Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 196


__ADS_3

Nabila, berharap-harap cemas dengan reaksi Nita yang bahkan dia sampai menghentikan langkah kakinya dan bahkan menoleh kearahnya pun tidak.


Nabila, berdiri hendak menghampiri Nita tapi sebuah tangan yang terangkat menunjuk kearah menghentikan niatan Nabila dan memaksanya untuk tidak mendekati Nita.


"Jangan sok peduli dengan keadaan ku,kau sama saja seperti pengkhianat".


Deg


Seakan tertancap pisau tepat di ulu hati,Nabila merasakan sakit yang teramat dalam dengan kata-kata Nita yang menohok dan masih menganggapnya sebagai pengkhianat.


"Aku bukan pengkhianat Nita,aku tak seperti apa yang kau tuduh kan pada ku".Ucap Nabila, menyanggah tuduhan Nita yang tak benar.


Lama bungkam dan keheningan menyelimuti ruangan kelas yang hanya berisi dua orang manusia dengan pemikiran yang berbeda dan kasta yang jauh berbeda.

__ADS_1


Nabila,duduk kembali di kursinya sembari memegang dadanya merasakan sakit yang luar biasa karena kata-kata Nita yang menohok dan langsung menghujami nya dengan sebilah pisau.


"Lalu".Nita memulai pembicaraannya setelah lama berdiam diri membelakangi nabila."Lalu apa namanya jika bukan pengkhianat?, sedangkan kau selalu ada di dalam pikiran dan hatinya padahal dia berada jauh dengan mu".Gertak Nita sembari berbalik badan dan menatap Nabila dengan tatapan tajam.


Nabila, memberanikan diri menatap Nita yang Nabila tau Nita tengah menahan amarahnya terhadap dirinya.


"Aku bukan pengkhianat _"


"Cukup".Teriak Nita sembari mengarahkan tangannya kearah Nabila dan tatapan nya yang semakin tajam."Jangan membela diri mu karena harga diri mu,kau tak lebih dari seonggok sampah,kau pengkhianat".Teriak Nita kalap.


Tetesan demi tetesan air mata keluar dengan derasnya seakan tak kuat lagi membendung air mata yang sedari dulu dia pertahankan agar tak runtuh.


"Hapus air mata buaya mu,tangisan mu tak akan pernah membuat ku luluh dan bahkan malah membuat ku semakin membenci mu,Nabila Kemala".Ucap Nita secara pelan tapi menusuk.

__ADS_1


Nabila,tak bisa lagi membalas ucapan Nita dan membantah segala tuduhan nya yang menyakitkan.Hanya bisa tertunduk diam sembari meratapi nasib,Nabila tak menyadari kepergian Nita dan tergantikan oleh sosok lain di hadapannya.


"Nih".Nabila di kejutkan oleh sebuah suara berat nan serak sembari menyodorkan tisu kearah nya.


Nabila,tak berani mengambil tisu dari orang itu dan hanya membiarkan air matanya terus menetes membasahi pipi dan rok nya.


Orang itu terlihat berjalan kearah samping dan duduk di sebelah Nabila sembari terus menatap Nabila yang menangis sesenggukan.


Nabila,tak lagi bis lagi menyembunyikan luka hatinya, kehadiran pria itu seakan telah menawarkan bahu untuk Nabila bersandar dan berkeluh kesah.


Tanpa sadar Nabila menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu yang bahkan dengan tatapan lembut dan menyejukkan telah memberikan ketenangan bagi Nabila yang tak lagi kuat menahan beban.


"Menangis lah Nabila,jika air mata bisa sedikit meringankan beban mu dan bersandar lah di bahu ku,bila penderitaan mu di rasa cukup berat dan tak kuat menanggungnya sendiri".Ucap lembut pria itu.

__ADS_1


Nabila semakin menangis sesenggukan di bahu pria itu bahkan tanpa sadar air matanya telah membasahi baju pria itu.Namun,pria itu tetap diam seakan membiarkan Nabila menumpahkan beban masalah nya yang selama ini dia tahan dan tak membagi nya pada orang lain.


__ADS_2