
"Jadi berapa mbak?".Tanya si pembeli.Namun,si penjual nampaknya tak mendengar pertanyaannya bahkan dalam keadaan melamun entah apa yang di pikirkan nya.
"Mbak".Si pembeli itu mencoba memanggil Nabila lagi yang tak menyahuti panggilannya,dia tak berhenti sampai si penjual cantik nan muda ini menyahuti panggilannya.
"Yah*.Sahut si penjual itu, setengah kaget dengan panggilan nya yang dengan terpaksa harus dengan cara berteriak dan menyentuh pundaknya.
"Jangan banyak melamun,gak baik".Hardik si pembeli mengingatkan Nabila yang tengah melamun.
Nabila tersenyum meminta maaf atas kelalaiannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
"Maaf " .Sahut Nabila sembari menyebutkan nominal yang harus di bayar oleh si pembeli.
Pengemudi itu telah berlalu pergi,tapi pengemudi-pengemudi yang lainnya datang silih berganti mengerubungi dagangan nabila di titik yang di prediksi nya ramai dan padat oleh si pengemudi yang beristirahat dari perjalanan jauhnya.Namun,pria itu masih betah berada disana.
__ADS_1
Pria itu nampak duduk beralaskan tikar yang sudah di sediakan oleh Nabila dengan menggunakan Hoodie hitam dan kepalanya yang tertutup topi,tengah menikmati padatnya jalanan kendati susu coklat hangat nya telah lama tandas masuk ke dalam perutnya.
Pria itu masih tak beranjak si tempatnya,meski pembeli silih berganti berdatangan mengerubungi dagangan nabila dan waktu terus merangsek naik tanpa terasa.
Nabila,baru tersadar akan sosok pria yang pertama turun bersamaan dengan si pengemudi pemesan mie rebus dan kopi hangat masih berada disana, masih di tempatnya semula dan masih dengan posisi yang sama.
Nabila, mengerutkan keningnya.Dugaannya semakin menjadi, bertanya pun dia tak berani.Akhirnya Nabila memilih abai dan duduk menunggu pembeli yang datang menghampiri dagangannya.
Hari sudah mulai tergantikan oleh cahaya rembulan, sunset di pantai akan terlihat indah bila di bandingkan sunset di tengah padatnya jalanan dengan debu berterbangan disana-sini menyisakan polusi dan menambah daftar kerusakan lapisan ozon semakin menipis.
"Kau belum mau pulang?". Dengan malu-malu Nabila,mencoba bertanya pada pria yang masih betah duduk berada di posisi nya semula.
Pria itu tak bergeming.Tak bereaksi dengan pertanyaan sederhana Nabila, bukan maksud mengusir hanya kasihan pada pria yang setia duduk sendiri disana seperti ingin melindungi dirinya yang mencoba peruntungan dengan berjualan kopi.
__ADS_1
Pria itu,masih duduk seperti saat dirinya pertama kali datang.Dia menjelma menjadi patung,tak terusik apalagi berniat pergi.
Nabila, menjadi was-was sendiri.Takut pria itu tengah mengincar dirinya di saat dalam keadaan sepi tiada kendaraan yang lewat apalagi orang yang hendak mampir terlebih dahulu.
"Ya Rabbi,lindungi aku dari segala kejahatan_".
"Tanpa kamu meminta pun,aku kan pergi".Sahut seorang pria dengan suara beratnya, menimpali do'a Nabila yang memohon atas keselamatan jiwa dan raga.
Nabila yang duduk dengan waspada,menoleh kearah pria si pemilik suara khas dan berat.
"Kau _".
"Berapa harga susu coklat yang ku pesan?". Tanpa basa-basi pria itu bertanya dengan wajah yang tertutup topi.
__ADS_1
"10 ribu".Sahut Nabila dengan ketusnya dan tak ramah.
Pria itu menyodorkan uang 100 ribu pada Nabila."Nih dan ambil kembaliannya".Kata si pria dengan sombongnya.