Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 57


__ADS_3

Pertengkaran dengan Nathan tanpa sengaja dan Nabila yang raib entah kemana belum lagi setumpuk tugas yang di emban kan kepadanya membuat dia merasa pusing tak karuan.


Mario,memilih keluar rumah dan taman kota adalah tujuannya.Tempat dia menenangkan diri sekaligus bernostalgia tentang masa-masa sulitnya dulu.


Di bangku taman ini,Mario sering mencurahkan segala isi pikiran dan perasaannya hanya dengan memandang orang-orang berlalu lalang.


Disini pula tempat dia mencari makan dengan harga yang murah tapi bisa mengenyangkan, maklum saja dulu sebelum dia menjadi guru,dia juga pernah berada di titik terendah dan bahkan untuk makan saja dia harus berhemat.


Mario,yang berasal dari kota Subang harus merantau ke kota Bandung demi menempuh pendidikan sekolah tinggi nya.

__ADS_1


Keadaan Nabila yang sekarang, mengingatkan Mario akan perjuangan nya dulu demi bisa sekolah tinggi dalam keadaan ekonomi yang sulit sekalipun.Perjuangan Nabila itu, seakan mengingatkan dia akan perih nya masa lalu hanya demi bisa meraih cita-cita.


Rintik demi rintik hujan mulai turun membasahi permukaan bumi,Mario masih betah duduk di taman kota tak beranjak walau sedikitpun.Dia membiarkan tubuhnya terkena air hujan yang mulai turun.


Mario, menengadahkan wajahnya keatas langit-langit malam yang tertutupi oleh awan pekat hitam yang menambah suasana mencekam di malam hari yang tiada seorang pun yang mengerti akan pedihnya kehidupan seorang Mario putra Darmawan.


Dia berasal dari keluarga berada,namun dia di didik untuk bekerja keras dan mandiri.Uang saku yang dia miliki dulu saja sangat pas-pasan bahkan seringnya kurang,ingin rasanya Mario membenci orang tuanya.Tapi,kembali dia berpikir akan didikan orang tuanya yang ternyata berguna untuk kehidupannya.


Air hujan seakan bisa menghapus kenangan demi kenangan di masa lalu Mario yang begitu pedih dan sulit untuk di lupakan.

__ADS_1


Entah sejak kapan Mario mulai menyukai air hujan dan mempercayainya bisa menghapus kenangan di masa lalu nya.


Mario,berdiri dan tangan nya masih di biarkan terlentang tanpa dia menengadahkan wajahnya keatas langit-langit malam.Dia mulai menyusuri taman dengan air hujan yang turun semakin lebat.


Air hujan itu awalnya turun hanya sedikit, lama-lama menjadi lebat dan membuat mata perih akibat terkena tetesan air hujan yang turun,belum lagi kepala yang terasa berat dan perih.Aneh nya Mario menyukai itu semua,setiap rasa sakit itu seakan mampu menghapus kenangan buruk di memori otaknya.


Jika sekilas orang melihat aksi Mario,pasti akan menganggapnya seperti orang gila tapi tidak dengan pedagang yang sering mangkal di sekitar taman.Banyak yang memaklumi ada seorang pria yang tengah berlari-lari sembari hujan-hujanan seperti menikmati setiap tetesan debit air yang turu.


"Pemuda itu masih sama seperti dulu".Gumam pedagang nasi goreng yang kebetulan lewat hendak pulang dan melihat tingkah laku mario.

__ADS_1


Tak ada yang tau tentang penderitaan seorang Mario putra darmawan hanya pedagang yang sering mangkal di taman lah yang mengetahui secara persis penderitaan dan masa lalu kelam dari guru tampan nan pintar.


__ADS_2