Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Interview


__ADS_3

"Hari yang baru, kota yang baru...! Ayo semangat Bagas ! Kamu pasti bisa...!" ujar Bagas menyemangati dirinya sendiri.


Setelah dirasa cukup rapi, Bagas segera keluar dari kamarnya untuk sarapan.


"Wuisss... , ganteng kali adekku ini...! Pasti banyak yang naksir entar di kantor...!" seru kak Indah begitu melihat Bagas yang sedang menuruni tangga.


"Sudahlah Khumaira, jangan goda dia...!" tukas Gunawan.


"Kenapa ? Apa mas cemburu...?" tanya kak Indah meledek suaminya.


"Aneh kau ini ya Khumaira.. ! Bagaimana mungkin aku cemburu pada adik iparku sendiri !" ujar Gunawan.


"Tapi benar kan...? Dia sangat tampan hari ini..!" kak Indah masih menggoda adiknya.


"Tentu saja dia tampan, dia kan calon CEO..!" jawab Gunawan.


"Apaan sih kak Gun..! Bikin hidung Bagas terbang nih..!" jawab Bagas.


"Aamiin...! Ucapan itu do'a Gas ! Ayo aminkan...!" tukas kak Indah.


"Iya..., iya...! Aamiin....! Makasih ya kak...! Semoga suatu hari nanti, Bagas bisa berhasil seperti kakak." ujar Bagas.


Gunawan menepuk pelan pundak adiknya.


"Insyaallah, pasti bisa ! Sekarang, ayo kita sarapan !" ajak Gunawan pada Bagas.


Bagas mengangguk. Dia kemudian mengikuti Gunawan dan duduk untuk memulai sarapannya. Kak Indah mulai sibuk melayani suaminya. Mulai dari mengambilkan nasi dan lauk pauknya, kemudian mengambil air minum untuk suaminya.


Bagas menyendok nasi sambil terus memandangi keromantisan kakak dan kakak iparnya. Sesekali Bagas tersenyum melihat pemandangan di depannya. Ah..., sungguh pasangan yang serasi..., batin Bagas.


Gunawan melirik ke arah Bagas yang sedang tersenyum seraya memperhatikan kakaknya.


"Makanya, cepatlah menikah, biar nanti ada yang mengurusmu ! Punya pasangan itu enak, Gas ! Ada yang menyiapkan semua keperluan kita." ujar Gunawan.


"Nikah sama siapa ? Sama kambing ?" gerutu Bagas, kesal.


"Ya sama perempuan lah..!" tukas kak Indah.


"Perempuan mana, kak...?" Bagas kembali bertanya dengan penuh kekesalan.


"Ya nyari donk...!" ujar kak Indah.


"Iya, entar Bagas cari kalau sudah sukses kayak ka Gun ! Sudah ya, sekarang Bagas lapar, mau sarapan ! Bagas butuh tenaga ekstra buat wawancara !" jawab Bagas


"Iya Khumaira, jangan kau ganggu lagi adikmu ! Biarkan dia sarapan. Ini hari pertamanya mencari pekerjaan. Jangan kacaukan suasana hatinya !" tegur Gunawan, lembut.


"Iya mas...!" jawab kak Indah.


Mereka pun sarapan dengan damainya. Tanpa ada perdebatan ataupun pembicaraan. Hanya terdengar suara sendok, garpu dan piring yang saling berdentingan.


***


Tiba di kantor Adinata Grup, Bagas segera memasuki ruang tunggu interview, sedangkan kakak iparnya naik ke lantai 9 untuk menemui Alvaro di ruangannya.


"Permisi, saya ingin bertemu dengan tuan Alvaro. Apa dia ada di ruangannya ?" tanya Bagas kepada sekretarisnya.

__ADS_1


"Ah tuan Gunawan...! Tuan Alvaro sudah menunggu tuan di ruangannya. Mari tuan !"


Riska, sekretaris tuan Alvaro yang memiliki body bak gitar spanyol, tersenyum, kemudian berdiri dan mengantarkan tamu bosnya ke ruangannya


Gunawan mengikutinya dari belakang.


Astaghfirullah hal adzim..., batin Gunawan saat melihat pakaian sang sekretaris yang seperti kekurangan bahan. Gunawan bahkan sampai menundukkan pandangannya saat tanpa sengaja melihat bokong sang sekretaris yang berjalan berlenggak-lenggok, layaknya seorang model.


Tok....tok...tok...


"Masuk !" titah seorang pria dari dalam ruangan.


Ceklek..!


Riska membuka pintu.


"Permisi, tuan ! Tuan Gunawan, pemilik Gun's coorp sudah datang." ujarnya.


"Ah, ya...! Persilakan dia masuk !" jawab Alvaro.


Setelah mendapat izin, akhirnya Gunawan pun masuk ke kantor sahabatnya itu.


"Assalamualaikum...! Ganggu, nggak nih...? Izin masuk, ya !" seru Gunawan ketika melihat sahabatnya sibuk menandatangani berkas-berkas.


"Haiss...., apaan sih lo, bro..! Pake minta izin segala, masuk aja kali !" jawab Alvaro.


"Ish..., kalau ada yang mengucapkan salam, ya dijawab dulu,bro !"


"Ups...! Sorry..., lupa ! Waalaikumsalam, silakan masuk ustadz ! He...he...he...


"Nggak sibuk kok ! Biasalah, abis liburan kemarin..!"


"Liburan ?" Gunawan mengernyitkan dahinya.


"Biasalah...., Hawaii....!!"


"Astaghfirullah....! Wanita mana lagi yang lo ajak ke sana ?"


"Sudahlah, ustadz nggak usah tahu...!"


"Hmmm..., istighfar Al... istighfar...!"


"Mumpung masih muda, bro !"


Gunawan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang tidak pernah berubah.


"Ngomong-ngomong, ada apa kau datang kemari ?"


"Tadi aku mengantar iparku untuk interview di perusahaan ini ?"


"Bagas ?"


Gunawan mengangguk sambil meraih sebuah katalog produk perusahaan sahabatnya.


"Kenapa harus ikut interview, Gun ? Setahu gue, lowongan itu hanya untuk bagian DMD . Kenapa lo nggak ngomong langsung ke gue ? Gue bisa nempatin Bagas sebagai manager di sini."

__ADS_1


"Itu kemauan dia, Al. Lagipula, bagian HRD tidak ada yang tahu kalau dia ipar gue. 2 minggu yang lalu, dia mengirimkan CV-nya secara online. Alhamdulillah, sekarang dia mendapat panggilan interview di perusahaan lo. Biarkan dia belajar dari awal, Al ! Jika memang dia mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sini, tolong bimbing dia, ya !"


Alvaro menghampiri Gunawan. Dia kemudian duduk dan menepuk pundak sahabatnya.


"Lo nggak usah khawatir, dia pasti bisa lolos interview. Gue bisa lihat, jika anak itu memiliki kualitas yang tinggi. Dia pasti bisa seperti lo !"


"Aamin...! Ya sudah, gue balik ke kantor dulu ! Kabari gue jika ada apa-apa !"


"Siap, tadz !"


Gunawan tersenyum mendengar panggilan tadz dari sahabatnya itu. Setelah berjabat tangan, Gunawan pun pergi meninggalkan ruangan Alvaro untuk kembali bekerja ke kantornya.


***


Di tempat yang sama, Kyara memulai aktivitasnya sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi di kotanya. Kyara terlihat bersemangat menjalani profesi barunya sebagai mahasiswi.


Kepandaian dan keramahannya, membuat Kyara dengan mudah mendapatkan teman baru di kampusnya. Kelas yang Kyara tempuh adalah kelas karyawan. Di kelas ini, mahasiswa dan mahasiswinya rata-rata telah bekerja, bahkan ada yang sudah memiliki keluarga.


"Neng kya, ibu mah da sudah tua, sudah pusing otak teh kalau diajak mikir. Jadi tugas makalahnya, neng Kya saja yah, yang bikinnya ! Biar nanti ibu yang bayarin semua pengeluaran buat beli kertas sama ngeprintnya, gimana ? Mau tidak ?" ujar salah satu teman kelompok Kyara.


Kyara tersenyum, "Iya ibu, tenang saja...! Nanti biar Kyara yang bikin makalahnya !" jawabnya.


"Aduh..., terima kasih atuh neng...! Tenang saja, urusan makan siang, aman lah sama ibu mah...! Kamu mau makan bakso di mana ? Ayo, biar ibu yang bayarin..!"


"He..he... he...! Siap bu...!"


Aktivitas baru Kyara, membuat dia sedikit demi sedikit melupakan kejadian pahit dalam hidupnya.


***


Setelah jam makan siang selesai. Pengumuman hasil interview pun di buka. Pak Ridwan sebagai kepala bagian HRD, tampil ke depan kerumunan para peserta interview.


"Alhamdulillah, dari 67 orang yang kami undang undang interview hari ini, 10 di antaranya telah terpilih sebagai karyawan kontrak. Untuk kesepuluh orang tersebut, kami ucapkan selamat bergabung di perusahaan kami. Dan bagi yang belum mendapatkan kesempatan, jangan berkecil hati. Mungkin rezeki adek-adek sekalian bukan di tempat ini, tapi telah menunggu di tempat lain."


Pak Ridwan menarik napasnya perlahan.


"Saya akan bagikan sebuah amplop yang isinya surat keputusan dari perusahaan ini. Setelah menerima surat ini, silakan adek-adek pulang ke rumahnya masing-masing. Bagi yang mendapatkan keputusan lolos, besok saya tunggu di perusahaan ini pukul 08.00. Tidak ada kata terlambat ! Saya paling tidak suka dengan kata, terlambat !"


Kali ini nada suara pak Ridwan terdengar sangat dingin.


"Jika di hari pertama kalian terlambat, sudah bisa saya pastikan, saya akan menendang kalian keluar dari perusahaan ini !" lanjutnya penuh ketegasan.


Para peserta interview terlihat tegang melihat aura dingin terpancar dari raut wajah pak Ridwan. Tapi tidak dengan Bagas. Sejak kecil, orang tuanya telah mengajarkan Bagas untuk selalu berdisiplin terhadap waktu. Karena itu Bagas tidak terlalu terkejut mendengar ancaman pak Ridwan.


Setelah para peserta interview mendapatkan surat sesuai namanya, mereka pun akhirnya membubarkan diri.


Sebelum pulang ke rumahnya, Bagas memutuskan untuk pergi ke kantor kakak iparnya. Dalam perjalanan menuju kantor Gunawan, hati Bagas tergelitik untuk segera membuka surat yang diberikan oleh kepala HRD tadi.


"Bismillahirrahmanirrahim....!"


Bersambung....


Semoga masih menunggu kelanjutan ceritanya yaaa


Jangan lupa untuk like, vote n komen....

__ADS_1


Makasih....


__ADS_2