
Nabila harus makan siang seorang diri saja tanpa ibu martinah maupun Nisa yang keberadaannya masih menjadi misteri dan tak di ketahui Kendati demikian ada telor dadar beserta dengan sambal yang tersaji di atas lemari usang yang Nabila duga itu sudah di persiapkan oleh ibu martinah sendiri.
Tanpa berpikir panjang,Nabila langsung mengambil nasi di bakul besar dengan isinya tidak sampai setengahnya.
Lelah pikiran,fisik dan batinnya tanpa sadar Nabila makan lahap seperti orang yang tak pernah makan selama satu Minggu dan seperti orang yang tengah berbuka puasa setelah seharian penuh.
Mario dan Nathan,kedua pria yang berbeda generasi sekali lagi bermunculan di pikiran Nabila yang tengah lahap menyantap makanan siang sederhananya.
Nabila,berhenti mengunyah makanannya dan menghentikan pergerakan tangan nya yang terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Kenapa?,kenapa harus dia orang itu lagi yang harus bermunculan seakan berebut meminta perhatian?".Nabila jadi bertanya-tanya sendiri, padahal bagi Nabila kedua orang itu tak berarti sama sekali dalam hidupnya.Kecuali.
Kecuali,Mario yang mungkin menjadi pengecualian tapi Mario nya telah menghilang bak di telan bumi tak di ketahui keberadaannya apalagi jiwa raganya yang bahkan kepergiannya yang masih menyimpan luka di hati Nabila terhadap Mario yang sekali lagi pergi di saat hatinya mulai merasakan getaran aneh pada sang guru dermawan nya.
"Stop,Nabila".Nasehat Nabila untuk dirinya sendiri dan kembali menyantap makan siangnya yang tersisa tinggal setengahnya lagi.
Selesai makan,Nabila tak lupa mencuci bekas piring yang sudah dia gunakan beserta dengan perabot yang sudah kotor yang ada di kamar mandi sederhana nan sempit.
Sederet kegiatan Nabila lakukan dari mulai menyiapkan dagangan makaroni nya dengan jumlah yang sama seperti tadi,tidak di kurangi apalagi di tambahi dengan seorang diri saja Nabila menyiapkannya.Tak lupa Nabila membersihkan bekas wadah yang sudah dia gunakan,menyapu lantai,mengepel,beserta dengan mencuci pakaian.Kesemuanya Nabila lakukan tapi ibu martinah dan juga Nisa tak kunjung datang.
__ADS_1
Arah jarum jam pun terus bergerak naik, menunjukkan pukul setengah 6.Nabila khawatir dengan keberadaan ibu martinah dan juga Nisa yang belum kunjung pulang.
"Aku harus mencari mereka".Ucap Nabila yang di selimuti oleh rasa khawatir bercampur cemas luar biasa'.
"Assalamu'alaikum".Belum sempat Nabila melangkah keluar,ucap salam terdengar oleh seseorang yang tak asing lagi bagi nabila.
"Waalaikum salam". Dengan segera Nabila pergi ke depan untuk menyambut dia mahkluk yang di kasihi sekaligus yang di khawatirkan oleh nabila.
"Kakak aku pulang".Suara cempreng nan manja menyambut Nabila yang persis sudah berada di ambang pintu dengan raut wajah yang tak percaya dengan kehadiran Nisa dan juga ibu martinah dengan tas plastik besar di tangan kanan dan kiri ibu martinah.
__ADS_1
"Kalian kemana aja?".Nabila memeluk Nisa dan menciumi pipi Nisa seperti baru bertemu dengan sang adik selama bertahun-tahun dia merantau.
"Kemana aja?".Nisa mendongakkan kepalanya,mencoba menatap kakak nya yang berselimut kekhawatiran."Aku dan ibu tadi membantu tetangga yang akan mengadakan acara hajatan dan bukan pergi dengan jarak jauh".Jelas si kecil Nisa dengan polosnya.