Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 72


__ADS_3

Kegaduhan sempat mewarnai ruangan kelas yang semula hening mendengarkan penjelasan dari guru mata pelajaran bahasa setelah Indonesia dengan takzim.


"Anak-anak hari ini ibu akan memberikan tugas kepada kalian untuk mewawancarai salah satu guru yang ada di sekolah ini yang mana nama-nama guru itu sudah ibu tulis dan akan segera ibu tunjuk satu persatu untuk mengambil gulungan kertas.Kelompok kalian terdiri dari 2 orang dan masing-masing nya hanya boleh mewawancarai satu orang guru".Jelas guru mata pelajaran bahasa Indonesia.


Penjelasan itu,telah menimbulkan kegaduhan di ruangan kelas bukan sibuk mencari partner kelompok mereka tapi pada siapa mereka akan mendapatkan nama untuk diwawancarai.


Mario putra Darmawan dan juga Melisa hanania adalah nama dua guru yang mereka harapkan dalam melaksanakan tugas bahasa Indonesia.Tak terkecuali Nita yang mengharapkan nama Mario sebagai tempat untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran bahasa Indonesia nya , tentunya juga bersama dengan nabila.


"Bil,semoga saja pak Mario yang harus kita wawancarai yah?".Nabila begitu berharap tinggi nama Mario yang harus di wawancarai,tapi tidak dengan Nabila yang berharap pak Martin saja bukan pak Mario.


Nathan dan Noval, menatap sinis pada rival nya yang sibuk menerka-nerka dan berharap guru yang di wawancarai oleh mereka sesuai dengan keinginan mereka.

__ADS_1


Nathan dan Noval,tak punya guru favorit,tidak pula mengharapkan nama guru yang akan mereka wawancarai.Mereka berdua bersikap biasa aja,tak seheboh Nita dan Nabila.


"Hah..Dasar cacing kepanasan".Umpat Noval,menatap sinis pada Nita yang heboh luar biasa nak suporter sepakbola yang berteriak histeris ketika klub sepakbola kesayangan nya menjadi juara.


Ibu guru bahasa Indonesia sampai harus meminta bantuan Nathan sebagai ketua kelas untuk menenangkan murid yang tiba-tiba heboh dan berteriak-teriak tak karuan.


Mau tak mau Nathan harus turun tangan walau hatinya ogah-ogahan menertibkan murid yang bersikap di luar kendali.


"Diam..Woy diam,bego".Nathan berteriak menenangkan di sertai dengan ancaman dan intimidasi terhadap teman kelasnya yang membandel.


Semua murid kelas kembali duduk tenang di kursinya masing-masing,tak terkecuali Nita yang awalnya heboh kini diam seribu bahasa bak kerbau di cocok hidungnya.

__ADS_1


Suasana kelas yang hening dan tentram memudahkan guru bahasa Indonesia untuk kembali melanjutkan aktivitas belajar mengajar dengan tenang dan tertib.


Ibu guru membawa mangkuk yang berisi gulungan kertas yang sebelumnya sudah di tulis nama-nama guru di dalamnya untuk di jadikan bahan acuan membuat tugas dari nya.


"Baik anak-anak, ku ibu sudah menyiapkan beberapa gulungan kertas berisi nama-nama guru yang akan kalian wawancarai.Setiap murid hanya boleh mengambil satu gulungan secara acak dan membuka nya setelah semua murid mendapatkan gulungan kertas nya".Jelas ibu guru di angguki semua murid.


Satu persatu mulai mendapatkan giliran mengambil gulungan kertas secara acak.Tibalah giliran Nita yang menanti dengan berdebar-debar dan tak karuan.


"Nita, giliran mu". Perintah pak bu guru.


Nita, hanya bisa menoleh kearah Nabila.Kaki nya terasa lemas dan jantung nya seakan terasa mau copot,saking berdebar nya hanya untuk mengambil gulungan kertas.

__ADS_1


"Ayo nit,ambil".Nabila menyemangati Nita yang tiba-tiba merasa lemas dan tak mau melangkah.


Perlahan tapi pasti Nita mulai maju ke depan kendati perasaannya tak karuan dan beberapa paksaan serta sindiran dari Noval, membangkitkan semangat nya.


__ADS_2