Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Nasihat Pertama dan Terakhir


__ADS_3

Setelah acara selesai, satu persatu orang-orang yang tengah berada di ruang rawat bu Ratna pun membubarkan diri. Sebenarnya, dokter Imron meminta bu Ratna untuk dirawat kembali di ruang ICU. Namun bu Ratna menolaknya dengan alasan ingin menghabiskan waktu bersama anak dan menantunya.


Berbagai upaya sudah Kyara dan Bagas lakukan untuk membujuk bu Ratna agar mau di rawat kembali di ruang ICU, namun bu Ratna tetap menolaknya.


"Sudahlah nak ! Ibu hanya ingin di sini menghabiskan waktu bersama kalian. Ibu benar-benar kangen sama Aneng. Lagipula, ini mungkin kesempatan terakhir ibu untuk lebih mengenal mantu ibu." jawab bu Ratna ketika Bagas membujuk kembali agar ibu mertuanya itu mau dirawat lagi di ruang ICU.


"Ibu jangan bicara begitu, ibu masih punya waktu banyak untuk lebih mengenal Bagas. Makanya ibu harus nurut apa kata dokter, biar ibu bisa cepat sembuh dan kita bisa sama-sama tinggal di kota J.


"Ibu sudah tua nak ! Ibu hanya ingin menghabiskan waktu ibu di kampung halaman ibu sendiri. Apa Aneng masih lama di kamar mandinya ? Tolong kamu panggil dia !"


Saat itu Kyara memang sedang pergi ke kamar mandi untuk mengganti kebayanya yang membuat dia merasa risih untuk berjalan.


Tok....tok...tok...


"Siapa ?"


"Nona..., apa kamu masih lama ? Ibu memanggilmu !"


"Ya, aku keluar !"


Tak berapa lama


Ceklek...!


Pintu terbuka. Tampak Kyara yang sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya dengan gaya rambut yang tergulung ke atas, membuat Bagas harus bersusah payah menelan salivanya karena melihat leher jenjangnya Kyara yang putih mulus.


Jika boleh jujur, jiwa kelelakiannya meronta ingin meminta hak nya. Namun Bagas sadar jika Kyara tidak mencintainya. Pernikahan ini Kyara lakukan hanya untuk memenuhi permintaan ibunya. Karena itu Bagas berusaha menahan diri.


Hawa panas mulai menjalar ke ubun-ubunnya. Bagas pun pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan jiwanya yang sedang bergejolak.


Ku mohon jangan seperti ini nona...! Aku takut tidak bisa menahan diriku...! Jangan tampakkan lagi setiap kemulusanmu yang bisa membuat juniorku bangkit ! keluh Bagas dalam hati.


25 menit berlalu, namun Bagas masih belum Keluar dari kamar mandi. Bahkan bunyi gemericik air pun tak terdengar. Aiiihh, sedang apa Bagas di sana...? 🤭


Bu Ratna menarik napasnya panjang. Beliau terlihat kesulitan untuk bernapas, Kyara segera memasangkan selang oksigen di kedua lobang hidung bu Ratna.


Sejenak bu Ratna memejamkan matanya. Setelah rasa sesaknya mulai menghilang, bu Ratna membuka selang oksigen itu.


"Sedang apa suamimu di kamar mandi, neng ?" tanya bu Ratna.


"Entahlah, bu !" jawab Kyara sembari menggedikkan bahunya.


"Coba kamu periksa ! Jika sudah selesai, suruh dia keluar !"


"Tapi, bu...!"


"Sudah, cepatlah panggil dia ! Ibu mau bicara." ujar bu Ratna.


Tok...tok...tok...


"sebentar...!"


"Cepatlah ! Ibu ingin berbicara padamu !"


"5 menit lagi, sayang !"

__ADS_1


Kyara merenggut kesal mendengar Bagas memanggilnya sayang.


Kyara segera kembali duduk di kursi samping kiri ibunya. Tak lama kemudian, Bagas muncul dengan wajah yang sudah jauh lebih segar.


Bu Ratna memanggil Bagas menggunakan isyarat tangannya. Bagas segera menghampirinya.


"Ada apa bu ?" tanya Bagas.


Bagas menarik kursi hendak duduk di samping Kyara. Tapi begitu melihat tatapan horor dari istrinya, dia pun mengurungkan niatnya. Dia memutari ranjang bu Ratna dan menyimpan kursi itu di samping kanan ranjang. Bagas pun duduk.


Bu Ratna yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis. Dia sadar jika anaknya menikah karena terpaksa. Namun dia yakin, suatu hari nanti, dengan semua kesabaran yang dimiliki Bagas, Kyara pasti bisa mencintai Bagas.


Bu Ratna yakin jika Bagas memiliki sifat sabar yang sangat besar. Terbukti jika dalam waktu yang cukup lama, Bagas mampu bertahan dalam semua kenangan bersama Kyara. Jika dia bukan orang yang sabar, sudah tentu dia bisa saja melupakan Kyara dan melanjutkan hidupnya.


"Kalian berdua, peluklah ibu !" ujar bu Ratna.


Kyara bangkit dari tempat duduknya, dia pun memeluk ibunya erat. Begitu juga dengan Bagas yang memeluk keduanya dari arah kanan. Setelah puas berpelukan. Kyara dan Bagas pun melepaskan pelukannya.


"Sudah malam bu, sebaiknya ibu beristirahat !" ujar Bagas sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh mertuanya.


"Dengarkan ibu baik-baik ! Neng, ibu tahu kamu menikah karena terpaksa. Namun ibu sangat berharap, kamu bisa belajar untuk membuka hatimu kembali. Menjadi seorang istri itu tidak mudah, tapi tidak juga terlalu susah. Kuncinya hanya ikhlas menjalankan semua tanggungjawabmu. Ingat neng, pintu surga itu bisa dari berbagai arah. Salah satunya dengan berbakti pada suamimu. Jagalah harta dan kehormatan suamimu. Jangan pernah melakukan perbuatan yang akan meruntuhkan harga diri suamimu ! Kamu mengerti nak !"


Dengan berlinang air mata, Kyara menganggukkan kepalanya. Bu Ratna tersenyum, tangan lemahnya berusaha untuk menggapai wajah Kyara, guna menyeka air mata di pipi putrinya.


Melihat hal itu, Kyara mencondongkan wajahnya lebih mendekat ke arah ibunya, hingga tangan yang terlihat keriput itu menyentuh pipinya. Kyara memegang tangan ibunya, kembali air matanya membanjiri pipinya.


"Sstt, sudah jangan nangis ! Apa kamu tidak malu menangis di depan suamimu ? He...he...he..."


Kyara menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya. Bagas hanya tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu.


Puas menatap putri semata wayangnya, bu Ratna berbalik menatap Bagas.


"Sudahlah bu, jangan terlalu banyak bicara ! Ibu masih lemah, sekarang ibu istirahat ya !" pinta Bagas.


Bu Ratna menggelengkan kepalanya lemah.


"Ibu ucapkan terima kasih, karena kamu sudah mau menikahi putri ibu. Ibu..."


"Ibu tidak perlu berterima kasih, saya menikahi Kyara karena saya sangat mencintainya bu." ujar Bagas memotong kalimat mertuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Ibu tahu. Jika kamu tidak mencintai Aneng, tidak akan mungkin kamu bertahan hidup sendirian selama 5 tahun terpisah tanpa kabar." ujar bu Ratna.


Bagas hanya tersenyum malu mendengar bu Ratna berbicara seperti itu. Dia benar-benar tidak menyangka jika ibu mertuanya itu sangat memahami isi hatinya selama ini.


"Nak, ibu titip Aneng ya ! Jaga dan lindungi dia ! Ibu mohon, jangan bentak dia jika dia melakukan kesalahan. Apalagi bersikap kasar dan main tangan. Bimbinglah dia untuk memperbaiki kesalahannya. Jika kalian menghadapi sebuah masalah, bicarakanlah baik-baik. Jangan pernah membiarkan satu masalah berlarut-larut, karena itu akan menimbulkan masalah yang baru ke depannya. Ibu percaya kamu sangat mencintai Aneng. Tolong hargai dia sebagai istri dan teman hidupmu. Bersamalah dalam suka duka kalian. Saling berbagilah untuk saling menguatkan satu sama lain. Jangan pernah lelah untuk selalu bersabar, karena ibu yakin, suatu hari nanti, Aneng pasti bisa menerimamu sebagai teman hidupmu. Berjanjilah pada ibu, dalam keadaan apa pun, kamu tidak akan pernah meninggalkan anak ibu." ujar bu Ratna menggenggam erat tangan menantunya.


"Bagas berjanji, Bagas akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Kyara, bu ! Bagas akan selalu menjaga dan melindunginya. Bagas akan selalu bersamanya baik dalam suka maupun duka. Bagas akan selalu menunggu hari indah itu bu, hari di mana Kyara bisa menerima Bagas sebagai suaminya." ujar Bagas.


Kyara nampak tertegun mendengar semua kalimat Bagas. Netranya menatap laki-laki itu untuk mencari celah kebohongan dari kalimatnya. Namun sayangnya, Kyara tak menemukannya. Hanya ketulusan yang dia temukan di netranya Bagas.


Kyara menarik napasnya. Maafkan aku kak...! Aku terlalu takut untuk mengenal cinta lagi...., batin Kyara


"Apa kalian mengerti semua nasihat ibu ?"


Bagas dan Kyara mengangguk.

__ADS_1


"Baguslah, malam ini kalian temani ibu tidur di sini ya...!" pinta bu Ratna.


"Iibuu..., tidak diminta pun, Aneng akan selalu menemani ibu. Aneng kangen pelukan ibu."


"Dasar anak manja ! Sudah punya suami tapi minta dipeluk sama ibu. Kenapa nggak minta dipeluk suamimu saja...! He...he..." ujar bu Ratna menggoda anaknya.


"Oh dengan senang hati, ibu mertua....!" Bagas malah ikut menggoda Kyara.


"Ibuu...!" rengek Kyara.


"Sudah-sudah..., ayo kemarilah ! Tidur di samping ibu !" ujar bu Ratna seraya berusaha untuk bergeser ke arah kanan.


Kyara pun bangkit dan merebahkan tubuhnya di samping kiri ibunya. Dia melingkarkan tangan kanannya untuk memeluk ibunya.


Karena tidak bisa tidur menyamping, akhirnya bu Ratna hanya memegang tangan kanan Kyara.


Bagas tersenyum, dia pun menyelimuti kedua orang yang sangat dicintainya. Bagas tidak pernah menyangka akan ada wanita-wanita lain yang dicintainya setelah kakak perempuannya. Namun meski begitu, rasa cinta Bagas terhadap kakaknya tidak akan pernah berubah.


Setelah melihat ibu mertua dan istrinya mulai terlelap. Bagas pun merebahkan kepalanya di samping tangan kanan ibu mertuanya.


Tak lama kemudian, bu Ratna membuka matanya. Dia melihat putri dan menantunya terlelap. Mungkin mereka kelelahan dengan semua peristiwa yang terjadi hari ini. Bu Ratna meraih tangan Bagas yang tengah menumpu kepalanya. Dengan hati-hati, dia meletakkan tangan itu di atas tangan Kyara. Setelah itu bu Ratna meletakkan kedua tangannya di atas tangan mereka. Dia pun mulai terlelap dengan senyum kebahagiaan terukir jelas di bibirnya.


Tanpa terasa, suara azan subuh sayup-sayup mulai terdengar. Bagas mengerjapkan matanya. Dia terkejut melihat jari jemari miliknya saling bertautan dengan jari jemari istrinya. Bagas tersenyum tipis. Namun saat dia hendak mengangkat tangan ibu mertuanya. Bagas merasakan jika kedua tangan mertuanya terasa dingin. Dia melihat ke arah ibu mertuanya. Tampak bu Ratna seperti sedang tidur pulas dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


"Bu...!" panggil Bagas.


Namun bu Ratna tak bereaksi.


"Bu !" sekali lagi Bagas memanggilnya, hingga membuat Kyara mengerjapkan matanya.


"Astaghfirullah hal adzim...!"


Bagas terkejut mendapati ibunya kembali tak bereaksi. Saat dia menyentuh wajah bu Ratna. Hawa dingin kembali dia rasakan.


"A...ada apa ?" tanya Kyara gugup.


"Kya..., sepertinya.., ibu..., ibu sudah tiada." ujar Bagas.


"Tidak...! Tidak mungkin.. ! Ibu...! Ibu bangun...!"


Kyara mengguncang tubuh ibunya berkali-kali untuk membangunkan ibunya. Tapi usahanya sia-sia.


Bagas segera menekan tombol nurse emergency. Tak lama kemudian, seorang perawat perempuan datang untuk memeriksa bu Ratna. Bagas menarik Kyara ke dalam pelukannya.


"Mohon maaf, pak, bu ! Ibu anda sudah meninggal." ucap sang perawat.


"Tidak...!"


Kyara kembali berlari ke arah ibunya. Dia mendekap erat ibunya sambil terus berteriak menyuruh ibunya bangun. Sedangkan Bagas, untuk sejenak dia tertegun seraya menatap wajah tua yang terlihat seperti sedang tidur dalam kedamaian.


Jadi, semalam adalah nasihat pertama dan terakhir yang kudapat dari ibu mertuaku....


Bersambung...


Lanjut nanti pulang kerja ya, gaiss...!!

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komen cerita ini...


🙏🙏


__ADS_2