Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 190


__ADS_3

Nathan, hanya diam menyaksikan Nabila yang tengah melayani pembeli nya yang membludak lebih banyak dari biasanya, sampai-sampai Nathan pun bergeleng-geleng kepala sembari tersenyum menyaksikan Nabila yang kewalahan melayani pembeli nya.


Tak ada intrik drama di dalamnya,tak ada perdebatan,tak ada kata hinaan dan berbagai aksi Nathan yang menguras tenaga dan emosi nabila.Nathan,mendadak menjadi penonton setia nabila dia bahkan sampai rela berdiri lama hanya untuk menyaksikan Nabila seorang.


"Sampai kapan kita akan berdiam diri seperti ini?".Tanya Noval yang mulai merasa pegal dan jenuh terus berdiam diri tanpa melakukan kegiatan apapun.


Nathan, memberikan tatapan tajam kearah Noval yang sudah berani mengusik kesenangan nya,apalagi sampai mengusik lamunan nya.


Noval,diam menunduk.Tak ada lagi kata-kata yang terucap di dalam mulutnya begitu pun dengan anggota geng nya yang memutuskan diam dan tak mengusik Nathan lagi.


Nabila, terlihat kelelahan tapi sebuah senyuman mampu menepis segala rasa lelah di dalam jiwa.Bagaimana tidak?,jika dalam hitungan menit saja dagangannya sudah habis di borong oleh si pembeli dengan antusias nya.

__ADS_1


Nabila,tak perlu keliling menyusuri setiap ruangan kelas hanya untuk menawarkan barang dagangannya kepada setiap murid.


Nabila, bangkit berdiri sembari merapihkan kantong plastik bekas membawa dagangan nya dan tersenyum senang.


Dapat nathan lihat dan saksikan bagaimana seorang Nabila Kemala tersenyum senang dan kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya yang mulai meneteskan keringat di keningnya.


"Bahagia mu ternyata sesederhana itu,Nabila".Gumam Nathan,sembari terus menatap kepergian Nabila dengan Rina kebahagiaan.


Ada banyak hal yang harus dia lakukan oleh seorang Nathan tanpa sepengetahuan anggota geng yang lainnya termasuk itu Noval sendiri.


Nathan, berjalan kearah perpustakaan kendati bel tanda masuk sebentar lagi akan berbunyi nyaring,tapi itu semua lebih penting dari sekedar masuk tepat waktu.

__ADS_1


Tak sabar rasanya bagi Nathan untuk sampai ke Mading perpustakaan apalagi melihat kelanjutan sebuah karya fiksi yang di tulis oleh author hebat dan pemberani.Hati nya bertalu kencang, perasaannya tak karuan dan langkah nya semakin di percepat demi sebuah cerita yang ingin dia baca secara langsung.


Jarak Mading yang hanya beberapa langkah lagi,tapi tidak bagi Nathan yang memiliki langkah lebar hanya tinggal 2 langkah lagi dia bisa menikmati seluruh rangkaian cerita dari sang author.


"Huh..."Nathan,menarik napasnya kecewa,kala sebuah karya yang ingin di baca dan di nikmati nya tak tertempel dengan sempurna di mading perpustakaan meski dia sudah memeriksa nya secara keseluruhan tanpa terkecuali.


Alangkah kecewanya Nathan,mendapati Mading yang tak tertempel sebuah karya dari sang author padahal dia ingin memberikan sebuah jejak di akhir sebuah cerita fiksi dan memberikan sedikit motivasi,tapi rencananya harus sirna karena ternyata karya itu tak tertempel di mading perpustakaan.


"Apa dia terlalu sibuk hingga melupakan sesuatu yang mestinya dia lakukan".Gerutu Nathan,kesal dan kecewa menjadi satu dalam diri Nathan.


Sepanjang perjalanan menuju kelas Nathan terus mengomel tentang author yang lupa dengan kewajibannya padahal author tersebut tak pernah absen menempelkan karyanya di mading perpustakaan.

__ADS_1


__ADS_2