Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 14


__ADS_3

Nabila,menghela napasnya begitu keras.Sang adik masih enggan untuk membuka matanya, padahal sudah dengan berbagai cara dia lakukan untuk membangunkan adiknya.


"Dek,bangun dek".Sekali lagi Nabila,mencoba membangunkan adiknya yang malah merengkuh tangan ibunya dengan eratnya.


Nabila,harus sabar dalam membangunkan adiknya ini.Waktu terus bergulir maju tanpa bisa ada yang menghentikannya,Nisa masih tetap tertidur tak mau membuka matanya barang sejenak pun.


"Bagaimana ini?,sudah pukul setengah 7".Nabila di Landa frustasi,sang adik masih terlelap tidur sedang dia harus sesegera mungkin berangkat ke sekolah.


"Kalau mau berangkat?, berangkat saja".Di saat rasa frustasi yang menghampiri nabila,suara serak nan berat membuyarkan lamunan nabila.


"Berangkat lah kak,aku pasti menjaga ibu dengan baik kok".Kata Nisa lagi,kendati matanya tertutup dengan sempurna.


Nabila, menghampiri nisa dan menempelkan daun telinga di dekat bibir Nisa.Takut dirinya salah mendengar.

__ADS_1


Nisa, dengan berat hati membuka matanya dan menyingkirkan telinga kakaknya di bibirnya dengan tangan munggil nya."Bau".Keluh Nisa."Telinga kakak bau".Sindir Nisa.


Nabila,mau tak mau harus menjauh dari Nisa yang menyindir telinganya bau padahal dia hanya ingin memastikan ucapan Nisa yang terdengar seperti orang yang mengigau.


Nisa,bangun dari tidurnya dan bangkit berdiri."Kakak berangkat saja,agak usah mengkhawatirkan ibu dan aku" .Kata Nisa,menepis segala keresahan dan frustasi Nabila.


Kalau menurutkan kata hati dia ingin rasanya tetap berdiam diri di rumah menjaga ibunya dan juga adiknya.Tapi,demi cita-citanya dia terpaksa harus mengesampingkan kewajibannya dan menyerahkan tanggung jawabnya pada sang adik.


Nabila,memeluk tubuh munggil adiknya dan menangis dalam pelukan adiknya.Lihatlah si kecil Nisa,dia bisa hidup mandiri dan di dewasakan oleh keadaan.


"Maafkan aku dek".Kata Nabila,mengusap punggung Nisa.


Kedua kakak-beradik itu nyatanya mereka harus saling mengandalkan satu sama lain demi memenuhi kehidupan mereka yang serba kekurangan.

__ADS_1


Dengan berat hati,Nabila harus pergi ke sekolah menggapai cita-cita nya dan mengangkat derajat keluarganya di tengah-tengah masyarakat dan sanak keluarga yang memandangnya rendah.


Nabila, berjalan dengan gontai nya.Hatinya bimbang,antara tetap pergi ke sekolah atau menemani ibunya yang terbaring tak berdaya diatas kasur usang.


Sekuat tenaga,Nabila menuntun kakinya untuk terus berjalan.Menepis segala pikiran buruk tentang ibunya.Nabila, berangkat sekolah dengan berjalan kaki.


Sudah sangat terlambat untuk Nabila sampai ke sekolah setelah tadi dirinya berperang batin antara pergi dan tidak, hatinya terlalu condong memikirkan kesehatan ibunya dan si kecil Nisa yang di bebankan oleh kewajibannya yang berat di usianya yang masih muda.


Terlambat 15 menit bagi Nabila dari jam pelajaran yang di tentukan.Tak apa bagi Nabila setidaknya dia masih bisa belajar dan tidak ketinggalan mata pelajaran.Tapi,tidak bagi nita.Dia sudah sejak 20 menit terakhir mondar-mandir di depan pintu kelas demi menanti keberadaan Nabila yang tak kunjung datang.


"Tumben dia belum datang".Kata Nita, khawatir sembari melihat jam di pergelangan tangannya.


Nathan yang berdiri tak jauh dari nita,dia tersenyum bahagia karena dia yakin rival debat nya ini tidak akan masuk sekolah.

__ADS_1


"Hah,si pintar itu ternyata membolos".Gumam Nathan, tersenyum penuh arti.


__ADS_2