
"Ibu..."Ibu martinah di kejutkan oleh sebuah teriakan Nabila yang memanggil namanya.Dengan hati-hati dan terburu-buru,ibu martinah memasukkan kembali pecahan uang itu dalam kaleng bekas kue kering.
"Iya nak".Balas teriak ibu martinah sembari menghampiri nabila.
Dengan tergopoh-gopoh dan tubuh yang gemetar,ibu martinah menghampiri Nabila di dapur."Ada apa nak".Ibu martinah bertanya dengan khawatir pada anak gadisnya.
Nabila tersenyum.Salah nya yang memanggil ibunya dengan berteriak.Nabila berdiri dan merangkul tangan ibu martinah."Maaf Bu,telah memanggil mu dengan cara yang tak sopan.Mari kita makan terlebih dahulu, kasihan si kecil Nisa sudah kelaparan".Jelas Nabila penuh dengan sesal.
Ibu martinah tersenyum sembari mengenggam tangan Nabila, seingatnya Nabila baru pulang dan langsung mengecek yang yang sudah dia kumpulkan selama hampir satu bulan ini demi mendapatkan sebuah laptop untuk menunjang segala aktivitasnya dan memenuhi syarat sebagai peserta lomba menulis novel.
Tapi, dugaannya ternyata salah entah mungkin dia terlalu lama menghitung uang sehingga tak menyadari kedua putrinya tengah menunggu nya untuk makan siang bersama dengan seadanya.
__ADS_1
"Ibu lama".Rajuk Nisa sembari cemberut.Bocah kecil itu menjadi tak sabaran jika masalah perut.
Ibu martinah mengusap puncak kepala anak bungsunya."Maafkan ibu sayang".Ucap ibu martinah dengan penuh sesal sembari ikut duduk di samping Nisa.
Makan siang yang hanya dengan telur dadar yang sudah di bagi menjadi 4 bagian yang sama besarnya oleh Nabila sebagai lauk-pauk untuk mereka bertiga.
Si kecil Nisa,tak menunggu kakaknya dan ibunya mengambil terlebih dahulu nasi dan telur.Dia malah sudah mengunyahnya dalam mulut penuh,tak menunggu orang dewasa mengambil bagiannya.
"Makan yang lahap yah dek".Ucap nabila,menyindir Nisa yang belepotan memasukkan nasi beserta sepotong telur dadar ke dalam mulutnya.
Nisa, mengangguk.Agak repot harus menjawab ucapan kakaknya di kala mulutnya dalam keadaan penuh terisi oleh nasi.
__ADS_1
Ibu martinah dan Nabila mengambil piring,nasi dan telur dadar satu persatu dengan tertib dan memakannya secara hati-hati pula tak seperti Nisa yang seperti di kejar waktu.
Tak lama bagi ketiga nya untuk menghabiskan Badi beserta telur dadar di piring mereka masing-masing terutama Nisa yang sedari awal makan dengan terburu-buru,tak sabaran mengisi perutnya yang keroncongan mengeluarkan bunyi-bunyi cacing dalam perutnya.
"Bu,do'a kan aku agar dagangan ku laku banyak yah Bu".Ucap nabila,do sela-sela ibu martinah dan nabila membereskan piring bekas makan mereka bertiga.
"Pasti nak,aku pasti akan mendoakan yang terbaik untuk mu".Sahut ibu martinah,tersenyum menyemangati anak gadisnya yang gigih berjuang.
Sudah hampir 10 hari ini,Nabila banting stir menjadi pedagang asongan dengan menjual kopi,kacang,mie dan aneka cemilan lainnya dengan cara mengayuh sepeda dengan dalih agar dagangannya lebih banyak di bawa.
Entah ide darimana Nabila, berdagang asongan,satu yang pasti ibu martinah pasti akan mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk anak-anak nya dan masa depan mereka yang harus di tempuh dengan penuh perjuangan.
__ADS_1