
Ibu bidan meninggalkan ibu martinah,Nabila dan juga Nisa setelah dia memberikan nasehat dan pantangan untuk ibu martinah yang sedang terkena penyakit lambung.Gak boleh telat makan,stres,gak boleh minum yang mengandung kafein dan juga makanan yang sekiranya bisa menyebabkan lambung ibu martinah kambuh lagi.
Beberapa pantangan yang sebenarnya sulit untuk ibu martinah jauhkan dari dirinya terlebih tidak boleh telat makan itu sesuatu yang mustahil, mengingat ibu martinah sering menahan laparnya bila tak punya cukup uang.
Nabila dan Nisa memijat-mijat tubuh ibu martinah,yang terduduk selonjoran bersandarkan bantal usang.Ibu martinah merasakan mual yang luar biasa dan makanan yang masuk pun selalu di muntah kan kembali seperti orang yang sedang hamil di trimester pertama nya.
Kata ibu bidan itu hal yang lumrah terjadi bagi si penderita penyakit lambung akut di karena lambungnya sudah terinfeksi.
Nabila,memijat punggung ibu martinah di sebelah kanan.Gadis tangguh itu menangis dalam diam nya,mencoba untuk menahan lelehan air mata yang sedari tadi dia tahan.
Lihatlah tubuh kurus tiada berbalut daging hanya seonggok tulang saja, berusaha menahan perih di perut nya dan juga rasa pusing yang mendera tiada henti.
Beruntung ada ibu bidan yang baik hati dan mulia,mau menolong mereka yang kekurangan dalam keadaan terdesak seperti ini.Bila pun tak ada, mungkin masih ibu martinah tidak seperti ini.
__ADS_1
Berbeda dengan si kecil Nisa,yang tiada henti menangis sesenggukan sembari terus memijat tubuh ibu nya kendati beberapa kali ibu martinah terus menenangkan si kecil Nisa yang tak mau berhenti menangis.
"Hiks .. Hiks...Ibu cepat sembuh".Do'a tulus si kecil tiada lepas dia ucapkan di bibir mungilnya.
Ibu martinah,mengelus paha Nisa menenangkan si kecil yang belum mengerti apa-apa tapi di paksa dewasa dengan keadaan.
Nabila, memeluk tubuh ibu martinah dari arah samping.Pertahanan dirinya seketika runtuh tak kuat lagi menahan lelehan air mata yang terus menganak dalam pelupuk mata nya.
Ibu martinah,memeluk Nabila dan Nisa.Menenangkan kedua putrinya yang entah kenapa berubah cengeng.
"Jangan menangis anak-anak ku,ini penyakit biasa.Insha Allah,ibu pasti akan kuat dan cepat sembuh".Kata lembut ibu martinah menenangkan kedua putrinya.
Bukannya membuat Nisa dan Nabila tenang, justru itu membuat keduanya malah mengeratkan pelukan mereka di tubuh kurus ibunya.
__ADS_1
"Ibu.. "Teriak bisa dan Nabila, seakan itu adalah hari terakhir mereka melihat dan bisa memeluk ibunya.
Ibu martinah,yang bertubuh kurus terasa sesak dan tak kuat menahan beban dari kedua putrinya yang terus memeluknya dengan erat,tak ingin di lepaskan barang sejenak pun.
"Kalau kalian, ingin ibu terus hidup?, setidaknya jangan menyiksa ibu dengan pelukan kalian yang erat hingga napas itu terasa sesak".Hardik ibu martinah.
Nisa dan Nabila baru tersadar setelah ibu mereka dengan gamblangnya malah menyindir mereka yang seakan membunuh ibunya secara pelan-pelan dengan memeluk erat tubuh kurus tak berdaging itu.
Nisa dan Nabila melonggarkan pelukan mereka tanpa melepaskan.Nabila dan Nisa hanya menyengir kuda menyadari kelalaian mereka.
Nabila,mengusap puncak kepala Nisa."Sabar yah dek,Tuhan sayang kita makanya kita terus di uji".
"Iya kak".Sahut Nisa, tertunduk diam.
__ADS_1