Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 212


__ADS_3

Makan malam kali ini di sertai dengan pembahasan demi pembahasan mengenai masa depan Nabila dan juga Nisa.Bonus dan hadiah dari lomba menulis novel rencananya akan Nabila tabung untuk menunjang masa depan nya dan juga masa depan si kecil yang masih panjang dan membutuhkan perhatian khusus agar masa-masa sulit Nabila tak terulang kembali.


Gelak tawa dan beberapa obrolan dari Nabila dan ibu martinah terjadi di sela-sela makan malam dengan celotehan dan tingkah laku dari si kecil Nisa yang dianggap mampu menghibur di kala hati merasa gundah gulana.


Terkadang ibu martinah bisa merasakan sosok suaminya yang telah tiada beberapa tahun silam dengan menatap Nisa karena Nisa bak pengganti almarhum suaminya.Wajah dan perangainya sangat mirip dengan almarhum suaminya.


Sesekali ibu martinah terlihat melamun dan membayangkan masa-masa indahnya saat pertama kali merasakan menjadi seorang istri dan menjadi seorang ibu dari dua orang anak.Namun, kebahagiaan itu tak berselang lama kala sang suami menghembuskan napas terakhirnya di saat dirinya tengah mengandung si bungsu.


"Ibu".Ibu martinah di kejutkan oleh suara panggilan di sertai dengan sentuhan tangan Nabila yang seakan menyadarkan dia dari bayang-bayang masa lalu kelam nya.


"I-I-Iya,Nabil".Sahut ibu martinah, gelagapan sendiri.

__ADS_1


"Ibu sedang melamun yah?".Nabila memeluk tangan ibu martinah penuh dengan sayang seakan Nabila juga merasakan apa yang di rasakan oleh ibu martinah.


Tak ada jawaban dari ibu martinah, tatapan mata yang kosong sembari terus mengarah pada Nisa yang tengah menggambar dan lelehan air mata sudah mewakili itu semua.Dimana, ibu martinah merindukan sosok suaminya yang mirip persis seperti Nisa.


"Tuhan itu adil yah?".Ucap ibu martinah memecah keheningan malam yang tiba-tiba mencekam dan amat menakutkan.


Nabila, mendongakkan wajah nya menatap wajah sedih sang ibu yang berusaha dia tahan dan sembunyikan dari anak-anaknya.


Semakin,Nabila peluk erat tangan ibu martinah seakan memberikan kekuatan pada tubuh kurus sang ibu dan menguatkan hatinya agar tak terus teringat pada seseorang yang sudah lama tiada,walau dalam hati Nabila juga merasakan hal yang sama.


"Hoam".Si kecil Nisa merapihkan alat tulisnya dan menutup buku gambar nya karena tak bisa lagi menahan kantuknya.

__ADS_1


"Ibu". Pelukan Nabila harus terhenti kala so kecil Nisa merengek sembari mengucek matanya, seakan meminta kepada sang ibu untuk menidurkannya.


"Yah nak".Ibu martinah dengan segera menghapus jejak air matanya dan berdiri menghampiri Nisa yang terus mengucek matanya.


"Ngantuk".Rengek si kecil Nisa sembari memeluk tubuh ibunya meminta di gendong.


Ibu martinah dengan gercap mengendong tubuh si kecil Nisa dan membawanya ke kamar tidur untuk menidurkan si bungsu yang amat mirip dengan almarhum suaminya.


Sementara Nabila,masih betah berdiam diri sembari memandangi arah jarum jam yang terus merangsek maju,sedang matanya tak mau diajak kompromi dan pikirannya kembali memikirkan Nathan.Yah,Nathan yang tadi siang mengikuti lomba dadakan.Rasa penasaran menyeruak dalam diri Nabila tentang keadaan Nathan beserta dengan hasil perlombaan.


"Apa kabar nathan?".

__ADS_1


__ADS_2