Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Pemakaman Bu Ratna


__ADS_3

Setelah selesai dimandikan, jenazah pun kembali dibawa ke ruang tengah untuk dikafani. Saat itu, Kyara sudah merasa tidak kuat lagi berjalan. Kepalanya terasa berat, matanya mulai berkunang-kunang. Dia mulai mencari-cari pegangan agar tidak jatuh. Untunglah Bagas melihat semua itu, Bagas pun segera berlari menangkap Kyara yang hendak jatuh.


"Astaghfirullah hal adzim, kunaon cep Bagas ?"


"Sepertinya Kyara pingsan, bi !"


"Ya sudah, sok bawa atuh ke kamarnya ! Sok engal, tuh itu tuh kamarnya !" tunjuk bi Irah, istrinya mang Jajang.


Bagas pun mengangguk, lalu dia segera membawa Kyara ke kamarnya. Sementara itu, bi Irah kembali ke ruang tengah untuk membantu ibu-ibu yang lainnya mengkafani jenazah kakak iparnya.


Bagas segera meletakkan Kyara di atas ranjang yang berukuran kecil itu. Dia mengedarkan pandangannya, menelisik isi ruangan tempat istrinya melewati malam. Pandangan Bagas terkunci pada jacket yang tergantung di hanger pinggir lemari pakaian.


Bagas terkejut melihat benda itu. Ya ! Itu adalah jacket miliknya yang dulu pernah dikenakan Kyara saat pergi dari rumah sakit. Bagas mendekati jacket itu dan merabanya, masih utuh namun hanya sedikit berdebu karena tergantung di luar.


Apa mungkin selama ini dia masih mengenangku...? gumam Bagas dalam hati. Senyum tipis pun terukir di bibirnya.


Tok...tok...tok..


Seseorang mengetuk pintu kamar Kyara. Bagas segera menghampiri untuk melihat siapa yang datang.


Klek...!


Saat pintu terbuka, tampak seorang anak remaja berusia sekitar 15 tahun berdiri di depan pintu.


"Punten aa, ini kayu putih dari mamah untuk teh Aneng !" ujar gadis itu seraya menyodorkan kayu putih ke arah Bagas.


"Ah iya, terima kasih !" ucap Bagas seraya menerima kayu putih tersebut.


"Sama-sama. Kalau gitu, Mia permisi dulu a !"


Anak remaja itu adalah putri bungsunya mang Ujang dan bi Irah.


Bagas kembali menutup pintunya. Setelah itu dia kembali menghampiri istrinya yang tengah terbaring. Bagas mulai menggosokkan kayu putih ke telapak tangan dan kaki istrinya. Dia menepuk pelan pipi istrinya agar segera sadar. Namun usahanya sia-sia. Bagas memegang tangan istrinya, kekhawatiran mulai tampak di raut wajahnya.


30 menit telah berlalu. Bagas semakin cemas melihat Kyara yang belum kunjung sadar juga. Dia pun bangkit hendak memanggil mang Ujang untuk meminta dokter datang memeriksa Kyara. Namun saat Bagas hendak melangkahkan kakinya, terdengar lirih suara Kyara.


"Ibu...! Jangan pergi...! Jangan tinggalin Aneng...!"


Bagas segera menoleh ke arah istrinya. Dia masih melihat Kyara memejamkan matanya. Bayangan masa lalu saat di rumah sakit pun melintas di benak Bagas.


Tidak...! Jangan sampai itu terjadi lagi..!


Bagas segera menghampiri Kyara. Dia mengguncang pelan bahu Kyara.


"Nona ! Sadarlah...!" ujar Bagas.


Kyara mengerjapkan matanya. Sejenak dia tampak tertegun menatap Bagas.

__ADS_1


Apa yang terjadi padaku ? batin Kyara. Namun di saat Kyara hendak bertanya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


Tok... tok...tok...


"Masuk !" perintah Bagas.


Mang Jajang membuka pintu.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar neng ! Itu, almarhumah hendak dibawa ke mesjid untuk di solatkan. Mungkin kamu ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya !" ujar mang Jajang.


Kyara mengangguk. Namun saat dia hendak berdiri, lututnya terasa lemas, sehingga dia kembali hendak terjatuh. Dengan cepat, Bagas menangkap tubuh Kyara.


Hup...!


Bagas menggendong tubuh Kyara ala bridal style dan membawanya ke ruang tengah.


Tiba di sana, semua mata tertuju pada pasangan muda yang tampak serasi itu.


"Beruntung banget nya, si Aneng ! Punya suami mani kasep pisan !" ujar ibu A.


"Iya, udah kasep, bageur deuih ! Coba itu geura lihat ! Ni sampai digendong kitu nya.. !" ibu B menimpali.


"Iya, ni perhatian pisan. Ah, almarhum pasti tenang di alam sana, karena putrinya bersama dengan orang yang tepat !" ibu C ikut berghibah...


Begitulah suasana di kampung. Baik ataupun buruk, selalu bisa menjadi bahan pembicaraan...


Selang setengah jam. Mereka membawa jenazah ke tempat pemakaman umum. Sebenarnya, mang Jajang sudah melarang Aneng untuk mengikuti proses pemakaman, karena jarak dari mesjid ke TPU cukup jauh. Namun Aneng memaksa untuk ikut. Karena jalanan menuju TPU merupakan jalanan setapak yang tidak bisa dilalui kendaraan, Bagas pun kembali menggendong Kyara menuju TPU. Sepanjang perjalanan, orang-orang berdecak kagum dengan ketampanan dan kebaikan bagas.


Alhamdulillah, proses pemakaman berjalan lancar. Banyak sekali orang-orang yang mengantarkan bu Ratna ke tempat peristirahatan terakhirnya. Itu terjadi karena bu Ratna orang yang sangat baik dan dermawan. Meskipun hidupnya pas-pasan sedari dulu, namun dia tidak pernah berhenti bersedekah atau membantu tetangga atau teman-teman pedagangnya yang sangat kesusahan.


Semuanya tampak bersedih dengan kepergiannya. Semuanya tampak kehilangan seorang wanita yang baik hati dan penuh kelembutan dalam bertutur kata.


"Sudah neng, jangan ditangisi lagi ! Ikhlaskan kepergian ibumu !" ujar mang Jajang setelah acara pemakaman selesai.


"Aneng nggak punya siapa-siapa lagi, mang..., hiks... hiks...!"


"Ssst...., jangan seperti ini, Kya ! Kamu masih punya aku. Aku janji, aku akan selalu menjagamu !"


Kembali Bagas meraih Kyara ke dalam pelukannya. Kyara pun menangis sesenggukan di dalam pelukan suaminya.


"Nak Bagas benar, neng ! Masih ada suamimu, masih ada mamang dan bibimu. Kamu tidak akan pernah sendirian, neng ! Sekarang, ayo kita pulang !" ajak mang Jajang.


"Mamang duluan saja, Aneng masih mau di sini !" jawab Kyara.


"Tapi neng...!"


"Tidak apa-apa, mang ! Biar saya temani Kyara di sini." ujar Bagas.

__ADS_1


"Kalau begitu, mamang dan bibimu pulang dulu ya neng ! Takut banyak tamu di rumah, kasian jika tidak ada orang di rumah.


Kyara mengangguk. Setelah itu dia kembali menatap gundukan tanah merah yang masih basah itu.


Drrtt... drrtt...


Dalam keheningan, ponsel Bagas bergetar. Bagas segera merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya.


"Doni !" gumam Bagas.


"Sebentar ya, Kya ! Ada telpon." ujar Bagas.


Bagas agak menjauh.


"Assalamualaikum, kenapa Don ?"


"......."


"Kamu cancel saja Don !"


"........"


"Aku tidak peduli dengan kerugiannya. Ibu mertuaku baru saja meninggal, dan istriku sangat membutuhkanku."


"......."


"Terima kasih, Don ! Untuk urusan proyeknya katakan saja kita akan menundanya. Tapi jika dia menolaknya, maka biarkan saja dia menyerahkan tendernya kepada perusahaan lain !"


"......"


"Oke, Don ! Terima kasih, tolong pimpin perusahaan untuk sementara waktu, sampai urusanku selesai. Assalamualaikum "


Bagas segera menutup telponnya dan mengembalikannya ke dalam saku jasnya. Dia menghampiri Kyara yang masih tertunduk di depan makam ibunya.


***


Di kota B.


"Bagaimana ini pih ? Sudah jam 10 lewat, tapi Ajay belum juga sadar ! Mamih cemas..." ujar nyonya Diana pada suami.


Tuan Ali mengusap punggung istrinya.


"Sabar mih, masih ada waktu ! Ini masih belum 1 x 24 jam setelah operasinya Ajay. Berdo'alah ! Semoga malam ini Ajay bisa segera sadar !" ujar tuan Ali.


Nyonya Diana mengangguk. Dia pun kembali menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏


__ADS_2