
Mario,tak hanya ingin mendengarkan cerita dan segala permasalahan nabila langsung dari orang nya,tak hanya memberikan usulan dan 3 nasi bungkus saja melainkan ingin menyerahkan brosur perlombaan yang sudah menjadi keahlian Nabila.
Menulis karya sastra merupakan keahlian Nabila,bukan rahasia umum lagi jika Nabila sering menempelkan karya sastra nya di Mading sekolah bahkan sering mondar-mandir ke perpustakaan,2 tahun berturut-turut Nabila menjadi duta literasi.Tak jarang Nabila, mengkampanyekan pentingnya membaca di kalangan muda.
Sebab itulah Mario,mengajak Nabila pergi ke ruangannya.Brosur tentang perlombaan itu mungkin sangat berharga untuk gadis hebat dan tangguh seperti Nabila.
Dugaan nya benar, lihatlah gadis yang dia lihat tertunduk sedih sekarang berani mengangkat kepalanya saking bahagianya dia mendapatkan brosur perlombaan dengan hadiah yang tak main-main.
Beasiswa dan beberapa uang menjadi hadiah dalam lomba menulis novel kali ini.
Beasiswa dan uang yang sangat di butuhkan oleh Nabila untuk menopang kehidupan nya yang serba kekurangan dan demi masa depan nya yang cerah, secerah kilat matanya yang menyiratkan kebahagiaan.
"Mimpikah atau ini nyata?".Nabila tak henti-hentinya bertanya, seakan tak mempercayai apa yang sudah di baca nya.
Mario, tersenyum."Ini mimpi Nabila?,aku tak pernah memberikan mu harapan palsu seperti perasaan ku".
Deg
__ADS_1
Nabila,menatap pak Mario.Guru sosiologi nya yang tanpa sadar mengungkapkan perasaannya sendiri di hadapannya.Sedang dia, terlihat berbalik badan.
"Perasaan?".Tanya Nabila, memastikan.
"Lupakan Nabila,kau boleh pergi dan jangan lupa untuk di pikirkan lagi untuk mengikuti lomba menulis novel".Usir Mario dengan tegas.
Merasa tak di butuhkan lagi bahkan di usir dengan begitu tegasnya.Nabila,mulai meninggalkan ruangan Mario tanpa lupa memberikan salam untuk penghuni ruangan.
"Aish,kenapa mulut ini gak bisa di kontrol?".Gerutu Mario,mengumpati mulutnya sendiri yang keceplosan malah mengungkapkan perasaannya pada muridnya sendiri.
Nabila,gadis tangguh penuh perjuangan dan memiliki segudang prestasi yang membanggakan.Rasa iba itu telah berubah menjadi rasa sayang.Yah,rasa sayang yang mendominasi mario terhadap Nabila.
Mario,memijat pelipisnya.Entah nanti dia akan masih berani menatap wajah cantik Nabila atau tidak,yang pasti malu luar biasa itu yang di rasakan oleh Mario.
...****************...
Nabila,tak lagi memikirkan ucapan Mario yang tanpa sadar mengungkapkan perasaannya pada dirinya sendiri.Fokusnya adalah pada kesehatan ibu dan adiknya Nisa.
__ADS_1
Nabila,pulang ke rumah dengan berjalan kaki setengah lari,memburu waktu dan pikirannya kembali mengkhawatirkan kesehatan ibunya.
Kebahagiaan yang dia rasakan hanya sementara saja, selebihnya dia tetap di hantui oleh bayang-bayang kesehatan ibunya yang di takutkan malah menjadi memburuk di bawah penjagaan si kecil,Nisa.
"Assalamu'alaikum".Nabila, mengucapkan salam pada penghuni rumah sebelum masuk.
"Waalaikum salam".Si kecil,nisa yang membukakan pintu di temani oleh ibu bidan cantik yang berdiri di belakang Nisa.
Nabila, merangsek masuk ke dalam takut terjadi apa-apa terhadap ibunya mengingat ada ibu bidan di rumah nya.
"Ibu..Ibu". Teriak Nabila,kalap.Dia menghampiri ibunya yang terbaring lemah.
Ibu martinah,yang mendengar teriakkan anaknya membuka matanya menoleh kearah sumber suara yang terlihat mencemaskan keadaan nya.
"Ibu".Nabila,duduk di samping ibu martinah yang terbaring diatas kasur usang.
Ibu, martinah tersenyum pada Nabila.Anak sulungnya yang pulang menimba ilmu."Anak ku".Gumam ibu martinah,sembari merenggangkan kedua tangannya seperti hendak memeluk Nabila dengan mata sembabnya
__ADS_1