Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 130


__ADS_3

Nabila,kecewa bukan tanpa alasan sebab dirinya harus kembali merepotkan ibunya di tengah-tengah perjuangannya untuk tetap sembuh dari penyakit lambungnya yang sayangnya sangat sulit untuk di sembuhkan kecuali pada orang itu sendiri.


Ada beberapa kantong plastik yang sudah di siapkan oleh ibu martinah untuk Nabila jual hal itu semakin membuat Nabila kecewa dan merasa bersalah pada ibunya yang harus bangun lebih awal hanya agar Nabila bisa berdagang dalam jumlah besar.


Dengan langkah gontai,di dasari oleh rasa kecewa Nabila terus melangkah menyusuri jalan beraspal yang tak sedikit kendaraan berlalu-lalang di pagi-pagi buta seperti ini.


Ada sebagian yang hendak berangkat kerja,ada pula sebagian yang mengantarkan anak-anak nya mengunakan kendaraan pribadi,ada pula anak sekolah seperti dirinya yang memilih berjalan kaki untuk sampai ke sekolah mereka masing-masing.


Tak lupa Nabila menawarkan dagangannya pada anak sekolah baik yang satu sekolah maupun pada anak SD dan SMP,tak luput dari sasaran nya dalam mempromosikan dagangan nya agar cepat laku di tengah hatinya yang berkecamuk tak menentu.


"Makaroni nya dek,Abang,teteh..Yuk jajan dulu".Nabila menawarkan dagangannya pada anak sekolah yang berjalan kaki sama seperti dirinya.

__ADS_1


Ada sebagian anak sekolah yang acuh dan tetap melanjutkan perjalanan nya ada pula yang memilih untuk membeli dagangan nabila yang memang sering berdagang makaroni balado demi menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga nya.


"Makaroni nya kak 2".


"Aku yang polos 1".


"Aku 1".


"Ok,tunggu yah".Nabila berjongkok dan membuka kantong plastik berukuran besar berisi dagangannya.


Satu persatu dengan sabar Nabila melayani pembeli tanpa mengeluh apalagi membentak dengan permintaan dan ucapan yang berbeda-beda.

__ADS_1


Nabila tak lupa mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf nya pada pembeli sebelum melanjutkan kembali perjalanannya yang sengaja terhenti demi menawarkan dagangannya.


Tinggal sebentar lagi Nabila sampai ke gerbang sekolah,menuntut ilmu dan meraih cita-cita di sekolah elit dengan muridnya kebanyakan dari kalangan atas.Namun, langkah nya terhenti di kala Nabila menangkap sesosok mahkluk hidup yang bertubuh kekar dan tinggi.


"Apa aku gak salah lihat?".Nabila tak bisa mempercayai apa yang sudah di lihatnya,dimana pria yang selama ini dia rindukan,pria yang membantunya tanpa pamrih dan pria yang menghancurkannya tengah tepat berada di depan matanya.


Pria itu berpakaian rapih dengan kemeja putih,lengan sengaja di gulung sampai siku,rambut tertata rapih,celana satin berwarna hitam dan kulit nya yang semakin putih.Pria itu membelakangi nabila,sesekali menoleh kearah belakang seperti hendak menemui seseorang.


Tanpa sadar,Nabila melangkah maju untuk menghampiri pria yang selama ini dia rindukan tapi langkah nya terhenti di kala sebuah tangan yang menggenggam tangan nya seperti menghalangi Nabila untuk bertemu langsung dengan pria yang dia rindukan.


Tangan Nabila semakin di seret menjauh dari prianya,di langkah terakhirnya hampir dekat dengan pria nya..Tapi, seseorang malah menyeret tangan nya menjauh dari prianya.

__ADS_1


"Lepaskan".Gertak Nabila,sembari mencoba meloloskan diri dari cengkeraman tangan pria yang tak asing bagi Nabila,hama bagi kehidupan nabila,si peganggu ketentraman dan kenyamanan nya selama ketidakadaan pria nya selama beberapa hari ini dengan alasan tak pasti dan tak jelas.


__ADS_2