Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 40


__ADS_3

Sesuai janjinya,Nita mengantarkan pulang Nabila dengan selamat dan aman tak kekurangan satu apapun bahkan air mata yang kemarin sempat menetes, sekarang tak ada lagi.Kekecewaan dan sakit hati yang sempat di rasa Nabila,kini tak perlu di rasakan lagi.


Nita,tak pernah mampir ke rumah gubuk Nabila.Bukan karena tak mau apalagi minder hanya saja ada banyak kegiatan positif yang harus dia lakukan agar dia tak di coret dari daftar buku keluarga atau bahkan tak mendapatkan harta warisan.


"Bil,maaf untuk kemarin yang membawa mu ke sebuah cafe dengan akhir yang tak sesuai ekspektasi.Masf aku tak bisa mampir dan sampai salam ku pada ibu dan adik mu".Pamit Nita,sebelum melesat pergi.


"Gak papa Nita,aku yang minta maaf karena telah pergi tanpa sepengetahuan mu".Sahut Nabila,ikut meminta maaf atas perlakuan nya yang tidak sopan.


Kedua sahabat itu saling memaklumi dan melambaikan tangan tanda perpisahan mereka yang sementara.Di pisahkan oleh aktivitas dan kesibukan mereka yang berbeda dari keluarga yang berbeda pula.


Nabila,tersenyum.Lagi-lagi dia berandai-andai bilamana dia memiliki mobil mewah seperti Nita, lagi-lagi dia hanya bisa berandai-andai tanpa tau nasib hidupnya.


Lamunan nabila terhenti kala dia teringat akan brosur yang pernah di berikan oleh pak Mario untuk nya.Hampir dia melupakannya,dan mengabaikan kesempatan emas itu.

__ADS_1


"Brosur itu".Teriak Nabila,berlari terbirit-birit ke dalam rumahnya.


Nabila, mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh suara cempreng nisa yang dengan sigap membukakan pintu.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,kakak pulang".Teriak Nisa,berlari kegirangan.


Nabila tersenyum dan mengelus puncak kepala Nisa penuh dengan sayang.Nabila melangkah masuk sembari mengenggam tangan Nisa yang bersikap manja pada nya.


"Sudah makan dek?".


Nabila,kembali tersenyum.Sadar betul dengan kebiasaan Nisa yang belum pernah makan bila tak ada Nabila menemaninya,bukan itu saja yang menjadi alasannya melainkan karena lagi-lagi faktor ketidak adaan uang yang menjadi alasan terbesarnya.


Nabila,mengajak Nisa makan bersama tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu

__ADS_1


Mendahulukan kepentingan urusan perut Nisa yang mulai mengeluarkan suara cacing-cacing di perutnya.


Nabila, melangkah ke dapur untuk mengambil satu centong nasi berserta dengan lauk pauknya.Tapi, begitu dia berada di ambang pintu tang menghubungkan ruang tengah dengan dapur, terlihat kepulan asap berwarna hitam yang berasal dari arah dapur.


Dengan panik dan cemas,Nabila berlari kearah dapur.Takut terjadi kebakaran yang mungkin terjadi tanpa sepengetahuan orang rumah.


"Bil,udah pulang?". Kekhawatiran Nabila terhenti kala suara lembut itu menyambut dirinya yang masuk ke dapur dengan berlari khawatir.


Nabila,menatap sosok perempuan yang bertanya padanya dengan lembutnya dan menghampiri sosok yang paling dia sayangi di muka bumi ini, wanita yang melahirkan nya tengah duduk diatas kayu sambil sesekali meniup api melalui bilah bambu yang sudah di beri lubang cukup besar.


"Ibu masih sakit,kenapa ibu memaksakan diri menggoreng makaroni ini?".Tanya Nabila,cemas.


Ibu martinah tersenyum."Ibu sudah mendingan nak,sudah tak lagi merasa pusing.Kalau ibu beristirahat terus,kalian mau makan apa?".Ibu martinah,kembali meniup api yang hampir padam karena di biarkan terlalu lama dari bilah kayu dan bambu.

__ADS_1


Nabila,memeluk tubuh kurus ibunya dengan erat,setetes air mata jatuh di pelupuk matanya.Lihatlah wanita yang telah melahirkan nya,rela berkorban demi masa depan anak-anaknya.


"Terimakasih ibu".Gumam Nabila, melepaskan pelukannya dan ikut membantu ibunya mempersiapkan barang dagangannya.


__ADS_2