semua ini hukuman buat Andin ?" tanya Mita, heran.


"Kamu masih ingat sama gadis yang waktu itu Andin hina habis-habisan ?"


Mita mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat sesuatu. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Ish, kamu ini..! Itu yang duduk sama Bagas di restoran eyang Mahesa."


Mita kembali diam, selang beberapa detik kemudian...


"Ah ya..., gadis cantik itu...! Yang kita sangka kekasih Bagas kan...?" tanya Mita.


"Ya.., dia..! Apa kamu tahu siapa dia..?" tanya Laura lagi.


Kembali Mita menggelengkan kepalanya.


"Hhhh...."


Laura menghela napasnya. "Dia adalah mantan pacar Ajay..."


"What..! Are you serious ?" tanya Mita terlonjak kaget.


"Aku serius..!" jawab Laura.


"Darimana kamu tahu hal itu ?" tanya Mita.


"Saat itu, aku heran ketika Andin terus menghina dia tanpa ampun. Karena penasaran, aku pun bertanya kepada Bagas tentang siapa gadis itu. Awalnya Bagas tidak mau memberi tahu, tapi saat aku paksa, dia pun bercerita jika gadis itu adalah mantan pacarnya Ajay. Dan yang lebih membuatku terkejut, saat aku bertanya kepada Andin, dia membenarkan ucapan Bagas. bahkan Andin bilang, dia merasa bangga karena berhasil merebut Ajay dari gadis itu." jawab Laura panjang lebar.


"Jadi, maksudmu ini karmanya Andin ?"


"Siapa tahu...?" kembali Laura menggedikkan bahunya.


Drrtt...drrtt...


Ponsel Laura bergetar. Dia segera merogoh ponselnya dari saku celananya.


"Ajay..!" tunjuk Laura kepada Mita.


"Angkat saja Ra..! Mungkin penting." jawab Mita.


"Ya, hallo...!" ( Laura )


"Gimana keadaan Kyara ?" ( Ajay )


"Kyara ?" ( Laura ) seraya mengernyitkan dahinya.


"Maksudku, gadis itu ! Cecilia...!" ( Ajay )


"Oh, dia sedang ditangani dokter di ruang IGD." ( Laura )


"Di mana dia dirawat ?" ( Ajay )


"Klinik Sumber Harapan, Tidak jauh dari hotel Bintang." ( Laura )


"Ya, aku tahu klinik itu. Tunggu aku ! Sebentar lagi aku sampai.." ( Ajay )


Tut...tut...tut...


"Apa katanya ?" tanya Mita.

__ADS_1


"Sebentar lagi dia akan kemari." jawab Andin.


"Syukurlah, aku cemas dengan kondisi Andin. Bagaimana jika kita bagi tugas ? Kau tunggu di sini untuk menjaga Cecilia, aku akan kembali lagi ke hotel. Aku takut, Andin berbuat nekad."


"Ish..! Aku tidak mau menjaga gadis itu sendirian di sini. Kita minta bantuan Bagas saja, bukankah dia juga sahabatnya Andin ?" usul Laura.


"Baiklah...! Coba kau hubungi dia !" perintah Mita


Laura kembali mengeluarkan ponselnya, kemudian mencari nama Bagas, dan mulai menghubunginya.


Selang beberapa menit, terdengar suara di ujung telpon.


"Hallo..!" ( Bagas )


"Hallo, Bagas...! Lo lagi sibuk, nggak ?" ( Laura )


"Nggak juga..., kenapa ?" ( Bagas )


"Gue butuh bantuan lo, bisa kan ?" ( Laura )


"Bantuan apa ?" ( Bagas )


" Ceritanya panjang. Intinya sekarang juga, tolong lo jemput Andin di hotel Bintang kamar 304 di lantai 9. Gue bener-bener khawatir dia bakalan berbuat nekad." ( Laura )


"Memangnya Andin kenapa ?" ( Bagas )


"Pokoknya lo lihat dulu ke sana..! Buruan ya Gas ! Please !" ( Laura )


"Oke..!" ( Bagas )


"Thanks ya, Gas...! Gue tutup telponnya, ya !" ( Laura )


Satu jam kemudian, pintu ruang IGD terbuka. Tampak seorang dokter muda keluar dari ruangan itu. Mita dan Laura menghampirinya.


"Bagaimana keadaannya, dok ?" tanya Laura.


"Alhamdulillah, keadaannya cukup baik." jawab sang dokter.


"Janinnya...? Apa janinnya baik-baik saja ?" kembali Laura bertanya.


"Janinnya pun baik-baik saja. Yang penting, ke depannya, dia harus cukup istirahat dan tidak boleh banyak pikiran." ujar sang dokter. "Baiklah nona, saya permisi dulu..! Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat. Kalian bisa menjenguknya di sana." lanjutnya.


Setelah dokter itu pergi, Mita dan Laura pun ikut pergi menuju ruang rawat Cecilia.


Dalam perjalanan ke ruang rawat, sayup-sayup mereka mendengar teriakan seseorang memanggil namanya. Ketika mereka menoleh ke belakang, tampak Ajay sedang berlari menghampiri mereka.


"Bagaimana...hoh...hoh.. bagaimana keadaannya..hoh..?" tanya Ajay dengan napas yang tersengal.


"ISTRIMU baik-baik saja..!" jawab Mita sinis.


Ajay membulatkan matanya ketika Mita mengatakan kata istri dengan penuh penekanan.


"Kenapa...? Apa kau akan menyangkalnya jika kau berselingkuh di belakang Andin, sampai punya anak segala..! Keterlaluan kamu ya, Jay..! Selingkuh kok sama sahabat pacarmu sendiri..! Kalian benar-benar pasangan yang serasi, yang satu tidak punya harga diri, yang satu tidak tahu malu...! Gue bener-bener nggak nyangka, Bisa-bisanya kalian berbuat bejad kayak gini..!" cerocos Mita berapi-api.


Laura memegang tangan sahabatnya.


"Sudahlah...! Ini rumah sakit, jangan ribut !" ujarnya, memperingati sahabatnya. "Sekarang dia ada di ruang rawat, pergilah ! Saya rasa, kewajiban kami sudah selesai, kami permisi pulang. Ayo, Mit !" ujar Laura seraya menarik tangan Mita, untuk segera pergi.


Ajay terdiam mendengar kemarahan Mita dan juga sikap dingin Laura. Setelah mereka pergi, dengan bantuan perawat, Ajay pun tiba di ruang rawat Cecilia.


Ajay membuka pintu, tampak Cecilia terbaring lemah di atas ranjang. Ajay menghampirinya.


Merasakan kedatangan seseorang, Cecilia membuka matanya. Dia menatap sendu kepada laki-laki yang dicintainya.


Apa Ajay bakalan percaya jika aku telah mengandung anaknya....? batin Cecilia.


Ajay menarik kursi dan meletakkannya di samping ranjang Cecilia. Dia pun duduk dan memegang tangan Cecilia yang tampak lemah.


"Apa kau, baik-baik saja ?" tanya Ajay.


Cecilia mengangguk, tersenyum samar.


"Maafkan aku...!" ujar Ajay, lirih.


"Hei..., ini bukan salahmu...!" jawab Cecilia.


"Ke... kenapa kau tidak bilang padaku, jika kau sedang hamil ?" tanya Ajay, gusar.


"Aku...., aku hanya mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya." jawab Cecilia.

__ADS_1


"Hhhh...."


Ajay menghela napasnya berat. Kebingungan terpampang jelas di raut wajahnya. Dia merasa, urusannya dengan eyangnya akan semakin panjang, jika beliau tahu perbuatannya.


"Aarrgghh...!"


Tanpa sadar, Ajay menjambak rambutnya sendiri. Merasa frustasi dengan keadaan yang sedang menimpanya.


Jika sampai eyang tahu, sudah dapat dipastikan, beliau akan mendepakku dari keluarga Sanjaya...


Cecilia melihat kecemasan di wajahnya Ajay. Dia pun berpikir jika Ajay masih mencintai Andin. Dia takut rencananya tidak akan berhasil. Cecilia memegang punggung tangan Ajay.


"Apa kau kecewa padaku ?" ujar Cecilia sambil berusaha menahan tangisnya.


Ajay hanya menatap sayu kepada Cecilia. Sungguh dia bingung harus bagaimana menyikapi permasalahannya.


"Aku mohon, aku mencintaimu Jay. Jangan tinggalkan aku, nikahi aku Jay ! Anak ini sangat membutuhkan kehadiran ayahnya...!" Cecilia mulai tak bisa menahan air matanya.


Ajay segera memeluknya.


"Sstt...., sudahlah ! Jangan menangis lagi ! Kita pikirkan jalan keluarnya nanti ! Sekarang, beristirahatlah ! Jangan terlalu banyak pikiran, kasihan anakmu !" gumam Ajay.


Cecilia memberontak, melepaskan diri dari pelukan Ajay.


"Anakku...?" pekiknya tertahan. "Dia juga anakmu, Jay ! Ini anak kita...!" teriak Cecilia.


Ajay kembali diam.


"A... apa kau tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri ?" tanya Cecilia, dingin.


"Maafkan aku...! Aku...aku hanya butuh waktu saja." ujar Ajay, kebingungan.


Cecilia kembali menatap sendu kepada Ajay.


"Lepaskan Andin, dan menikahlah denganku !" ujar Cecilia penuh ketegasan.


"Tidak semudah itu, Cecil. Sudahlah, kamu tidak akan mengerti !" ujar Ajay mulai meninggikan suaranya.


"Bagaimana aku bisa mengerti jika kau tidak pernah berusaha untuk membuatku mengerti !" teriak Cecilia.


"Sudahlah...! Istirahatlah...!" kembali Ajay memeluk Cecilia untuk menenangkannya.


"Hiks...hiks...hiks...!" Cecilia mulai menangis dipelukan Ajay. "Aku mohon, nikahi aku ! Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, aku mohon, nikahi aku !" pinta Cecilia dalam isak tangisnya.


Ajay hanya mampu mengusap punggung Cecilia tanpa bisa menjawab permintaannya.


***


Selang satu jam kemudian, Bagas tiba di hotel Bintang. Setelah memarkirkan mobilnya, dia segera berlari menuju kamar yang telah di beritahukan Laura kepadanya.


Brakk....


Pintu kamar terbuka.


"Andin...! Andin...!"


Bagas berteriak mencari keberadaan Andin.


Darah....!! gumam Bagas dalam hati.


Bagas semakin merasa cemas. Dia pun menyusuri darah itu hingga tiba di pintu kaca, Bagas mendongak saat mendengar isak tangis seorang wanita.


"Andin....!!"


Bagas terkejut melihat Andin yang duduk menelungkupkan wajahnya di atas kedua lututnya. Rambutnya terlihat acak-acakan. Bagas pun mendekatinya, dan berjongkok di hadapan Andin.


"Ndin....?" ujarnya seraya memegang bahu Andin yang sedang berguncang karena tangisnya.


Andin mendongakkan wajahnya. Melihat Bagas jongkok di hadapannya, membuat Andin kembali mengingat Kyara. Dia pun segera memeluk Bagas.


"Aku berdosa padanya...! Aku berdosa....! Maafkan aku...!


Bersambung....


Selamat santap sahur....


Semoga kita bisa menjalani puasa hari esok dengan lancar...


Jangan lupa like vote n komennya...

__ADS_1


__ADS_2