
Ada beberapa alasan kenapa Bagas memilih untuk mengambil beasiswa itu. Pertama, ini kesempatan besar bagi Bagas untuk bisa memperdalam ilmunya. Kedua, Bagas berharap jika dia bisa melupakan kenangan Kyara yang selalu membayanginya.
"Mungkin dengan menjauh, aku bisa sedikit melupakan perasaanku." gumam Bagas.
Hari terus berlanjut. Seminggu lagi adalah hari keberangkatan Bagas menuntut ilmu di negeri orang. Entah kenapa, sebelum dia pergi, hatinya tergelitik untuk kembali ke pasar wisata Pangandaran. Rasa penasaran tentang gadis penjual manik-manik itu masih hadir di relung hatinya.
Hari ini, kembali Bagas menyusuri pasar itu.
Izinkan aku bertemu dengannya, Tuhan ! Jika hari ini aku bertemu dengannya, akan ku yakini jika dia memang jodohku. Tapi jika tidak, aku akan berusaha melupakannya ! Tekad Bagas dalam hati.
Tanpa Bagas sadari, seorang ibu paruh baya terus memperhatikannya sedari tadi.
Pemuda itu...! Apalagi yang dia lakukan di sini ? Apa dia masih mencari Aneng ? Jika itu benar, kenapa dia begitu gigih sekali mencari anakku ? Siapa dia, dan ada hubungan apa dia dengan anakku ? Hmm..., mungkin jika Aneng pulang, aku harus bertanya tentang laki-laki itu..
Ya, wanita paruh baya itu adalah bu Ratna yang tanpa sengaja dia kembali lagi bertemu Bagas.
Nihil ! Selalu saja nihil. Pencarian Bagas terhadap Kyara, tak pernah membuahkan hasil.
Siang sudah berganti sore. Dengan langkah gontai, Bagas segera kembali ke hotel. Dia mengemasi barang-barangnya. Esok adalah hari keberangkatannya ke Jerman.
Mungkin memang dia bukan jodohku ! batinnya.
Setelah selesai berkemas. Bagas segera chek out dari hotel dan kembali menuju kota J. Hari barunya akan dimulai besok.
Keesokan harinya, dengan di antar kak Indah dan kakak iparnya, Bagas pergi ke bandara. Tak lama menunggu, akhirnya Bagas menaiki pesawatnya.
"Bismillah...! Semoga ini memang jalan yang terbaik." gumam Bagas saat menaiki pesawatnya.
***
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Tahun pertama Bagas berada di Jerman, Bagas telah berhasil membuat design projek yang membuat para dosennya berdecak kagum. Hingga akhirnya, seorang dosen yang juga pemilik perusahaan otomotif di Jerman mulai memberi Bagas kepercayaan untuk menjadi asistennya.
Hari-hari Bagas terlihat sangat sibuk. Di negara ini, orang pintar selalu dihargai. Tak perlu ada embel-embel gelar, selama dia memiliki skill, maka pundi-pundi rupiah akan menghampirinya.
Begitu juga dengan Bagas. Selain menjadi mahasiswa, menjadi asisten dosen. Bagas terkadang menjadi narasumber dalam seminar-seminar tentang dunia otomotif.
Karena kesibukannya, perlahan Bagas mulai bisa melupakan Kyara. Namun meskipun begitu, Bagas tak pernah berniat untuk mencari seorang kekasih. Karena terkadang saat malam menjelang, atau saat lelah melanda, Bagas masih mengeluarkan ponselnya hanya untuk sekedar melihat senyum Kyara. Baginya, senyum Kyara adalah obat yang sangat mujarab untuk setiap kelelahannya.
***
"Neng, boleh ibu tanya sesuatu ?" tanya bu Ratna saat Kyara mengunjunginya.
"Tanya saja bu, kenapa harus sungkan sih ! Aneng kan anaknya ibu." jawab Kyara sambil menyomot pisang goreng yang disajikan ibunya.
"Kamu sudah menyelesaikan pendidikanmu. Kapan kamu akan memikirkan untuk menikah ?"
__ADS_1
Deg...!!
Jantung Kyara serasa berhenti berdetak mendengar pertanyaan ibunya.
"Ada apa ini ibu ? Kenapa ibu menanyakan sesuatu yang ibu sendiri sudah tahu jawabannya." jawab Aneng lembut.
"Apa ibu pergi ke pernikahan anak teman ibu lagi, terus di sana ibu ditanya sama teman-teman ibu, 'eh ceu Ratna kapan nih punya mantu ?' pasti gitu kan bu ??" gurau Kyara.
"Ah Aneng..., ibu tidak seperti itu. Ibu hanya ingin merasa tenang jika suatu hari nanti ibu harus meninggalkanmu." jawab bu Ratna, kesal.
"Ish, memangnya ibu hendak kemana ? Ibu tidak usah khawatir, meski Aneng tinggal jauh karena harus kerja, tapi Aneng akan meluangkan waktu untuk selalu mengunjungi ibu. Atau apa ibu mau ikut sama Aneng ? Kita ngontrak saja di sana, jadi kita bisa sama-sama terus." ujar Aneng panjang lebar.
"Ibu sudah tua neng ! Ibu tidak akan mungkin selamanya bisa menemani kamu ! Suatu hari nanti, ibu pasti akan meninggalkanmu. Ibu cemas jika ibu harus menghadap Illahi dan meninggalkanmu dalam keadaan sendiri. Ibu.."
"Sstt..., ibu...! Jangan bicara seperti itu ! Jangan bicarakan soal kematian !" ucap Kyara seraya memeluk ibunya.
"Kenapa neng...? Setiap yang hidup, pasti akan mengalami kematian. Hanya tinggal menunggu waktunya saja."
"Aneng tahu bu. Tapi Aneng mohon, jangan bicarakan itu ya bu...?" pinta Kyara.
Bu Ratna menghela napasnya.
"Kenapa neng, apa terlalu sulit untuk memenuhi permintaan ibu ? Sekalipun ini permintaan terakhir ibu."
Kyara diam. Sesak mulai menghampiri dadanya. Sungguh Kyara tidak pernah memikirkan jika ibunya akan bersikap seperti ini. Padahal ibunya tahu alasan apa sehingga Kyara memutuskan untuk hidup sendiri.
Bu Ratna kembali menghela napasnya.
"Tapi itu hanya angggapanmu saja, nak ? Siapa tahu di luar sana, masih ada orang yang mengharapkanmu !" jawab bu Ratna.
Kyara tersenyum.
"Di luar di mana, bu ? Siapa...? Sudahlah, ibu tidak usah memikirkan hal itu lagi.
"Bagaimana dengan laki-laki itu, neng ?"
Kyara mengernyitkan dahinya.
"Ibu bertemu seorang pemuda yang sedang mencarimu, nak ! Setiap tahun laki-laki itu berkeliling pasar wisata hanya untuk mencarimu. Tadinya, ibu bertekad jika tahun ini ibu bertemu dia lagi, ibu akan memberitahukan keberadaan kita pada laki-laki itu. Tapi sayangnya, libur tahun ini ternyata dia tidak datang mencarimu lagi. Mungkin dia merasa lelah karena tidak bisa menemukanmu."
Kyara merasa terkejut dengan ucapan panjang lebar ibunya.
"Siapa ? Apa ibu mengenalnya ?"
Bu Ratna menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ibu tidak mengenalnya, hanya saja saat pertama kali ibu bertemu dengannya, ibu rasa dia seorang pengunjung dari kota."
"Kota ? Apa ibu tahu ciri-ciri fisiknya ?"
"Tingginya sekitar 195 cm, kulitnya putih, rambutnya agak sedikit bergelombang. Dia memiliki hidung yang mancung, matanya berwarna coklat dengan bulu mata yang lentik. Ibu sendiri heran, kenapa laki-laki itu memiliki bulu mata selentik itu, he...he..."
Senyum bu Ratna mengembang mengingat sosok Bagas yang terlihat sempurna di matanya. Sedangkan Kyara, dia semakin terhenyak mendengar ciri-ciri fisik yang digambarkan ibunya.
Kak Bagas ? Apa mungkin dia kak Bagas ? Tidak...., tidak.., bertahun-tahun telah berlalu. Tidak mungkin kak Bagas masih mengingatku.
Batin Kyara mencoba mengingkari kenyataan.
"Bagaimana neng, apa kau mengenalnya ?" tanya bu Ratna lagi.
"Ti... tidak bu, Aneng tidak mengenalnya. Mungkin dia salah orang kali bu !"
"Tapi dia menyimpan fotomu di ponselnya, neng !"
"Uhuk....uhuk...!" Kyara tersedak.
"Foto ??"
Bu Ratna mengangguk.
"Aneng..., Aneng ke kamar dulu bu !" pamitnya.
Karena takut kegugupannya dilihat oleh ibunya, Kyara pun pamit meninggalkan ibunya di ruang tamu.
Tiba di kamarnya, Kyara segera membuka lemari pakaiannya. Dia menemukan jaket Bagas yang tergantung di lemarinya.
Kak Bagas....!! Gumamnya.
Untuk sejenak, Kyara tenggelam dalam kenangannya bersama laki-laki pemilik jaket itu.
"Tidak...! Pasti bukan kak Bagas ! Aku tahu kak Bagas menyukai mbak Andin. Tidak mungkin dia mencariku. Ibu pasti salah dengar !" gumamnya.
Untuk yang kesekian kalinya, Kyara mencoba mengingkari kenyataan jika dia pun masih mengingat laki-laki itu.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungannya...
Mohon maaf jika novel recehan ini alurnya sangat membosankan dan tidak sesuai dengan apa yang readers harapkan.
Silakan jangan sungkan untuk memberikan kritik saran dan juga komentar.
__ADS_1
Komentar readers adalah vitamin buat author...
🙏🙏🙏