
"Udah dong natap pak Mario nya".Ucap seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Nita.
Yah,sejak dia mendapati Mario tersenyum pada Nabila semenjak itu penglihatannya tak pernah lepas dari Mario dan Nabila seakan mereka tengah mengumumkan hubungan mereka pada semua orang.
Nabila memutar badannya,menatap wanita yang menyindir diri nya.Nabila, mengerutkan keningnya pada mantan sahabat yang dulu selalu ada untuk nya bahkan berani membelanya,menjadi tameng, pertahanan kokoh dalam menghadapi setiap hinaan dan buying yang tertuju padanya.
"Turunkan pandangan mu,murid miskin".Hina Nita,dia beranjak dari kursinya dan mendekati Nabila yang menatap padanya."Jangan coba-coba kau merebut Mario dari ku".Bisik Nita di telinga nabila.
Sontak saja,Nabila menatap pada Nita dan mengerutkan keningnya seolah tak percaya apa yang dia dengar.
Nita, mencondongkan badannya lagi."Mario milik ku,dia tetap menjadi milik ku sebab dia dan keluarga ku telah terikat kontrak, perjanjian yang hanya kalangan atas saja yang tau".Jelas Nita,sebelum kembali duduk di kursinya.
Nabila,semakin tak mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Nita.Perjanjian?,kontrak?, keduanya tak bisa di pahami oleh Nabila yang hidupnya tak berada di lingkungan mereka.
__ADS_1
Jam pelajaran terus bergulir tanpa terasa,satu persatu guru silih berdatangan untuk menunaikan tugas mereka dalam mencerdaskan anak bangsa,tugas mulia yang di emban kan kepada mereka, memberikan cahaya penerang di tengah kegelapan dan memberikan jalan di tengah kebingungan.
Pukul 1 siang, adalah waktu pelajaran telah usai.Sebagian murid ada yang melanjutkan aktivitas mereka dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ada pula yang langsung pulang.
Nabila,meski dia tak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tetapi dia harus menyempatkan diri pergi ke perpustakaan untuk sekedar menempelkan karya fiksi atau singgah terlebih dahulu,membaca buku barang sejenak dan mencari bahan referensi disana.
Siang ini pula tanpa melupakan catatan kecil dari pak Mario,dan ancaman dari Nita.Nabila mampir ke perpustakaan untuk menempelkan karya fiksi nya dan mampir terlebih dahulu ke dalam ruangan perpustakaan sejuta kenangan.
Dengan hati-hati Nabila menempelkan kertas HVS berisi karya fiksi nya dalam Mading perpustakaan yang lumayan tinggi untuk ukuran tubuhnya.
"Perlu bantuan?".Tanya seorang pria yang tanpa sengaja melihat Nabila tengah kesusahan menempelkan kertas HVS.
"Gak perlu".Sahut Nabila tanpa menoleh.
__ADS_1
"Sombong sekali,jelas kau butuh bantuan pake acara nolak segala".Pria itu tanpa persetujuan Nabila,dia mendekati tubuh Nabila dan berdiri tepat di belakang nabila.
"Sudah aku bilang,aku gak perlu bantuan mu".Gertak Nabila,tak terima dengan bantuan dari pria itu.
Tanpa menerima penolakan,pria itu malah menempelkan tangannya nya di tangan Nabila dan tubuhnya amat dekat dengan tubuh Nabila yang tak bisa melakukan perlawanan atas tindakan pria itu yang cepat dan agresif.
"Sudah terpasang".Ucap pria itu, tanpa melepaskan tangan nya yang sengaja menempel pada tangan nabila.
Aroma mint dapat Nabila cium dari tubuh pria itu apalagi tubuh nya dan tubuh pria itu amat dekat tanpa sekat, bahkan tubuhnya menempel di tubuhnya yang berada tepat di belakangnya.
Nabila menoleh kearah pria itu, berbarengan dengan pria itu yang juga ikut menatap nabila.Pertemuan antara mata mereka tak dapat di hindari, bahkan pria itu sengaja menempelkan kening nya di kening Nabila, seperti hendak mencium bibir ranum nabila.Bibir nya semakin lama,semakin mendekat tapi di detik berikutnya Nabila membenturkan keningnya di kening pria itu hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Shitt".
__ADS_1