Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 129


__ADS_3

Kokok ayam terdengar begitu nyaringnya,cahaya mentari malu-malu mengintip melalui celah-celah lubang atau jendela yang tak tertutup tirai gorden.


Nabila, menggeliat.Tubuhnya terasa remuk redam,tak kuat bangun barang sejenak pun untuk memulai aktivitas paginya dan menyiapkan dagangannya.


"Hoam..."Dengan sekuat tenaga Nabila,memaksa tubuhnya untuk berdiri dan memulai kembali aktivitas seperti semula.


Tak lupa Nabila melihat jam yang di letakkan diatas dinding tak jauh dari dirinya yang terlihat ogah-ogahan bangun dari mimpinya.


"What?...Jam setengah 6".Nabila terlonjak kaget dengan arah jarum jam yang menunjukkan pukul setengah 6.


Dengan sigap dan buru-buru Nabila merapihkan selimut dan berlari ke kamar mandi tak lupa membawa baju seragam untuk dia pakai hari ini.


Mandi kilat Nabila lakukan di sisa waktu yang terus bergulir tanpa bisa di hentikan, apalagi bisa mundur kembali.


Nabila,bergegas ke dapur mengecek dagangan makaroninya takut benar dia tak bisa berjualan dan tak bisa mengumpulkan pundi-pundi uang untuk bertahan hidup.

__ADS_1


"Nabil,kamu bisa tidak melakukan sesuatu dengan tidak terburu-buru seperti itu?".Hardik ibu martinah yang menatap heran pada tingkah laku Nabila yang tidak biasanya.


Nabila yang hendak berlari ke dapur, mengurungkan niatnya dan menghampiri ibu martinah yang duduk sembari menggosok baju tetangga.


"Ibu,aku bangun kesiangan dan ibu tidak membangunkan ku_".


"Sengaja".Sahut ibu martinah,menoleh kearah Nabila sebentar sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Sengaja?".


Nabila,menepuk jidatnya.Bisa-bisanya ibu nya membiarkan dia beristirahat dengan tenang nya sedang dirinya tengah bersusah payah mencari sesuap nasi.


"Tapi,kenapa Bu?".Nabila ikut duduk di samping ibu martinah,berkeluh kesah dan bertanya secara baik-baik pula.


Ibu martinah tidak langsung menjawab pertanyaan Nabila,dia justru terlihat fokus dengan pekerjaannya sendiri sebagai kuli gosok.Membiarkan Nabila merengek manja padanya.

__ADS_1


"Jawab bu".Desak Nabila dengan sabar menunggu jawaban dari ibu martinah yang malah asyik menyetrika baju tetangga dengan fokus nya tanpa memperdulikan Nabila yang merengek meminta jawaban.


"Kamu tak perlu mengkhawatirkan dagangan mu,ibu sudah menggoreng dan menyiapkan dagangan mu".Hanya itu jawaban dari ibu martinah di tengah-tengah Nabila yang mendesak meminta jawaban atas pertanyaan nya.


Nabila,mundur beberapa langkah.Kecewa, dengan jawaban ibunya.Bukan itu jawaban yang ingin dia dengar,tapi rupanya ibunya tak mau memberikan jawaban yang pasti.


Alasan ingin memberikan Nabila ketenangan dengan membiarkan Nabila bangun siang di tengah lelah nya tubuh akibat di paksa untuk terus bekerja,bukan lah alasan yang logis.


Nabila,beranjak ke dapur mengecek dagangan nya yang harus dia jual dan memang benar ibu martinah sudah mempersiapkan Makaroni balado untuk dia jual tak lupa nasi beserta dengan telur dadar tersedia disana, seakan tau betul Nabila selalu menyiapkan sendiri menu sarapan sederhananya.


Tanpa banyak pertanyaan,Nabila melahap habis nasi beserta dengan telur dadar yang sudah tersedia dalam satu piring dan mencucinya setelah selesai sarapan.


Nabila membawa dagangan yang sudah di siapkan oleh ibu martinah,dan bersiap hendak pergi dengan berpamitan pada ibu martinah terlebih dahulu.


"Lain kali biarkan aku membantu ibu dan jangan biarkan aku bangun kesiangan lagi Bu".Ucap Nabila,sebelum beranjak pergi.

__ADS_1


__ADS_2