Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Amarah Eyang Mahesa


__ADS_3

Assalamualaikum readers....


Semoga masih suka dengan ceritanya ya...


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Tuan Mahesa berdiri, dia mendekati pria itu yang tak lain adalah Ajay.


Plakk....!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ajay.


"Ayah...!!" teriak nyonya Diana.


"Eyang...?" Ajay memegang pipinya yang terasa sakit. Dia merasa heran, kenapa kakeknya menamparnya.


Sedangkan Kyara dan kedua orang tuanya terhenyak, kaget melihat sikap tuan Mahesa.


"Apa yang ayah lakukan ?" tanya nyonya Diana sambil mendekati dan mengelus pipi anak sulungnya.


"Jangan ikut campur Diana ! Ini urusan ayah sama anak tidak tahu diri ini !" bentak tuan Mahesa.


"Tapi ayah...!"


"Diam ! Kembali ke ruang tamu ! Dan kau...( tuan Mahesa menunjuk Ajay ) ikut eyang !" perintahnya sambil berjalan kembali menuju ruang tamu. Ajay mengikutinya dari belakang.


Begitu tiba di ruang tamu, Ajay tertegun melihat keberadaan Kyara dan kedua orang tuanya. Shitt ! Mau apa Kyara datang kemari ? Atau..., jangan-jangan..., Kyara sudah menceritakan semuanya, karena itu eyang nampar gue...! Damm....! gerutu Ajay dalam hati. Ajay menatap tajam penuh kebencian ke arah Kyara. Mendapat tatapan kebencian dari Ajay, Kyara hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Duduk !" perintah tuan Mahesa. Ajay pun duduk berhadapan dengan tuan Mahesa.


"Ajay Sanjaya ! Eyang hanya akan bertanya sekali, dan kau hanya cukup menjawab ya atau tidak !" ujar tuan Mahesa, penuh penekanan amarah pada setiap kata-katanya.


Ajay mengangguk. Semua orang diam, tak ada yang berani bersuara.


"Apa kamu mengenal gadis itu ?" tanya tuan Mahesa sambil melirik ke arah Kyara.


Sejenak Ajay diam.


BRAKK...!!


Tuan Mahesa menggebrak meja penuh amarah, "JAWAB..!!"


"I...iya..." jawab Ajay.


"Apa kamu pernah menjalin hubungan dengannya ?" tuan Mahesa kembali bertanya.


"Ayolah eyang..., itu sudah lama berlalu. Waktu itu..."


"Cukup jawab ya atau tidak !" teriak tuan Mahesa, menyelak ucapan Ajay.


Ajay kembali tertunduk, "Ya..." jawabnya.


Tuan Mahesa menarik napas panjang. Ya Tuhan, Ajay cucuku..., kenapa harus seperti ini...? batinnya seraya memejamkan matanya. Hening sejenak...

__ADS_1


Nyonya Aini, istri dari tuan Mahesa, mendekati suaminya. Kemudian menyentuh tangan suaminya.


Tuan Mahesa membuka matanya kembali. Dia kembali menarik napasnya panjang. Tuan Mahesa melirik ke arah tamunya, "Maaf..., dengan tuan...?"


"Ahmad. Nama saya Ahmad, tuan." jawab pak Ahmad.


Tuan Mahesa mengangguk, "Ya, pak Ahmad. Begini, jika bapak berkenan, izinkan saya untuk mengurus dulu permasalahan ini secara intern. Nanti saya akan hubungi bapak untuk langkah selanjutnya." pinta tuan Mahesa.


"Tapi tuan, bagaimana dengan anak saya ?" tanya pak Ahmad, merasa ragu dengan ucapan tuan Mahesa.


"Saya mengerti. Saya berjanji, Ajay pasti bertanggungjawab." jawab tuan Mahesa.


"Tapi eyang....!" seru Ajay.


"Kau tidak punya hak untuk bicara, Ajay Sanjaya !" teriak tuan Mahesa.


Ajay kembali diam.


Nyonya Aini mendekati Kyara. "Nak, sebaiknya kamu ajak kedua orang tuamu menginap di hotel kami. Eyang lihat, ayahmu sepertinya sedang sakit. Tidak mungkin jika harus pulang sekarang. Eyang janji, semuanya akan baik-baik saja. Eyang akung pasti bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan baik. Kamu percaya kan sama eyang uti ?" tanya nyonya Aini seraya menggenggam tangan Kyara.


Kyara melihat ke arah kedua orang tuanya. Bu Ratna mengangguk, pertanda dia menyetujui usulan nyonya Aini. "Ba... baiklah eyang." jawab Kyara.


Nyonya Aini tersenyum, kemudian dia mengeluarkan ponselnya. "Boleh eyang minta nomor ponsel kamu, nak ?" tanya nyonya Aini.


"Maaf eyang, Kya tidak punya ponsel." jawab Kyara.


Nyonya Aini kembali tersenyum, menepuk pelan tangan Kyara. "Tak apa. Sekarang kamu pergilah ke hotel Bintang di jalan XX. Managernya bernama pak Hadi. Temui dia ! Untuk semua kebutuhan kalian, biar kami yang urus dari sini." ujar nyonya Aini.


"Ayo ! Eyang antar keluar." ujar nyonya Aini.


Kyara dan kedua orang tuanya berdiri, kemudian menyalami tuan Mahesa.


"Anda tidak usah khawatir. Saya akan pastikan untuk berlaku adil pada putri anda !" ujar tuan Mahesa saat bersalaman dengan pak Ahmad.


Pak Ahmad mengangguk, "Saya percaya pada anda." jawabnya.


Nyonya Aini mengantarkan Kyara dan orang tuanya sampai depan pintu. Di luar, mereka berpapasan dengan tuan Ali yang baru saja pulang dari kantor. Mereka saling melempar senyum, meski tuan Ali merasa heran dengan keberadaan mereka di rumahnya.


"Siapa mereka bu ?" tanya tuan Ali.


"Mereka adalah tamu kita." jawab nyonya Aini. "Masuklah ! Ayah sudah menunggumu dari tadi." perintah nyonya Aini.


Tuan Ali pun masuk.


"Rahmat !" teriak nyonya Aini memanggil sopirnya.


Orang yang dipanggil Rahmat berlari tergopoh-gopoh menghampiri nyonya Aini. "Saya nyonya !" ujarnya.


"Tolong antarkan tamu saya ke hotel Bintang ya ! Bilang sama pak Hadi, layani semua kebutuhan mereka dengan baik." perintah nyonya Aini.


"Baik nyonya. Mari tuan, nyonya, nona muda, silakan masuk !" ujar Rahmat sambil membukakan pintu mobil untuk Kyara dan kedua orang tuanya.


Nyonya Aini menghampiri Kyara, membelai lembut rambut Kyara, "Jangan khawatir nak, Ajay pasti akan menikahimu. Ini janji eyang !" ujarnya.

__ADS_1


Kyara mengangguk. Diantar pak Rahmat, akhirnya mereka pun pergi menuju salah satu hotel terbaik milik tuan Mahesa.


Di ruang tamu, sidang masih berlanjut. Tuan Ali ikut bergabung setelah diberitahu oleh istrinya.


"Jadi benar, kau menidurinya ?" tanya tuan Ali, dingin.


"Papih...!" seru nyonya Diana, menyenggol bahu suaminya. Kemudian memberikan isyarat jika di sini ada Bima yang masih belum cukup umur untuk menyaksikan semua ini.


Tuan Ali melirik Bima, "Pergilah ke kamarmu !" perintah tuan Ali kepada Bima.


Bima hendak beranjak dari kursinya, tapi...


"Diam di tempatmu !" bentak tuan Mahesa.


"Ayah...!" seru tuan Ali dan nyonya Diana berbarengan.


"Biarkan dia melihat konsekuensi apa yang akan dituai dari sebuah keegoisan. Ayah pikir, Bima sudah cukup dewasa untuk memahaminya, biar jadi cerminan agar dia bisa bersikap arif sebagai seorang laki-laki.


"Bima ngerti eyang." ucap Bima, dia sendiri merasa geram akan sikap kakaknya.


"Jawab pertanyaan papihmu, Ajay !" bentak tuan Mahesa.


"Ayolah eyang, kami hanya main-main, dan dia juga sangat menikmatinya..." jawab Ajay, sekenanya.


Plakk...!


Kembali tuan Mahesa mendekati dan menampar Ajay.


"Kau bilang main-main ! Merusak masa depan seorang gadis, kau bilang main-main ! Dimana harga dirimu sebagai seorang laki-laki, Ajay !" bentak tuan Mahesa. "Ali ! Diana ! Inikah yang kalian ajarkan pada anak kalian.. ? Menjadi seorang laki-laki pengecut yang hanya bisa bersenang-senang... ! Bisa-bisanya dia bilang hanya main-main, setelah menghancurkan kehidupan anak orang. Ya Tuhan..., bahkan aku sendiri merasa malu menjadi eyang dari seorang cucu yang tak punya moral seperti kamu !" teriak tuan Mahesa penuh dengan kemurkaan. "Dengar Ajay Sanjaya, eyang tidak mau tahu, minggu depan kamu nikahi gadis itu !" perintah tuan Mahesa.


"Tidak bisa seperti itu, ayah ! Dia masih kuliah ! Apa kata teman-temanku nanti jika mereka tahu Ajay sudah menikah !" seru nyonya Diana, merasa tidak setuju dengan keputusan tuan Mahesa.


"Ya ampun Diana, kamu memang tidak pernah berubah. Dari dulu kamu hanya mementingkan status sosialmu saja dibandingkan kehidupan orang lain yang telah hancur karena perbuatan bejad anakmu. Jika kamu berada di posisi mereka, apa kamu masih sanggup bicara seperti ini ? Apa kamu tidak bisa merasakan hancurnya perasaan orang tua gadis itu, ketika mendapati anak gadisnya diperlakukan tidak adil oleh seorang pria ? Bagaimana jika gadis itu anakmu ? Setidaknya kau sedikit bersimpati padanya, bukankah kau juga perempuan ?" ujar nyonya Aini.


"Aku tidak peduli ibu, dia bukan anakku, dan aku tidak punya anak gadis ! Aku tidak peduli ! Aku hanya tidak mau masa depan anakku hancur karena pernikahan bodoh ini !" teriak nyonya Diana.


Plakk....!


Sebuah tamparan mendarat di pipi nyonya Diana.


"Jangan pernah membentak ibuku !" ujar tuan Ali, merasa geram atas perbuatan nyonya Diana.


"CUKUP !!" teriak tuan Mahesa. "Aku tidak mau melihat perdebatan kalian ! Dan kau, Ajay ! Eyang tidak suka dengan penolakan, turuti eyang atau kau akan lihat apa yang akan eyang lakukan nanti jika kau masih bertahan dengan sikap egomu !" tegas tuan Mahesa sambil beranjak pergi meninggalkan orang-orang yang berada di ruang tamu itu.


Bersambung....


Ditunggu boomlike nya yaaa...


Terima kasih karena terus mendukung karya ini...


Semoga bisa menghibur waktu rehat readers semua


πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2