Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 8


__ADS_3

Perdebatan akhirnya di menangkan kembali oleh kelompok Nabila yang kontra terhadap kebijakan pemerintah padahal Nathan sudah yakin kelompok nya akan mengalahkan kelompok Nabila yang terlihat sudah tak punya ide untuk menyanggah penjelasannya.


Nabila, bersikap biasa aja.Kemenangan debat sudah biasa dia dapatkan dari berbagai macam mata pelajaran yang memang tak sedikit selalu menggunakan metode debat.Berbeda, dengan Nathan yang terlihat kesal dan mengepalkan tangannya geram terhadapnya dirinya yang lagi-lagi tak mampu mengalahkan kepintaran Nabila.


"Sial".Umpat Nathan,sembari mengepalkan tangan."Selalu saja si miskin,Nabila yang selalu menang seakan dia di lindungi oleh dewa amor".Gerutu Nathan,tak terima dirinya kembali di kalahkan.


Nita, tersenyum bangga dengan teman sebangkunya ini.Nita,merangkul pundak Nabila tersenyum simpul sesekali dia memijat tengkuk Nabila yang terlihat lelah berpikir untuk melawan gagasan Nathan.


"Kau hebat, seperti biasa".Puji Nita.


Nabila,tersenyum pada Nita yang selalu memuji kepintarannya dan kecerdasannya dalam berdebar.


Kelompok Nabila dan Nathan sudah melakukan debat yang hampir memakan waktu belajar sehingga dia kelompok lainnya tak sempat unjuk kebolehannya dalam berdebat sesuai dengan materi yang sedang di bahas.

__ADS_1


Pak,Martin pun terpaksa harus menyudahi kaya pelajaran nya karena habis dan harus di gantikan dengan mata pelajaran yang lainnya.


Nathan masih terlihat kecewa dengan kekalahan nya dalam berdebat dengan si cantik penuh perjuangan.Nabila Kemala.


Mata pelajaran kedua,ketiga dan keempat semua sudah terlewati waktunya jam pulang pun tiba.


Kring...Kring... Kring


Dalam hal pulang,selalu saja ada api semangat lain hal nya dengan saat belajar.Lesu,bosan,ngantuk dan lain sebagainya selalu menjadi alasan.


Nabila,sudah siap dengan tas punggung lusuhnya,pulang ke rumah untuk menyiapkan dagangan nya untuk besok atau bahkan kembali menuangkan ide dan gagasannya di buku diary nya yang dia sulap menjadi buku novel.


"Nabil,kau mau pergi ke perpustakaan dulu?".Tanya Nita,di saat mereka sudah berada di luar kelas bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


"Seperti biasa".Sahut Nabila."Aku harus menyerahkan cerbung yang baru aku selesaikan waktu istirahat tadi".Jelas Nabila.


Nita, mengangguk paham dengan kebiasaan Nabila.Dia memang selalu menempelkan cerita fiksi nya di Mading yang di sinyalir itu adalah cerbung (Cerita bersambung).Karya itu di buat atas usulan petugas perpustakaan yang melihat bakat terpendam dari diri Nabila.


Kedua sahabat berbeda kasta itu harus berpisah dengan tujuan yang berbeda.Nabila pergi ke perpustakaan,sedang Nita bersiap pulang ke rumah dengan menggunakan mobil mewahnya.


Nabila,tak keberatan harus pulang di akhir berbarengan dengan guru yang bertugas menjaga perpustakaan untuk membantu membersihkan ruang perpustakaan atau bahkan hanya menempelkan karya fiksi nya.Seperti saat ini,dia hanya menempelkan karya fiksi nya saja tanpa masuk ke dalam ruang perpustakaan.


Nabila, mengeluarkan kertas HVS yang berisi karya fiksi nya dengan jumlah cerita tak kurang dan tak lebih hanya 1 bab saja.Maklum saja, namanya juga cerbung yang kelanjutan ceritanya bisa di lihat dan di lanjutkan esok hari.


"Lagi menempelkan karya mu yah?".Tanya seseorang di belakang Nabila pada saat Nabila sedang menempelkan kertas HVS di Mading.


Nabila, mengangguk tak perlu menoleh pun dia tau siapa yang bertanya dan selalu menyempatkan diri berkunjung ke perpustakaan.

__ADS_1


__ADS_2