Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 208


__ADS_3

Nabila merasa risih dengan tatapan Noval yang terus terarah padanya apalagi tatapan itu sangat tak enak untuk di pandang, seperti menyiratkan raut wajah kecewa dan kesal.


Nabila, memilih untuk keluar kelas bukan hanya saja untuk menghindari tatapan Noval yang terus tertuju padanya,akan tetapi makaroni balado Nabila yang belum semua laku.


"Ada apa dengan dia?".Tanya Nabila pada diri sendiri sembari melangkah pergi meninggalkan Noval yang masih duduk sendirian dengan tatapan yang tak pernah lepas tertuju padanya.


Nabila,menyusuri setiap ruangan kelas menawarkan makaroni balado nya yang hanya tinggal beberapa bungkus lagi di sisa waktu istirahat yang sebentar lagi habis.


"Makaroni... Makaroni".Nabila,mulai berteriak menawarkan dagangannya pada setiap orang yang lewat atau bahkan tengah berada di dalam kelas.


Dalam hitungan detik,Nabila sudah dikerubungi oleh murid yang setia membeli dagangan makaroni Nabila yang rasanya enak dengan harga terjangkau.


"Alhamdulilah".Ucap syukur Nabila panjatkan kala dagangannya sudah habis tak bersisa.

__ADS_1


Kring


Kring


Kring


Tepat saat Nabila hendak melangkah pergi menuju ruangan kelas,bel tanda istirahat telah usai berbunyi dengan nyaringnya dan Nabila tak perlu lagi berhadapan dengan Noval yang terus menatapnya bak predator yang tengah mengawasi mangsanya.


Dengan, langkah lebar Nabila berusaha untuk sampai ke ruangan kelas nya bersamaan dengan murid lainnya yang juga tengah berjuang untuk sampai ke ruangan kelas dengan cepat.


"Baru sampai?".Nabila,di sambut oleh pertanyaan dari sahabat karib rival debat nya dengan muka masam dan tak bersahabat.


Nabila,tak menggubris pertanyaan Noval menoleh pun tidak.Langsung pergi duduk di kursi nya dengan tatapan terus mengarah ke depan tak menengok kesana-kemari.

__ADS_1


"Ck,sombong sekali". Dapat Nabila,dengar suara penuh kekecewaan dan ketidaksukaan Noval terhadap sikapnya.


Masa bodoh bagi Nabila.Toh, mereka tak bisa di perlakukan dengan secara halus dan baik-baik sama seperti ketua nya.


Jam pelajaran ke-3 dan terakhir berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan apalagi harus di sertai dengan intrik drama antara Nathan dan Nabila yang lazim nya selalu ada di setiap mata pelajaran dan setiap harinya.Nathan dan nabila,sudah seperti musuh bebuyutan yang di satukan secara tidak sengaja.


Tak sedikit yang mengeluh bahkan merasa kesepian karena suasana kelas yang berubah hening tanpa ada sosok Nathan,si ketua kelas yang meramaikan suasana kelas dengan tingkah laku dan perdebatan nya bersama dengan Nabila,si cantik penuh perjuangan.


Bel,tanda mata pelajaran telah usai kembali berbunyi nyaring.Nabila,kembali mengucapkan syukur nya karena telah di berikan kelancaran tanpa debat dan drama.


Nabila, membereskan alat tulisnya dan beberapa buku sebelum beranjak pergi dan tentunya dia harus mampir terlebih dahulu ke perpustakaan untuk menempelkan karya fiksi nya.


"Seneng yah,gak ada Nathan?".Kembali Nabila mendapatkan pertanyaan di sertai dengan kata sindiran dari sahabat karib Nathan yang seperti tak rela Nabila bisa bernapas dengan lega karena ketidakadaan Nathan selama seharian full ini.

__ADS_1


Lagi-lagi Nabila,tak memperdulikan ocehan Noval yang sama seperti Nathan tak memberikan nya ruang gerak bahkan bernapas pun sepertinya susah melakukannya.


"Hah.."Nabila,menghela napasnya setelah benar-benar keluar dari ruangan kelas yang penuh dengan sesak dan intrik drama.


__ADS_2