
Momen seperti inilah yang di tunggu-tunggu oleh Nathan,dimana Nabila menyandarkan segala keluh kesah nya kepadanya dan Nabila yang terlihat tegar ternyata dia bisa rapuh juga.
Nathan,membelai rambut Nabila dengan penuh sayang seakan moment seperti ini tak ingin terlewatkan dan dalam waktu singkat.
Dapat Nathan rasakan tangisan Nabila yang semakin menjadi seakan Nabila baru menemukan sosok yang bisa mengerti dan dapat berbagi di segala keluh kesahnya.
"Aku bukan pengkhianat".Gumam nabila sembari terisak menangis amat memilukan.
Nathan, mencengkeram tangan nya yang tak membelai rambut nabila.Tuduhan Nita kepada Nabila memberikan luka di hati wanita yang dulu rival debat nya,kini wanita itu seakan telah bertahta di hati Nathan.
"Aku percaya,Nabila".Sahut Nathan, menenangkan Nabila yang malah semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
"Hiks...Hiks...Hiks..."Suara tangisan itu berubah menjadi pilu.Wanitanya yang tegar dan keras kepala,namun di dalam amat rapuh dan membutuhkan seseorang yang mengerti dengan keadaannya.
Lama,Nathan membiarkan Nabila menyandarkan kepalanya di bahu nya dan menumpahkan segala keluh kesah dan kesedihannya, melupakan tugas nya sebagai anggota pasjarpara yang hendak berlatih untuk sebuah kejuaraan demi orang terkasihnya dan Nabila yang merasakan kenyamanan dari bahu seorang pria yang bahkan dia tau dia adalah rival debat nya sendiri.
Mata Nabila menjadi sembab akibat terlalu lama menangis tapi air mata itu tak kunjung mengering juga.Semakin di ingat,malah semakin terasa sakit babi seorang Nabila Kemala.
"Huh..."Nabila membuang napas nya secara kasar dan menjauhkan dirinya dari sosok yang telah menawarkan bahu dan kenyamanan untuk nya.
"Sudah agak mendingan?". Pertanyaan itu seakan menyadarkan Nabila dengan sosok yang telah berjasa dalam memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk dirinya seorang.
"Iya, terima kasih".Sahut Nabila, malu-malu menatap pria yang dulu bahkan sampai saat ini menjadi rival nya dan entah apa sebabnya dia mempercayai Nathan untuk dia menumpahkan segala keluh kesah dan kesedihannya.
__ADS_1
"Baik,saya pamit dulu.Nabila".Pamit Nathan, dengan tergesa-gesa tapi tak lupa memberikan sebuah kedipan mata untuk Nabila sebelum Nathan benar-benar meninggalkan Nabila.
Tak ada kata yang bisa menggambarkan diri Nabila selain hanya menunduk diam dan malu karena telah menumpahkan air matanya dan mempercayai Nathan sebagai bahu tempat Nabila bersandar.
"Nyaman..Teramat nyaman bagi itu".Gumam Nabila yang tak bisa melupakan baju Nathan yang bagi Nabila teramat nyaman.
Nabila berdiri tak lupa merapihkan alat tulisnya dan menghapus jejak air matanya yang masih menetes.
Tak ada barang yang bisa melindungi mata Nabila dari jejak air mata,hanya bisa berjalan sembari menunduk dalam berharap tak ada yang melihat bekas air matanya di matanya yang sembab bahkan sepanjang perjalanan pun,Nabila hanya bisa menunduk tanpa menegakkan kepalanya sedikitpun.
Nabila, berjalan cepat dengan harapan dia bisa dengan cepat pula sampai ke perpustakaan untuk menempelkan karya fiksi nya di mading perpustakaan dan bisa pulang untuk kembali menumpahkan air mata kesedihannya akibat tuduhan tak mendasar itu.
__ADS_1
Harapan Nabila terwujud,Nabila dengan cepat menempelkan karya fiksi nya di mading perpustakaan dan berjalan cepat pulang agar cepat sampai ke rumah dan mengistirahatkan tubuhnya dari lelahnya seharian beraktivitas,terlebih air matanya yang terkuras habis.