
Pemilik warung yang bernama Matius itu menyuruh Mario untuk duduk di sampingnya sembari menyuruh dia untuk bercerita kembali tentang hari-hari yang dia lalui sebagai guru honorer di sebuah sekolah elit,dimana hampir seluruh murid berasal dari kalangan atas.
Sekolah yang di sinyalir merupakan sekolah favorit dan kebanggaan yang ada di dekat pedesaan dengan biaya sekolah nya yang tinggi namun fasilitas nya lengkap dan ada pula sebagian muridnya yang berprestasi.Kalaupun ada murid yang berasal dari kalangan menengah ke bawah,dia sudah di pastikan bisa masuk dengan jalur beasiswa.
Nabila Kemala, contohnya.Dia bisa masuk ke sekolah elit dan menjadi favorit itu karena beasiswa yang di milikinya serta segudang prestasi yang tak bisa di ragukan lagi apalagi harus menolak murid sepintar nabila.
Tak terasa,Mario terus bercerita hingga pakaian mulai mengerti g dan waktu terus beranjak naik hingga pukul 1 dinihari.
Suasana sepi dan mengantuk mulai menyerang kedua manusia berbeda generasi itu.Mario, memutuskan untuk pulang dan Matius,si pemilik warung tenda juga memutuskan untuk menutup warungnya di bantu oleh Mario.
"Tetaplah rendah hati dan menolong sesama, tanpa pamrih". Nasehat Matius untuk Mario,sebelum mereka berpisah di persimpangan jalan.
__ADS_1
"Iya, terima kasih atas nasehatnya dan terima kasih atas kebaikan mu.Semoga yang Maha Kuasa,membalas kebaikan mu".Sahut Mario, memberikan salam perpisahan dengan sebuah pelukan hangat.
Mario pulang dengan menggunakan mobil HRV hitam keluaran terbaru yang dia parkirkan jauh dari warung tenda milik Matius.
Mario,tidak miskin hanya berpura-pura miskin yang berawal dari sebuah eksperimen nya tentang kepedulian sosial hingga dia terbiasa hidup sederhana dan berbaur dengan masyarakat di kalangan bawah dan tercipta lah sikap dermawan dan rendah hati nya.
Mario,membuka baju basahnya dan membuang ke sembarang arah,dia lalu masuk ke dalam mobil mewahnya yang berisi pakaian ganti yang sudah dia siapkan untuk berjaga-jaga.
Percakapan melalui aplikasi itu terlihat tegang dan alot seperti debat Nabila dan Nathan,dimana keduanya tak ingin di kalahkan satu sama lain.
Mario,menutup percakapan dengan helaan napas panjangnya.Dia tak hanya aktif mengajar sebagai guru honorer namun dia juga aktif dalam membantu bisnis orang tuanya.
__ADS_1
Seandainya Nita jeli,mengenali Mario mungkin indentitas akan terbongkar.Beruntung indentitas Mario dan penampilan nya ketika mengajar dengan melakukan bisnis orang tuanya dia tidak menyamaratakan nya.
"Hah..Semoga indentitas ku tak ada yang mengetahui nya".Harap Mario,sembari tangannya menggeser album berisi beberapa foto.Salah satu nya terdapat foto Nabila yang tengah memegang sebuah piala lomba debat tingkat nasional dengan senyum mengembang menghiasi bibirnya.
Mario,memandangi foto Nabila tanpa berkedip.Anak didiknya yang satu ini memang berbeda dengan murid yang lainnya.
Dia tak hanya cantik secara fisik namun juga cantik dari dalam.Kebaikannya,kelembutannya dan segala yang ada padanya telah menarik perhatian Mario sejak dia baru pertama menginjakkan kaki di sekolah elit dan favorit.
"Nabila,kenapa kamu cantik sih?".Gumam Mario,mengelus foto Nabila seakan mengelus pipinya yang putih seputih salju.
Puas memandang foto Nabila,Mario menutup ponsel nya dengan sebuah kecupan.Dia memasang kunci mobilnya dan menghidupkan mobilnya bersiap untuk pulang ke rumah dan menyambut pagi hari dengan karya fiksi milik nabila.
__ADS_1