Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 187


__ADS_3

Senyum sumringah Nisa layangkan kala sang kakak ternyata mengingat pesan nya dan tak butuh waktu lama bagi ketiganya untuk melakukan sarapan pagi sebelum melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.


"Bil".Panggil ibu martinah.


Nabila,menengok kearah ibu martinah dan menghentikan sejenak aktivitas sarapannya karena sang ibu memanggilnya.


"Ada apa Bu?".Sahut Nabila, penasaran bercampur rasa takut.


Ibu martinah menunduk sebentar dan menara Nabila kembali."Maafkan ibu yang sudah membebani mu mu dengan kamu harus berjualan lebih banyak dari hati sebelumnya ".Sesal ibu martinah,menunduk kembali.


Nabila yang duduk berhadapan langsung dengan ibu martinah,tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh sang ibu.Nabila,sudah terbiasa berjualan bahkan dengan jumlah besar pun tak masalah baginya,tapi kenapa hari ini ibunya seakan menyesal telah banyak membebaninya?.


Nisa,menatap sang kakak.Benar,apa yang di katakan oleh sang ibu tapi pada siapa lagi dia bergantung selain pada sang kakak?.


Nabila,maju dan mendekati ibu martinah sembari menyentuh lengan ibu martinah."Gapapa Bu,wajar kok dan aku tak merasa keberatan ".Gumam Nabila, menenangkan sang ibu.

__ADS_1


Nisa,ikut nimbrung dan memeluk ibu martinah dari arah samping."Maafkan Nisa juga yang telah membebani kakak".Sesal si bungsu dengan nada memelas.


Pagi hari ini,tak bisa di mengerti oleh Nabila.Adik dan ibunya seakan telah memberikan beban hidup pada nya padahal Nabila sendiri ikhlas membantu.


Nabila,ibu martinah dan Nisa saling berpelukan,saling menyalurkan kekuatan satu sama lain di tangan himpitan ekonomi yang semakin bertambah.


Nabila,tak bisa berkata-kata.Ibu martinah hanya diam membisu dan si kecil Nisa yang menangis dalam diamnya.


Keceriaan pagi berubah menjadi Isak tangis,awan yang cerah berubah menjadi awan mendung di pagi hari yang biasanya selalu di sertai dengan gelak tawa.


"Ada apa dek?".Sahut ibu martinah dan Nabila secara bersamaan.


Nisa,yang sebelumnya menunduk dan tersadar di saat arah jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh,terlonjak kaget dan refleks berteriak memanggil kakaknya.


"Sudah setengah tujuh kak".Teriak nya panik sembari berlari membawakan sekantong plastik berukuran besar berisi makaroni balado yang akan di jual.

__ADS_1


Nabila,ikut bangkit berdiri dan membantu sang adik membawa sekantong plastik berukuran besar menuju teras rumah tak lupa Nabila mengendong tas nya tanpa membawa laptop dan di ikuti oleh ibu martinah dari arah belakang.


"Kecil-kecil cabe rawit".Gumam Nabila,sembari menurunkan sekantong plastik berukuran besar.


"Pastinya dong" Sahut Nisa Dengan bangga nya.


Nabila tersenyum dan membelai rambut Nisa.Nabila berbalik badan dan berhadapan dengan ibu martinah yang masih tertunduk diam.


"Ibu gak usah merasa bersalah apalagi sungkan,ibu bisa menyuruhku semua ibu selama aku mampu dan bisa melakukan nya."Ucap Nabila,sembari menyalami ibu nya dengan takzim.


Ibu martinah hanya mengangguk,tanpa menoleh apalagi membenarkan kata-kata Nabila yang baginya putri sulung nya telah banyak di Bebani oleh nya.


"Nabila berangkat Bu.. Assalamu'alaikum" .Nabila berpamitan pada ibu martinah dan kembali berbalik badan sembari membawa sekantong plastik berukuran besar berisi makaroni balado.


Si kecil Nisa,hanya melambaikan tangan tak lupa memberikan ulasan senyum terindah nya untuk sang kakak yang akan kembali berjuang dan beraktivitas seperti sedia kala tanpa menulis novel.

__ADS_1


__ADS_2