Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 22


__ADS_3

Keputusan untuk ikut lomba menulis novel tak bisa di ragukan lagi untuk Nabila yang ingin mengubah takdir kehidupan dengan melalui mengikuti lomba menulis novel dengan hadiah yang fantastis.


Di malam yang gelap dan sunyi ini bertemakan cahaya lilin,Nabila menimbang-nimbang keputusan sembari terus menggenggam brosur tentang lomba menulis novel yang akan di laksanakan 1 bulan lagi.


Keputusan nya memang sudah jelas,dia akan ikut akan tetapi dia tak punya smartphone atau laptop yang menjadi syarat wajib bagi peserta yang akan mengikuti lomba menulis novel secara online.


Syarat mutlak itu yang jelas tak bisa di penuhi oleh gadis miskin seperti Nabila.Hatinya di landa kebimbangan,ingin ikut tapi tak memiliki salah satu syaratnya.


Nabila,yang malam ini kembali menemui jalan buntu untuk menulis cerita.Merangkai ide demi ide dalam sebuah cerita fiksi yang sudah menjadi keahliannya sejak dulu harus kembali terhalang oleh pikiran-pikiran lain.


Kesempatan selalu ada itu Nabila,tapi lagi keterbatasan menjadi tolok ukur untuk dia memikirkan kembali keputusan nya.

__ADS_1


"Bagaimana cara ku untuk dapat mengikuti lomba ini?".Gumam Nabila,sedari tadi dia terus membolak-balik brosur seperti memilih makanan yang bingung di pesan.


Sudah sedari tadi pula,Nabila memikirkan cara yang efektif agar dia bisa ikut lomba menulis novel online tanpa harus dia memiliki laptop atau smartphone.


Dengan bertopang dagu,Nabila terus sibuk memikirkan cara agar dia bisa ikut lomba menulis novel online tanpa dia sadari handphone jadulnya terus berbunyi, menandakan ada panggilan telpon dari handphonenya.


Nabila,memang jarang melihat apalagi menyentuh handphone jadul nya bukan karena merek nya yang tak sesuai dengan perkembangan zaman,akan tetapi ada banyak hal yang harus dia lakukan tanpa handphone jadulnya.


Kring...Kring...Kring


Di luaran sana orang yang menelpon Nabila, terlihat kesal sesekali dirinya mengumpati Nabila dengan kata-kata pedas dan hinaan.

__ADS_1


"Dasar gadis miskin tak tau di untung.So sibuk tuh orang". Begitu kira-kira kata hinaan dari orang itu tertuju untuk Nabila


Beruntung nya,dia mengumpati Nabila tanpa di ketahui oleh Nabila nya langsung,jika tidak mungkin dia harus bersiap-siap berdebat panjang hingga 10 keturunannya tak sanggup mendebat seorang Nabila kemala.


Jika pun nabila tau,dia mana peduli dengan handphone jadulnya yang terus berdering meminta sang empunya untuk menerima panggilan itu.


Nabila,masih berkutat dengan pemikirannya sendiri.Tak sadar waktu terus merangsek maju tanpa bisa di hentikan.


Nabila,tertidur di bawah cahaya lilin yang mulai meleleh menyisakan lelehan lilin yang siap menyakiti benda di sekitarnya bahkan tubuhnya sendiri pun terkena imbasnya.


Cahaya lilin yang terus bergoyang seiring terpaan angin yang berhembus kencang,siap memadamkan cahaya api yang keluar.Sama hal nya api semangat Nabila yang mulai goyah termakan oleh nasib dan keadaan.

__ADS_1


Nabila,tertidur tanpa menulis rangkaian cerita di buku diary nya yang dia sulap menjadi buku novel.Siap untuk dia tempelkan di Mading sekolah,tapi sayang pikirannya tak sejalan dengan hatinya.Jadilah dia diam membeku tanpa menulis cerita di buku diary nya.


Nabila, akhirnya harus kalah oleh rasa kantuk dan lelah setelah hampir seharian penuh dia menangis.Menangisi nasib dan keadaan nya yang di rasa tak adil.


__ADS_2