
Nabila,terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara alarm yang sengaja dia pasang sebagai pengingat di waktu bangun nya dari tidur panjangnya.
Segala kegelisahan dan keresahan yang sempat di rasakan Nabila pada malam hari kini menguap ke udara seiring dengan tidurnya yang nyenyak dan tercukupi.
Nabila,beranjak keluar menuju kamar mandi yang tak jauh dari kamarnya, yang berdekatan dengan dapur dan melewati jalan Bu martinah yang tengah asyik menggoreng Makaroni balado dalam jumlah besar.
"Ibu".Nabila,tak bisa mempercayai apa yang di lihatnya,dimana ibunya tengah berkutat di dapur dengan makaroni goreng yang telah di bungkus rapih dalam kemasan plastik.
Ibu martinah menoleh,dan mendapati putrinya yang berdiri mematung sembari menatap makaroni yang sudah dia goreng dalam jumlah besar.
"Eh,Nabila".Ibu martinah, menghentikan menggoreng Makaroni balado nya sementara dan beranjak menghampiri Nabila."Kau,tak keberatan ibu menggoreng makaroni dalam jumlah besar kan?,kalau kamu keberatan nanti ibu yang akan bantu kamu berjualan".Ibu martinah menyesali tindakannya yang gegabah.
__ADS_1
Nabila,bergeleng kepala bukan dia terkejut dengan jumlah makaroni goreng nya yang terlalu banyak melainkan ibunya yang harus menggoreng makaroni dalam jumlah besar di pagi buta yang bahkan sebagian orang masih terlelap tidur.
"Bukan itu maksud ku Bu,tapi_".
"Tapi kenapa nak?,kau tak suka?".Ibu martinah, melemparkan beberapa rentetan pertanyaan yang menjadi kekhawatirannya selama ini.
Nabila, mengenggam tangan ibu martinah dengan lembut.Ibu nya terkadang suka menyerobot ucapan orang lain tanpa mendengarkan penjelasan dari orang lain secara menyeluruh.
"Bu, dengarkan aku.Aku tidak marah apalagi kecewa,tapi kenapa ibu harus menggoreng Makaroni dalam jumlah besar di pagi buta tanpa membangunkan aku?".Nabila menjelaskan untuk permasalahannya tanpa menyinggung perasaan ibunya yang sensitif.
Ibu martinah,mengelus tangan Nabila dan menatap nya dengan berkaca-kaca.Ibu martinah mencium tangan Nabila,dan mengelus nya kembali seakan menyampaikan beribu permintaan maaf nya pada anak sulung nya yang harus rela ikut bekerja keras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari nya.
__ADS_1
"Maafkan ibu nak".Ibu martinah tak kuasa menahan lelehan air mata yang sedari tadi berusaha dia pendam agar tak terlihat rapuh dan lemah.
Nabila, semakin tak mengerti dengan sikap ibunya.Setau nya dia hanya bertanya dengan sangat hati-hati,agar ibunya tak tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Bu".Nabila melepaskan genggaman tangan ibunya dan menyentuh pundak ibunya."Ibu tak perlu minta maaf,justru Nabil lah yang harus minta maaf kepada ibu yang telah berjuang dan berusaha demi masa depan aku dan Nisa,aku yang harus meminta maaf atas segala kesakitan dan penderitaan ibu yang selama ini di timbulkan oleh ku".Nabila,mengelus air mata ibu martinah dan memeluknya tanda sayang.
Ibu martinah balas memeluk putrinya,jauh dalam lubuk hatinya dia menyesal dan merasa bersalah karena telah membiarkan kedua putri nya hidup menderita,jauh dari kata mewah.
"Maafkan ibu nak".Sesal ibu martinah,yang tak pernah dia memberikan kebahagiaan untuk kedua putrinya.
Nabila,memeluk erat tubuh ibu martinah dan bergeleng kepala."Sudah Bu jangan terus meminta maaf".Kata Nabila,sembari menangis dalam pelukan ibu martinah.
__ADS_1