
Terlihat Kyara tengah menuruni tangga. Secepat kilat Ajay menghampirinya.
"Kya aku mohon...! Jangan seperti ini...!"
Namun Kyara sudah tidak peduli. Dia masih terus berjalan melewati Ajay.
"Kya...., Kya...! Ayolah...! Kita tidak bisa berpisah...! Ba... bagaimana dengan keinginan almarhum eyang ! A..aku tidak bisa...!"
Kyara berhenti. Sejenak dia menengadahkan wajahnya, menahan air matanya agar tidak turun. Sedetik kemudian dia membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Ajay.
"Kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan mengambil sepeser pun harta warisan eyang !" ujar Kyara dingin.
Nyonya Diana yang sedari tadi sudah merasa panik mendengar keputusan Kyara, kini dia bisa bernapas dengan lega.
Syukurlah..., Ajay tidak akan menjadi gembel. Baguslah.., jika dia pergi dari kehidupan Ajay. Tapi bagaimana dengan gadis itu, siapa tadi namanya...?? Cecilia..., ya Cecilia, apa Ajay harus menikahinya ? Tapi, tak apalah jika Ajay harus menikahinya, setidaknya, derajatnya sama dengan keluargaku...! Batin nyonya Diana dengan senyum menyeringainya.
"Tapi Kya...!" Ajay masih mencoba menghalau jalan Kyara.
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan ! Jangan halangi jalanku !"
"Baiklah, kau sudah mengambil keputusan, dan sekarang dengarkan keputusanku ! Aku akan menikahi Cecilia, tapi setelah anaknya lahir, aku akan menceraikannya dan menikahimu. Aku mohon bersabarlah...!"
Kyara terhenyak, namun dia sudah tidak punya kekuatan untuk berdebat. Dia pun terus melangkah meninggalkan ruang tamu.
"Kya, aku anggap diammu sebagai jawaban iya darimu !" teriak Ajay.
Kyara kembali menghentikan langkahnya.
"Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi, kau akan sakit jika tidak pernah bisa menggapai mimpimu ! Aku tegaskan hari ini juga. Aku tidak akan pernah kembali padamu !"
Setelah itu dia pun pergi tanpa menoleh sedikit pun ke arah semua orang. Bahkan Bagas yang sedang berada di pintu ruang tamu, dia lewati begitu saja.
Pikiran Kyara telah kacau. Yang dia inginkan saat ini adalah segera kembali ke rumah dan memeluk ibunya. Kyara terus berjalan, tanpa sadar dia pun telah melewati pintu gerbang.
Bagas yang mulai menyadari kepergian Kyara, segera berlari untuk menyusulnya.
"Nona...! Tunggu nona...!" panggil Bagas
Namun Kyara masih tetap berjalan. Rasa hampa di hatinya telah menulikan telinganya. Dia pun terus berjalan dengan tatapan kosongnya. Sejenak dia menghentikan langkahnya, pandangannya terasa buram karena terhalang air mata yang sudah mulai deras mengalir.
Bagas segera mencekal lengan Kyara begitu melihat Kyara menghentikan langkahnya.
Kyara membalikkan badannya, "Lepaskan aku !"
Bagas menggelengkan kepalanya, "Jangan pergi !" pintanya.
"Aku harus pergi, aku sudah tidak punya alasan untuk tinggal di sini !" ujar Kyara mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Bagas.
"Menikahlah denganku !"
Tiba-tiba kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Bagas.
Kyara diam, begitu pun Bagas.
"Aku tidak butuh rasa kasihan, lepaskan tanganku !" ucap Kyara berubah menjadi dingin.
Tiba-tiba seorang ojol ( ojek online ) melintas pelan di hadapan mereka.
__ADS_1
"Mas...!" panggil Bagas seraya melambaikan tangannya.
Sang ojol berhenti tepat dihadapan mereka.
"Iya, mas ! Mau naik ojek, mas ?" tawarnya.
Bagas mengeluarkan KTP dari dompetnya. Kemudian dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kunci mobilnya.
"Ini KTP dan kunci mobil saya, boleh saya pinjam motornya sebentar ? Anggap saja, kedua benda ini sebagai jaminannya !" ujar Bagas.
Sang pemilik motor hanya bisa melongo mendengar permintaan Bagas.
"Tapi, mas...!
"Aku mohon, aku janji tidak akan lama !"
"Ba.. baiklah...!"
Pemilik motor itu pun menyerahkan kunci motornya kepada Bagas.
Bagas menerimanya, dia kemudian menarik tangan Kyara pelan.
"Naiklah ! Kita cari tempat untuk bicara !"
Tanpa melawan, Kyara pun mengikuti perintah Bagas. Setelah itu mereka pergi ke sebuah kafe yang jaraknya tak jauh dari perumahan elite itu.
Bagas segera memarkirkan motornya dan mengajak Kyara memasuki kafe. Bagas memesan private room agar mereka lebih leluasa untuk mengobrol.
Private room yang sangat nyaman. Terdapat bantal-bantal berukuran besar yang digunakan sebagai alas untuk duduk.
Karena merasa lelah, Kyara pun segera menghempaskan bagian tubuhnya ke atas bantal tersebut. Dia menelungkupkan wajahnya di atas meja, tubuhnya kembali berguncang karena menangis. Sementara Bagas pergi keluar untuk memesan minuman.
Perlahan, Bagas menghampiri Kyara. Menyentuh pucuk kepala Kyara dan mengusapnya dengan lembut.
Kyara mendongak. Matanya terlihat bengkak. Dia pun segera menyeka air matanya dan mencoba untuk tersenyum kepada Bagas.
"Minumlah !" Bagas menyodorkan secangkir kopi latte ke arah Kyara.
Kyara menerimanya dan mereguk kopinya. Setelah itu dia kembali meletakkan cangkirnya di meja.
"Menikahlah denganku, Kya !" pinta Bagas.
Kyara hanya bisa tersenyum menanggapi permintaan Bagas
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja, kak !"
"Kya, aku serius ?"
"Apa kau mencintaiku ?"
Bagas terdiam kaku mendengar pertanyaan Kyara. Dia ragu untuk menjawab, karena selama ini dia belum pernah berpengalaman dengan seorang wanita. Dia tidak tahu, apa dia mencintai Kyara atau tidak. Yang dia tahu, hatinya sakit melihat Kyara menangis.
"Kak...??"
"Eh..., ma..maaf Kya...!"
"Apa kau mencintaiku ?" Kyara mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
Bagas mengalihkan pandangannya, dia menatap sendu keluar jendela.
"A...aku tidak tahu Kya, aku belum pernah dekat dengan seorang wanita. Yang aku tahu, aku tidak ingin melihatmu menitikkan air mata lagi.
"Itu artinya, kakak tidak mencintaiku. Kakak hanya merasa iba padaku."
"Tapi Kya...!"
"Cukup kak ! Aku tidak butuh rasa kasihan dari siapa pun. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri." ujar Kyara. Kali ini kalimatnya terdengar sangat dingin.
Bagas hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia sangat kecewa mendengar ucapan Kyara. Meski dia tidak mengerti akan perasaannya, tapi dia kecewa melihat Kyara menolak permintaannya.
"Bisakah aku pulang sekarang ?" tanya Kyara.
Bagas menatap Kyara lekat. Entah kenapa, pandangan Kyara terasa dingin menusuk hatinya. Tatapan teduh dari mata Kyara seolah sirna. Dalam sekejap, Bagas bisa merasakan jika Kyara berubah.
"Tidak bisakah kau memikirkan lagi keputusanmu ?"
Kyara menggelengkan kepalanya.
"Demi eyang uti ? Demi amanat eyang akung ?"
Kembali Kyara menggelengkan kepalanya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan ?"
"Aku tidak tahu. Namun yang pasti, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di kota ini ! Aku akan menghapus semua kenanganku di kota ini !" tekad Kyara.
"Termasuk kenangan kita ?"
"Ya...! Termasuk kenanganku bersama kak Bagas !"
Deg...
Bagas terhenyak mendengar ucapan Kyara. Sedetik kemudian dia merasa lemas mendengar ucapan Kyara. Entahlah, dia tidak tahu apa yang dirasakannya. Satu yang dia tahu, kini rasa kecewa tengah bersemayam di hatinya. Dia kecewa mendengar Kyara akan melupakan dirinya dan semua kenangan bersamanya.
"Kak...!" ujar Kyara seraya menyentuh tangan Bagas.
Sentuhan Kyara menyadarkan Bagas dari lamunannya.
"Kenapa Kya ?"
"Bisakah kakak mengantarku ke terminal ?" pinta Kyara.
Bagas mengangguk tanpa semangat.
"Tunggulah di sini sebentar ! Aku hendak menemui tukang ojek itu dan membawa mobilku kemari !"
Kyara mengangguk. Bagas pun meninggalkan Kyara untuk menukar motornya dengan mobil miliknya. Tak lama berselang, Bagas kembali dan mengajak Kyara pergi dari kafe itu.
Sepanjang perjalanan mereka hanya bisa saling diam. Kyara masih asyik merangkai kata yang akan disampaikannya kepada kedua orang tuanya tentang gagalnya pertunangan dia dengan Ajay. Sedangkan Bagas sedang sibuk mencari makna yang sebenarnya, dari rasa yang dimilikinya untuk Kyara.
Jika aku tidak mencintainya, lalu kenapa aku merasa, aku ingin menikahinya dan menggantikan posisi Ajay di hidupnya ? Apa memang karena rasa kasihan ? Aaarrhhh...., kenapa urusan hati begitu rumit...!! pikir Bagas.
Bersambung...
Happy Sunday...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗🤗