
Assalamualaikum readers...
Terima kasih masih setia menunggu kelanjutan ceritanya...ππ
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bagas hanya mampu tertunduk lesu setelah melihat rekaman CCTV. Dengan langkah gontai, dia keluar dari ruang kontrol CCTV. Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan pada Aaron ? batinnya.
Bagas kembali ke kamar Kyara. Tiba di sana, dia segera membereskan barang-barangnya. Dia kemudian pergi ke bagian administrasi untuk melunasi biaya perawatan Kyara.
Setelah semuanya beres, Bagas kembali ke rumahnya. Hari ini, dia hendak beristirahat sejenak sebelum melakukan pencarian. Pikirannya benar-benar kacau...
Drrt....drrt....
Tiba-tiba ponsel Bagas berdering, "Mbak Risa...!" gumamnya.
"Hallo, mbak...!" ( Bagas )
"Gas, mbak dapat kabar kalau Kyara menghilang. Apa itu benar ?" ( Dokter Risa )
"Iya, mbak." ( Bagas )
"Kemana ?" ( Dokter Risa )
"Aku sendiri nggak tahu, mbak." ( Bagas )
"Ya Tuhan, bagaimana ini...? Apa Aaron sudah tahu berita ini ?" ( Dokter Risa )
"Belum. Aku mohon, Aaron jangan dulu diberitahu, mbak !" ( Bagas )
"Kenapa ?" ( Dokter Risa )
"Aku hanya tidak ingin konsentrasi Aaron terbagi. Keluarganya sangat membutuhkannya, mbak." ( Bagas )
"Ya ! Kamu benar. Terus, apa rencana kamu ?" ( Dokter Risa )
"Aku mau rehat dulu sebentar, nanti siang aku coba cari ke tempat kostnya." ( Bagas )
"Oh iya, hati-hati Gas ! Kabari mbak kalau ada apa-apa !" ( Dokter Risa )
"Iya, mbak." ( Bagas )
"Ya sudah, Gas. Mbak tutup telponnya, assalamualaikum...!" ( Dokter Risa )
"Waalaikumsalam." ( Bagas )
Bagas merebahkan tubuhnya di atas ranjang, pergi kemana kamu, nona ?
***
Di dalam taksi, tampak Kyara menyandarkan tubuhnya di kursi belakang. Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Kemana aku harus pergi ? Aku tidak mungkin kembali ke tempat kost...
Kyara menghembuskan napasnya pelan, aku harus pulang ! Ya..! Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap bertahan di kota ini. Aku harus kembali ke rumah, batinnya. Bulir air hangat menggenang di sudut matanya. Kyara teringat pada kedua orang tuanya yang dulu menentang kepergian Kyara ke kota ini. "Ayah..., ibu..., maafkan Kya..." gumamnya, lirih.
"Sudah sampai, neng." kata sopir taksi membuyarkan lamunan Kyara.
"Oh, iya pak." Kyara mengambil selembar uang 50 ribuan dan memberikannya kepada sopir taksi itu. "Makasih, pak !"
"Sama-sama, neng."
Kyara turun dari taksi, dan pergi ke sebuah pasar tradisional. Tujuan pertamanya adalah toko perhiasan. Tiba di sana, Kyara menjual semua perhiasannya. Setelah itu, dia pergi ke sebuah toko HP untuk menjual ponselnya.
Ponsel sudah terjual. Kyara menghitung hasil penjualan barang-barangnya, "Insya Allah, cukup untuk bekal di kampung. Uang yang di ATM, aku kasih ke ibu saja." gumamnya.
Dengan menggunakan angkot, Kyara pun pergi ke terminal bus untuk pulang kampung.
__ADS_1
***
Azan dzuhur berkumandang. Bagas terbangun, dia duduk sebentar. Kepalanya terasa berat karena memikirkan kepergian Kyara. Kemana aku harus mencarinya, apa mungkin dia ke tempat kostnya ? Jika dia pergi ke sana, alasan apa yang bisa aku katakan untuk menanyakan keberadaannya pada satpam itu ?
Bagas menarik napasnya, dalam. Sebaiknya aku solat dulu, setelah itu baru pergi ke tempat kost. Selesai solat, Bagas mengeluarkan kunci motornya, melajukan motornya untuk pergi ke tempat kost Kyara.
Jalanan terlihat lengang. Satu jam kemudian, Bagas tiba di tempat kost Kyara. Dia memarkirkan motornya di depan gerbang, kemudian pergi ke pos penjagaan.
"Assalamualaikum, permisi pak...!" sapa Bagas.
"Waalaikumsalam, eh... siapa ya ? Ada yang bisa saya bantu ?" jawab mang Cecep.
"Perkenalkan pak, nama saya Bagas. Saya temannya Kyara. Apa saya boleh bertemu dengan Kyara ?" tanya Bagas.
"Oh, teman neng Kyara ya...? Tapi, maaf den, neng Kyara sedang tidak ada." jawab mang Cecep.
Bagas mengernyitkan dahinya, jadi Kyara tidak pulang ke tempat kostnya... batin Bagas.
"Ngomong-ngomong, Kyara pergi kemana ya, pak ? Boleh saya menunggunya ?" tanya Bagas, memancing informasi dari petugas keamanan itu.
"Aduh, jangan ditunggu den ! Soalnya, mamang nggak tahu kapan neng Kyara pulang. Mm.... sebenarnya, sudah seminggu lebih, neng Kyara tidak pernah pulang. Semua yang di sini juga tidak tahu, neng Kyara pergi kemana. Ibu Rena pun tidak mengetahuinya. Hanya neng Sisil yang sepertinya tahu keberadaan neng Kyara. Aden coba saja, nanti tanya neng Sisil kalau sudah pulang kerja."
Ah, benar ! Berarti Kyara tidak pulang ke sini, batin Bagas.
"Oh, begitu ya pak ! Baiklah, saya permisi dulu, pak !" pamit Bagas.
"Eh, iya.... silakan, den." jawab mang Cecep.
"Mari, pak ! Assalamualaikum..."
" Waalaikumsalam."
Bagas mengeluarkan ponselnya, mengetikkan sebuah pesan dan mengirimkannya kepada Sisil.
Ting...
Pulang kerja, temui aku di kafe XY. Penting ! ( Bagas )
Sisil mengernyitkan dahinya, tumben tuan minim kosa kata hubungi gue, ada apa ya...? batinnya.
Oke ! ( Sisil )
Sisil pun meletakkan kembali ponselnya ke dalam laci meja kerjanya.
Setelah membaca pesan jawaban dari Sisil, Bagas kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Sambil menunggu waktu, lebih baik aku pergi ke bengkel dulu. Sudah cukup lama aku tidak ke sana. Bagas kembali melajukan motornya.
***
Waktu terus berjalan. Tanpa terasa, sudah hampir pukul 5 sore. Segera Bagas melajukan motornya untuk menemui Sisil di kafe XY.
Tiba di kafe, tampak Sisil sudah menunggunya di meja sudut. Sisil melambaikan tangannya begitu melihat Bagas.
"Tuan ! Di sini !" seru Sisil
Bagas menoleh ke arah sumber suara, kemudian dia mendekati Sisil. Bagas menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Sisil.
"Mau pesan makanan ?" tawar Sisil.
"Tidak !" jawab Bagas.
"Atau, minumannya ?" kembali Sisil menawarkan.
"Tidak !" jawab Bagas.
"Ish, tuan ini kenapa sih...? Terus, tuan mau apa mengajakku bertemu di sini ? Mau ngajakin kencan, ya... he....he....he..." gurau Sisil seraya menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Kyara hilang !" ujar Bagas.
"Uhuk....uhuk...!" Sisil tersedak, mendengar ucapan Bagas.
"Apa ! Kyara hilang ? Kok bisa...?" tanya Sisil, kaget.
"Sepertinya dia sudah sadar." jawab Bagas.
"Apa tuan sudah mencarinya di sekitar rumah sakit ?" tanya Sisil lagi.
"Ya ! Dia pergi !" jawab Bagas.
"Maksud tuan ?" Sisil heran mendengar jawaban Bagas.
"Aku sudah cek CCTV rumah sakit. Kyara pergi menggunakan taksi." ujar Bagas.
"Ya Tuhan, Ra...! Kamu pergi kemana ?" gumam Sisil.
"Apa kamu tahu, kira-kira kemana tujuan Kyara ?" tanya Bagas.
"Aku tidak tahu tuan, Kyara tidak punya siapa-siapa di kota ini." jawab Sisil.
"Teman-temannya, mungkin ?" Bagas masih bertanya penuh harapan.
"Satu-satunya teman Kyara di kota ini, hanya aku." jawab Sisil. "Apa mungkin dia ke rumah Ajay ?" kembali Sisil bertanya.
"Entahlah, mungkin ?" jawab Bagas, meskipun tak yakin kalau Kyara akan pergi ke sana.
"Kita cari dia ke sana, tuan !" ajak Sisil.
"Tidak perlu." jawab Bagas.
Sisil heran, "Kenapa tuan ?" tanyanya.
"Biar aku saja yang ke sana, rumahku berhadapan dengan rumahnya Ajay." jawab Bagas. Meskipun aku tidak yakin dia akan pergi ke sana, batinnya. "Apa mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya ?" tanya Bagas.
"Tidak mungkin tuan. Hubungan Kyara dengan kedua orang tuanya kurang baik, sejak Kyara memutuskan untuk pergi ke kota ini demi mengejar laki-laki brengsek itu." jawab Sisil, dia merasa geram saat mengingat perbuatan Ajay.
"Seandainya dia tidak ada di rumah Ajay, apa kamu tahu kemungkinan yang lain, kemana dia akan pergi ?" kembali Bagas bertanya.
Sisil menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, tuan... Ya Tuhan, Ra...! Kamu kemana...?" gumam Sisil seraya menitikkan air matanya.
"Tenanglah ! Aku akan mencarinya." Bagas menyerahkan ponselnya ke Sisil. "Simpan nomor Kyara di sini !" perintahnya.
Sisil menerima ponsel Bagas, kemudian mengetikkan nomor Kyara di ponselnya Bagas. "Sudah, tuan." ujar Sisil sambil kembali menyerahkan ponsel Bagas.
"Pulanglah !" ujar Bagas.
"Tapi kita harus mencarinya, tuan ? Aku takut terjadi sesuatu padanya. Ayo, kita cari tuan !" ajak Sisil.
"Sudah hampir maghrib, pulanglah ! Biar aku saja yang mencarinya." kata Bagas.
Sisil mengangguk, dia menyeka air matanya. "Tuan janji, akan mencarinya sampai ketemu !" ujar Sisil.
"Iya." kata Bagas.
"Baiklah tuan, aku pergi dulu !" pamit Sisil.
"Hmm..." jawab Bagas.
Bagas kembali menarik napas, panjang. Dia menyandarkan tubuhnya. Nona, kemana aku harus mencarimu....?
Bersambung....
Terima kasih untuk semua readers yang masih setia menunggu kelanjutan ceritanya...
__ADS_1
Terima kasih atas like, vote n komennya...
Jangan lupa, terus support author ya, biar bisa memberikan yang terbaik...ππ