Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 35


__ADS_3

Nabila, terbangun dengan mata sembab dan kepala pening.Semalam dia menorehkan rangkaian cerita kehidupan pilu nya sembari meneteskan air mata yang sedari siang dia tahan dan beberapa bulan ke belakang.


Nathan,si ketua kelas dengan segudang prestasi dan populer selalu menyiksa batinnya dengan kata-kata hinaan dan setiap debat yang sering di lakukan tanpa sadar Nathan memberikan sindiran dan hinaan untuknya.


Semangat juang dan pantang menyerah dari Nabila lah yang membuat dia tetap bertahan,di samping ada petugas perpustakaan yang tak pernah putus memberikan dia semangat dan..Dan pak Mario.


"Hah.."Nabila, menghembuskan napasnya secara kasar.Baru bangun tidur dengan keadaan tak baik, pikiran nya malah mengarah pada pak Mario.


Bukan cinta,akan tetapi dia selalu kagum dan menghargai usaha pak Mario dalam menumbuhkan rasa percaya diri untuknya dan semangat juang pantang menyerah.


Nabila,pergi ke kamar mandi dengan langkah gontai akibat matanya yang sembab dan kepalanya terasa pening.


Tak perlu waktu yang lama bagi Nabila untuk membersihkan diri.Toh,dia gak punya bathub dengan jacuzzi mewah ala keluarga konglomerat.Hanya dengan seember air dengan gayung sebagai alat menampung air yang dia miliki.

__ADS_1


Hari ini dia menggunakan baju Pramuka lusuh pemberian tetangganya, lagi-lagi Nabila harus menggunakan baju bekas dari tetangga nya yang iba terhadap kehidupannya.


Nabila,nisa dan ibu martinah sarapan hanya dengan nasi beserta kerupuk sebagai lauk nya.Kalau pun tak sanggup,pasti hanya dengan kecap saja.


Cukup untuk mereka bertiga mengganjal perut dan lebih baik daripada tidak sama sekali.Itu pun sepiring bertiga.


Nabila,menatap sang ibu yang masih merasakan pusing di kepalanya akibat penyakit lambung belum sembuh total.Ada rasa tak tega pada keadaan kesehatan ibunya tapi itu juga menjadi alasan Nabila tetap berjuang meraih cita-citanya terlepas dari keterbatasannya dalam menempuh pendidikan.


Setelah sarapan,Nabila beranjak pergi ke sekolah nya setelah berpamitan dengan ibu dan adiknya yang tengah lahap sarapan hanya dengan kerupuk saja.


"Ibu,aku pamit pergi ke sekolah dulu.Do'a kan anak mu ini Bu.. Assalamu'alaikum".Pamit Nabila, mencium tangan ibu martinah dengan takzimnya.


Ibu martinah, menganggukkan kepalanya dan menyalami Nabila yang hendak berangkat menimba ilmu.

__ADS_1


"Hati-hati nak,do'a ibu selalu yang terbaik untuk mu".Sahut ibu martinah,mengiringi kepergian Nabila.


Hanya dengan berjalan kaki, tanpa menenteng barang dagangannya.Nabila,bisa sampai ke sekolah lebih awal dari biasanya.


Dia tak perlu susah payah berjalan apalagi harus menitipkan barang dagangannya pada ibu kantin.


10 menit waktu yang bisa dia tempuh, 5 menit lebih awal dari biasanya Nabila habiskan dalam perjalanan nya menuju sekolah.


Masih ada sekitar 30 menit sebelum bel berbunyi menandakan jam mata pelajaran pertama di mulai.Nabila, menyempatkan diri pergi ke perpustakaan untuk sekedar menempelkan karya fiksi nya atau membersihkan ruangan perpustakaan.


"Baru mampir lagi,bil?". Pertanyaan itu terlontar dari seorang guru yang tak asing bahkan tak pernah absen bertanya padanya.


Lagi-lagi hanya ulasan senyum yang Nabila berikan.Entah trauma,atau memang dia ingin menjaga jarak.Yang pasti Nabila,lebih irit bicara dari biasanya.

__ADS_1


__ADS_2