Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 214


__ADS_3

"Nabila.."Refleks Nabila terbangun dari bunga mimpi nya setelah suara panggilan itu seperti nyata baginya yang memanggil namanya meminta pendapat nya.


Nabila, terengah-engah bangun dari tidurnya seperti seseorang yang di paksa untuk menghadapi dunia nyata yang keras dan pahit.


"Nabila".Suara teriakan itu seakan nyata baginya dimana semalam Nabila bermimpikan Nathan yang meminta pendapat dari nya.


Yah, pendapat darinya tapi bukan soal debat apalagi kata-kata pedas yang terlontar dari mulut pedas Nathan melainkan sebuah peristiwa dan pernyataan.


"Mimpikan aku atau ini adalah nyata?".Mencoba mencubit lengan nya dan rasanya sakit, menandakan dia tidak sedang bermimpi hanya Nathan saja yang berada di dalam mimpinya secara tiba-tiba.


Nabila,masih terduduk sembari mengingat-ingat kembali mimpinya semalam yang tiba-tiba bermimpikan Nathan tengah bersimpuh di hadapan nya sembari menyodorkan sekotak cincin berlian yang amat indah dan di pahat oleh desainer ternama.

__ADS_1


Nabila, senyum-senyum sendiri kala memori otaknya malah tanpa sengaja memutar adegan romantis itu tapi kemudian raut wajah Nabila menjadi cemberut kala tanpa sadar Nabila bangun dari tidurnya,menyudahi bunga mimpinya yang tiba-tiba bermimpikan Nathan.


Nabila, bergeleng-geleng kepala sembari terus berusaha menghapus memori tentang mimpi semalam dan mencoba menyadarkan dirinya sendiri.


"Kak Nabila,bangun yuk".Suara cempreng khas anak kecil seakan telah membantu Nabila memutus ingatan tentang mimpi semalam.


"Yah dek".Sahut Nabila sembari bergegas keluar kamar.


Buru-buru Nabila keluar kamar sembari membawa baju seragamnya untuk dia pakai setelah membersihkan diri.Mandi kilat sering Nabila lakukan untuk mengejar waktu yang semakin bergerak maju tanpa kompromi apalagi tau situasi dan kondisinya.


Ibu martinah dan Nisa tak curiga terhadap Nabila yang dengan secepat kilat bak kereta ekspres sudah menyelesaikan rutinitas nya dengan cepat dan tak bertele-tele.

__ADS_1


Tak lupa Nabila menenteng sekantong plastik berukuran besar berisi makaroni balado untuk dia jual yang dia buat dengan susah payah tanpa bantuan Nisa maupun ibu martinah.


"Apa dagangannya tidak kurang banyak kak?".Tanya di kecil Nisa dengan polosnya.


Nabila, menghentikan langkah kakinya dan menatap si kecil Nisa yang tengah asyik bergambar.Entah kenapa si kecil Nisa memiliki hobi bergambar?.


"Gak dek,ini malah belum ada apa-apanya".Sahut Nabila,membalas pertanyaan Nisa yang saking polosnya hingga dia bertanya dan berbicara tanpa tau arah dan tempat.


"Kurang banyak?".Tanya Nisa kebingungan sampai-sampai menghentikan kegiatan bergambar nya.


"Haha...Nisa...Nisa.Itu kata sindiran dek".Ibu martinah yang tak sengaja mendengarkan perdebatan Nisa dan Nabila di pagi hari,mengundang rasa penasarannya dan bergegas keluar rumah dengan Nisa yang seakan kebingungan sendiri."Nanti ibu jelaskan,dan kamu Nabila bergegaslah".Perintah ibu martinah semakin membuat Nisa kebingungan.

__ADS_1


Nabila,menuruti perintah ibunya dan si kecil Nisa yang merengek meminta penjelasan dari ibunya dan ibu martinah yang tersenyum bersiap untuk menjelaskan pada si kecil Nisa.


"Ibu..Ibu..Apa iya dagangan kakak kurang banyak yah?, padahal aku lihat itu berat loh".Adu Nisa yang keberatan dengan ucapan kakaknya yang seakan dagangan yang di bawanya kurang banyak.


__ADS_2