
Nabila,yang hendak makan bersama dengan bisa pun harus terlupa begitu dia melihat ibunya tengah kerepotan menyiapkan barang dagangannya hingga si kecil Nisa harus menyusul sang kakak ke dapur.
"Lah,kok kakak malah sibuk bantuin ibu".Keluh Nisa,sembari mendekati Nabila dan ibu martinah.
Nabila,menoleh kearah Nisa yang menghampirinya dan melayangkan senyuman manis nya.Tersadar kembali dengan apa yang menjadi tujuan nya.
"Hehe...Maaf dek". Nabila,menyengir kuda.Memohon ampun atas kelalaian nya.
Nisa,tak mempermasalahkan sikap pelupa sang kakak.Dia juga ikut membantu ibunya dalam menyiapkan barang dagangan yang akan di jual oleh Nabila esok pagi.
Dia yang mendapatkan bagian memasukkan makaroni balado yang sudah dingin ke dalam plastik kemasan dan merapat nya dengan bantuan lelehan lilin.
Begitu asyik Nisa membantu ibu dan kakaknya hingga dia melupakan suara cacing di perutnya yang melakukan demo massal.
__ADS_1
Nisa,Nabila dan ibu martinah sibuk dengan tugas mereka masing-masing dalam menyiapkan barang dagangan untuk di jual sendiri oleh Nisa maupun ibu martinah hingga tak menyadari waktu sudah beranjak naik dan sinar mentari telah tergantikan oleh sinar rembulan.
Malam ini,Nabila seperti biasa belajar dan beraktivitas dengan memanfaatkan cahaya lilin untuk menerangi ruangan.
Di bawah cahaya lilin itu pula Nabila nampak berpikir sesekali terdiam, tangan nya begitu lihai dalam menuliskan beberapa kosa kata, merangkai nya dalam sebuah cerita yang siap di nikmati oleh kalangan pecinta karya fiksi.
Cerbung yang di sinyalir adalah hobi dan bakat Nabila yang terpendam telah mendapatkan respon positif dari murid sekolah yang telah meninggalkan pesan dan kesan nya atas karya fiksi mahakarya nya.
Malam ini Nabila seperti punya suntikan semangat baru dalam menulis dan menorehkan setiap idenya dalam sebuah cerita.
"Brosur itu".Nabila menghentikan pergerakan tangan nya diatas kertas putih yang menjadi saksi atas terciptanya sebuah mahakarya dari tulisan tangan nabila.
Nabila, beranjak dari duduknya dan mengambil brosur yang telah di berikan oleh pak Mario tempo hari dengan berlari terbirit-birit.
__ADS_1
"Hah".Nabila, menghela napas lega.Brosur yang selalu dia bawa dalam tas punggung lusuhnya masih ada dan masih utuh seperti sedia kala,terselip di dalam buku nya.
Nabila,mengamati dan membaca brosur itu lagi dengan seksama,menimang nya dan berpikir keras.Brosur itu telah mendatangkan kesempatan baru untuk Nabila,tak lagi faktor ekonomi mempengaruhi keberhasilannya.
Lama Nabila,diam berpikir sesekali berandai-andai bila suatu saat dia yang memenangkan lomba tersebut dan mengangkat derajat keluarganya.
Pikiran dan ide tiba-tiba melintas di pikiran Nabila untuk menorehkan beberapa kata menjadi sebuah cerita.
Nabila,kembali duduk di bawah cahaya lilin siap untuk merangkai ceritanya kembali terlepas dari pikirannya yang di hantui oleh kecemasan dan kebimbangan atas keputusan yang akan dia ambil.
"Bolehkah gadis miskin seperti ku, bermimpi setinggi langit?".Gumam Nabila sembari terus bermain-main dengan bolpoin nya.
Nabila,terkadang menaruh harapan tinggi dan mengantungkan mimpinya setinggi langit seperti kata bung Karno.'Berminpi lah setinggi langit,bila kau jatuh pun kau akan jatuh diantara bintang-bintang '.Itu pula yang menjadi semangat nabila dalam meraih cita-citanya,yang di mulai dengan impian dan di realisasikan dengan usaha dan do'a.
__ADS_1