Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 215


__ADS_3

"Ibu,apa iya dagangan kakak kurang banyak yah?".Dengan raut wajah penuh kebingungan Nisa meminta penjelasan dari ibunya yang berdiri di ambang pintu.


Seulas senyum ibu martinah layangkan untuk anak bungsunya yang sedang aktif-aktifnya bertanya dan mencari tau.


Bu martinah menghampiri Nisa dan berjongkok di hadapan nya."Sayang,kakak mu itu gak benar-benar berkata jujur itu bisa saja kata kiasan atau juga berupa kata sindiran".Jelas ibu martinah.


Si kecil meski tidak mengerti sepenuhnya,tapi dia hanya mengangguk-anggukkan kepala seakan mengerti tapi memang tak sepenuhnya mengerti.


...****************...


Nabila, berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sembari menawarkan dagangannya kepada pejalan kaki tak sedikit yang menghampiri Nabila tapi tak sedikit pula Nabila harus berteriak memanggil pembeli semua itu Nabila hampir lakukan si setiap harinya itupun kalau Nabila berdagang dengan jumlah banyak dan sedang mengejar target.

__ADS_1


Peluh keringat membasahi pakaiannya tapi tak pernah Nabila mengeluh apalagi harus menyerah pada nasib dan keadaan yang mengharuskan nya tetap semangat berjualan Kendari berbagai terpaan cobaan terus silih berganti berdatangan tiada hentinya terus ada dan datang.


"Makaroni.. Makaroni".Tak sedikit pula Nabila harus berperang dengan suaranya yang mulai parau karena seringnya dia gunakan untuk menawarkan dagangannya.


Nabila,tetap semangat dan tetap menyalakan api semangat di kala terpasang angin terus berhembus tak terkecuali pikiran nya tentang Nathan harus kembali hadir.


Nabila, menghentikan langkah kakinya sejenak bukan karena capek tapi pikiran itu masih terus ada dan bahkan menganggu semangat di pagi harinya.


"Kendalikan diri mu,Nabil".Nasehat Nabila untuk dirinya sendiri dan mulai melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan nya yang tiba-tiba terhenti kala pikiran Nabila kembali teringat akan sosok Nathan.


"Selamat pagi,murid tangguh ku".Sapa satpam penjaga.

__ADS_1


Ulasan senyum sering Nabila layangkan untuk satpam penjaga,terkadang juga membalas sapaannya itu pun bila Nabila ingin bernegosiasi dengan satpam penjaga.


Dengan langkah cepat dan tangganya yang menenteng sekantong plastik besar,Nabila menuju ke kantin untuk menitipkan barang dagangannya pada ibu kantin.


"Assalamu'alaikum..Ibu,aku titipkan lagi dagangan ku".Ucap Nabila tanpa basa-basi langsung menyerahkan dagangannya pada ibu kantin dan ibu kantin yang menyerahkan uang hasil penjualan kemarin.


Tak ada komunikasi lebih diantara ibu kantin dan juga Nabila di karenakan Nabila yang harus mengejar target penjualannya dan harus menghasilkan uang sebanyak mungkin untuk menutupi kebutuhannya.


Nabila, berkeliling ruangan kelas tanpa henti terus berjalan, sesekali berteriak menawarkan dagangannya pada murid.


"Gak capek loe lari terus dan suara loe punya cadangan suaranya kah?".Tanya seorang pria menghadang langkah kaki Nabila.

__ADS_1


Sosok laki-laki yang tiba-tiba ada di hadapannya dan menghadang langkah kakinya,terpaksa Nabila menghentikan langkah kakinya dan menatap sosok pria itu dengan rasa terkejut bukan main.


"Kau_"Nabila tak bisa mempercayai apa yang ada di hadapannya, padahal sudah dengan sudah payah Nabila berusaha mengenyahkan pikiran tentang sosok pria itu dan dia malah seenaknya ada dan bahkan ada di hadapannya tanpa permisi dan bahkan berdiri dengan sombongnya seakan menantang dirinya yang sudah mulai kelelahan berjalan dan berteriak tiada henti tanpa kenal lelah.


__ADS_2