
Mario putra darmawan,sudah sekitar 10 menit dia duduk manis di kursi taman yang sengaja di sediakan bagi pengunjung yang ingin berlama-lama berada disana, menikmati setiap kendaraan yang hilir-mudik,atau sekedar duduk-duduk saja sembari melepas penat.
Mario,sudah yakin Nabila akan menemuinya disini kendati memang tidak ada jawaban pasti dari bibir Nabila,tapi raut wajahnya menunjukkan dia menerima tawaran itu dengan resiko besar tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Mario,harus di buat menunggu oleh si gadis tangguhnya. Ini untuk pertama kalinya dia harus menunggu, biasanya orang lain yang harus menunggu kedatangannya tapi kali ini berbeda dari orang kebanyakan.
Mario,tak henti-hentinya menatap jam di pergelangan tangan nya sesekali menatap jalanan, seperti kekasih hati yang hendak menunggu belahan jiwanya datang menjemput.
Jarum jam bergerak dengan mengeluarkan bunyi yang cukup keras,arah jarum jam yang setiap detiknya terus berpindah tapi yang di tunggu masih belum terlihat.Dengan sabar Mario menanti belahan jiwanya datang menjemput nya.
"Dimana gadis itu?".Mario,mulai kesal sendiri hanya menunggu sebuah kedatangan belahan jiwanya yang tak bisa dia tinggalkan tapi menunggu pun tak mau.
__ADS_1
Mario, mengayunkan kakinya yang mulai terasa pegal,mata mulai mengantuk dan cacing-cacing di perutnya sudah mulai berdemo meminta sesuap nasi dari sang empunya.
Mario, menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang lumayan sakit bagi penghuni yang mulai merasa pegal,akibat terus duduk dalam waktu lama.
20 menit,30 menit hingga nyaris 1 jam Mario masih setia menunggu sembari duduk manis di kursi kayu dengan mata tak lepas dari jam di pergelangan tangannya dan kondisi jalanan yang mulai di padati oleh kendaraan.
Langit-langit yang semula cerah kini hanya ada awan hitam pekat yang menutupi cahaya mentari,tetes demi tetes air hujan mulai siap turun membasahi permukaan bumi.Mario masih setia menunggu tanpa ada kepastian.
Mario,berdiri hendak merenggangkan kedua tangannya dan menikmati setiap tetesan demi tetesan air yang membasahi tubuhnya seolah tetesan air itu mampu menyingkirkan segala keresahan,rasa sakit dan bayang-bayang masa lalu kelam nya.
"Pak Mario".Suara teriakan seseorang membuyarkan lamunan Mario,dan menurunkan kedua tangannya yang hendak terentang sembari menengadahkan kepalanya siap menerima tetesan air hujan yang mulai membasahi tubuhnya.
__ADS_1
Mario,menoleh kearah seseorang yang datang dari arah samping.Dia nampak berlari terburu-buru seperti di kejar waktu dengan seragam putih abu-abu nya hampir basah.
"Pak Mario".Teriak wanita itu lagi."Maaf".Sesal wanita itu sembari terus melangkah menghampirinya.
Mario, tersenyum.Penantian nya tak berakhir sia-sia,walau dia hampir menyerah pada penantian yang belum pasti akhir.
Dengan tangan terbuka,Mario tersenyum memaklumi murid didiknya yang tangguh dan gigih berjuang."Gapapa Nabila,aku juga baru datang".Bohong nya, tersenyum manis pada Nabila.
Rasa sesal menghantui diri Nabila,jelas dia yang bersalah karena mungkin terlambat menemui guru dermawan nya seandainya kejadian di perpustakaan tak ada intrik drama di dalamnya dan semua itu berasal dari ulah Nathan anumerta.
Yah,Nathan anumerta yang lagi-lagi terus menganggu ketenangannya dengan tingkah lakunya.Nyatis dia menjadi bahan gunjingan dan gosip di kalangan murid sekolah,beruntung kejadian itu tak ada yang melihatnya dan hanya dia dan Nathan yang tau.
__ADS_1