
Keheningan kembali tercipta di antara mereka.
Aaron sudah benar-benar menyerah dengan usahanya. Dia tahu bagaimana kerasnya watak Kyara. Dia kemudian beranjak dari kursinya.
"Aku pergi Kya...!" pamitnya. "Jaga dirimu baik-baik !" lanjutnya. Dia pun berlalu pergi meninggalkan Kyara.
Begitu pula dengan Bagas. Dia segera mengikuti Aaron.
Tinggal Kyara yang masih duduk seorang diri di kursi itu. Matanya menatap nanar pada rimbunnya pepohonan di ujung taman. Seluruh tubuhnya bergetar, karena sudah tidak kuat lagi menahan rasa sesak di dadanya. Pada akhirnya, air mata yang sedari tadi ditahannya, turun deras melewati pipinya.
"Maaf.... hiks..hiks... maafkan aku Ar...! Maafkan aku...!" Kyara menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya semakin berguncang karena tangisnya.
Cukup lama Kyara menangis, hingga getaran ponselnya memaksa Kyara untuk menghentikan tangisnya.
"Eyang uti..." gumamnya.
Kyara segera mengangkat telponnya.
"Assalamualaikum.., eyang..!" ( Kyara )
"Kamu dimana, nak..?" ( nyonya Aini )
"Kya...kya...ada urusan dengan teman, eyang." ( Kyara )
"Baiklah...! Jika urusanmu telah selesai, cepatlah pulang ! Ini barang-barang yang kemarin kita beli, sudah datang. Eyang perlu bantuanmu untuk menata barang-barang ini di rumahmu." ( nyonya Aini )
"Baiklah eyang...! Kya pulang sekarang. Kebetulan urusan Kya sudah selesai kok..!" ( Kyara )
"Hati-hati di jalan, nak !" ( nyonya Aini )
"Iya, eyang...., assalamualaikum...!" ( Kyara )
"Waalaikumsalam...!" ( nyonya Aini )
Kyara menutup telponnya, dan segera pergi dari taman itu.
***
"Lo yakin dengan keputusan lo ?" kembali Bagas menanyakan pertanyaan yang sama ketika mereka hendak ke ruang dekan.
"Iya, Gas...!" jawab Aaron.
"Tapi Ar, apa nggak sebaiknya lo perpanjang saja cuti lo ?" saran Bagas.
"Sudahlah, Gas...! Jangan pengaruhi gue lagi ! Keputusan gue sudah bulat..!" jawab Aaron dengan nada yang mulai meninggi.
"Ya sudah...! Terserah lo saja...!" ujar Bagas, menyerah. "Tapi gue berharap, lo masih bisa tinggal di sini dulu. Yaaa..., minimal sampai berkas kepindahan lo, keluar !" ujar Bagas sedikit berharap agar Aaron bisa berubah pikiran. Masalahnya, hari ini juga Aaron memutuskan untuk kembali lagi ke Singapore.
Aaron menghentikan langkahnya, dia menatap Bagas. "Sorry, Gas..! Gue nggak bisa, lagipula nyokap masih butuh gue untuk menemaninya menjaga papa.." jawab Aaron. "Gue minta tolong ya..! Nanti setelah berkasnya keluar, tolong lo email ke gue, ya...!" pinta Aaron.
Bagas menepuk pundak Aaron, "Oke...!"
"Tolong jaga Kyara ya...!"
"Sudahlah...! Tidak usah pikirkan dia..! Ayo...! Sekarang kita urus berkasnya !" Bagas mengalihkan pembicaraan. Dia pun melangkahkan kakinya menuju ruang dekan.
"Bagas...!" Aaron mencekal lengan Bagas untuk menghentikan langkahnya. "Gue mohon...!"
__ADS_1
Bagas menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Baiklah !"
Aaron tersenyum, "Thanks..!"
Kembali mereka pun berjalan ke ruang dekan untuk mengurus surat kepindahan Aaron.
***
"Ayolah, Mit.. ! Kasih tahu gue, dimana Andin ?" rengek Ajay kepada Mita, salah satu sahabatnya Andin.
Ya...! Sejak pagi, Ajay berusaha mencari Andin untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi kemarin.
"Sumpah, Jay...! Gue nggak tahu dimana Andin.. !! Bukannya dua hari yang lalu dia jalan sama lo..! Pake nginep di hotel lagi..! Jadi, lo yang seharusnya tahu dia dimana..!" bentak Mita yang mulai merasa kesal karena terus diikuti oleh Ajay.
"Iya...! Tapi kemarin Andin pergi ninggalin gue..!" ucap Ajay seraya mengikuti langkah Mita yang hendak masuk kelas.
Mita menghentikan langkahnya. Dia kemudian membalikkan badannya. "Lo apain dia..?" tanyanya. "Gue tahu bagaimana sifat Andin ! Dia nggak mungkin pergi begitu saja jika tidak merasa tersinggung. Sebenarnya apa yang terjadi...?" lanjut Mita.
"Sudahlah...! Lo nggak perlu tahu..!" jawab Ajay, sinis.
"Ya sudah..! Sana.. ! Cari sendiri...! Jangan hubungi gue lagi, karena gue nggak tahu dimana keberadaan Andin !" teriak Mita.
"Shit.. !!" ujar Ajay merasa kesal. Dia pun kembali menuju tempat parkir.
BRAKK...
Karena terburu-buru, dia menabrak seseorang yang tak lain adalah Bagas dan Aaron.
Aaron menatap tajam kepada Ajay. Dia kemudian mendekati Ajay. "Dengar, dia kembali memilihmu. Jadi gue mohon dengan sangat, jaga dia ! Jangan sampai lo sakiti dia lagi !" ujarnya, mencoba berdamai dengan kenyataan.
"Sudahlah, bukan urusanmu..!" seru Ajay.
"Ups..! Santai bro..! Sekarang dia milik gue sepenuhnya, jadi gue berhak memperlakukan dia semau gue..!" tukas Ajay seraya menepiskan tangan Aaron dari kerah bajunya.
Wajah Aaron memerah, jika bukan di kampus, rasanya dia ingin menghajar Ajay habis-habisan.
"Sudahlah...! Ayo kita pergi..!" Bagas menarik tangan Aaron, untuk menghindari perkelahian antara kedua sahabatnya.
"Ya.. ! Pergilah.. ! Aku tak punya waktu untuk melayani kalian. Aku harus mencari kekasihku..!" ujar Ajay yang membuat Bagas tanpa sadar mengepalkan tangannya.
Cihh..., seperti ini orang yang kau bela, nona..! Seorang pengecut yang tidak tahu malu...! Ya Tuhan..., aku tidak bisa membayangkan seperti apa pernikahan yang akan kau jalani nanti...! batin Bagas.
Ajay kembali berlari menuju tempat parkir. Tiba di sana, dia pun melajukan mobilnya dengan kencang. Tujuannya kali ini adalah rumah Laura, sahabat Andin yang kedua.
45 menit berlalu. Ajay pun tiba di rumah Laura.
Tok...tok...tok...
Ajay mengetuk pintu rumah Laura.
"Ya...! Sebentar...!" jawab seseorang dari dalam rumah.
Ceklek...
Pintu terbuka, "Maaf...! Cari siapa ya, nak...?" tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya Laura.
"Maaf tante..! Apa Laura nya ada ?" tanya ajay ragu-ragu.
__ADS_1
"Oh.., temannya Laura ya...? Ayo silakan masuk..! Tante panggilkan dulu ya...!" ujar wanita itu.
Tak lama kemudian, Laura datang. "Elo, Jay..! Ngapain lo ke sini ?" tanya Laura.
"Gue lagi cari Andin ! Apa dia ada ?" tanya Ajay.
"Lo salah alamat Jay..! Kalau mau cari Andin, ya ke rumahnya..! Bukan ke rumah gue..!" tukas Laura.
"Please Ra...! Panggilin Andin dong...!" rengek Ajay.
Laura menarik napasnya, panjang. "Gue udah bilang, Andin nggak ke sini. Lo coba tanya Mita deh..! Kali aja dia tahu..!" jawab Laura.
"Gue sudah tanya ke Mita, tapi dia juga nggak ada di rumah Mita." jawab Ajay. "Lo tahu nggak tempat kalian nongkrong selain G Night Club...?" tanya Ajay lagi.
"JB Coffee Shop..! Lo coba cari ke sana. Barangkali Andin pergi ke sana..!" jawab Laura.
"Oke...! Thanks ya, Ra...!" ujar Ajay. Dia pun pamit dan kembali melajukan mobilnya menuju JB Coffee Shop.
Tiba di JB, Ajay mengedarkan pandangannya mencari sosok Andin di antara puluhan pengunjung. Namun bayangan gadis cantik bermata sipit itu tak nampak di sana.
"Permisi, mas...! Mau pesan sekarang...!" ujar salah seorang pelayan, menghampiri Ajay.
Ajay mengeluarkan ponselnya, dia mencari foto Andin, kemudian menunjukkannya kepada pelayan itu.
"Apa gadis ini pernah berkunjung kemari..?" tanya Ajay kepadanya.
"Oh..., mbak Andin...!" ujar sang pelayan yang ternyata mengenali sosok Andin.
"Ya, benar..! Namanya Andin...? Apa kemarin dia datang kemari..? Apa kau tahu dimana dia ?" tanya Ajay lagi.
"Maaf mas.., saya tidak tahu rumahnya mbak Andin. Dia memang sering datang kemari bersama dua orang temannya. Tapi sekarang..., sudah hampir dua minggu dia tidak pernah datang..." jawab sang pelayan.
"Apa kau yakin...?" tanya ajay lagi.
"Iya mas, saya yakin sekali. Karena kalau mereka datang, saya lah yang meracik kopi kesukaan mereka." jawab pelayan itu.
"Baiklah, terima kasih."
Ajay pun keluar dari coffee shop itu dengan langkah gontai. Kemana lagi gue harus cari lo, Ndin...! batin Ajay
Ajay kembali menyusuri jalanan. Berharap bisa menemukan Andin di jalan, di halte, di mall..., tapi tetap saja. Pencarian Ajay hari ini tidak berhasil.
Tengah malam Ajay baru pulang ke rumahnya. Kyara yang membukakan pintu, menjadi sasaran kekesalan Ajay karena tidak berhasil mencari Andin.
Sementara itu, di waktu yang sama, di sebuah apartemen yang berada di kawasan pinggir kota.
"Sudah malam An...! Tidurlah...!" ucap seorang gadis berambut pirang kepada sahabatnya yang sedang bersedih.
Bersambung....
Siang readers...
Maaf nih... author baru pulang kerja..., jadi agak telat up..
Jangan lupa like vote n komennya ya
Dukungan kalian adalah vitamin buat author untuk bisa berkarya lebih baik lagi..
__ADS_1
🙏🙏🙏🤗