Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 74


__ADS_3

Nathan dan Noval saling pandang,nama guru yang mereka hindari malah ada di dalam gulungan kertas tak seperti kelompok Nabila dan Nita yang mendapatkan sebuah jackpot.


"Nasib...Nasib...Nasib".Gerutu Noval,mau tak mau dia harus pasrah menerima keputusan yang sudah mereka ambil tanpa bisa memilih.


Kring...Kring...Kring...


Bel,tanda pelajaran usai sekaligus menandakan bel tanda istirahat berbunyi nyaring, menandakan pelajaran telah usai dan tugas bisa di laksanakan bila mata pelajaran bahasa Indonesia kembali ada dengan materi wawancara yang sudah di siapkan.


Ibu guru pamit dengan memberikan tugas tambahan,selain menyusun pertanyaan yang akan di ajukan kepada guru yang namanya sudah di ketahui.Tugas tambahan itu berupa menulis cerita pendek dalam buku masing-masing.Nabila, tersenyum dia ahlinya dalam hal ini.


Nita,yang lemah dalam menulis karya fiksi mengeluh,dan cemberut akan tugas tambahan yang di berikan oleh ibu guru.


"Yah,kok ada tambahan tugas sih".Keluh Nita.

__ADS_1


Nabil,yang hendak keluar kela untuk berjualan terpaksa harus menghentikan langkah kakinya kala mendengar keluhan Nita.


"Nanti aku bantu,don't worry".Sahut Nabila, menenangkan Nita yang di Landa keresahan.


Senyum mengembang terpancar di bibir nita.Dia yang tadinya cemberut kini tersenyum lebar bak anak kecil di belikan mainan baru.


"Really?".Nita merangkul tangan Nabila yang menenteng sekantong plastik berukuran besar.


Nita, bergeleng kepala.Nabila tak pernah berbohong,dia selalu menempati janjinya dan tak pernah berkhianat.


Nabila, tersenyum pada Nita yang menaruh rasa percaya padanya.Dia lantas beranjak dari kursinya hendak keluar kelas untuk berjualan,namun langkah kakinya harus terhenti lagi sekarang bukan karena mendengar keluhan Nita melainkan tangan Nita yang mengambil alih sekantong plastik berukuran besar.


"Nit".Nabila,merasa tak enak hati kantong plastik berukuran besar yang berisi dagangannya di ambil alih oleh Nita.

__ADS_1


Nabila,berusaha untuk merebut kembali kantong plastik dagangannya namun tak di indahkan oleh nits.Dia malah dengan santainya menenteng kantong plastik besar itu keluar kelas dan berteriak-teriak memanggil pembeli dengan Nabila berada di belakang nya.


Teriakan Nita yang memanggil pembeli,telah menjadi pusat perhatian.Lihatlah si cantik yang modis dengan keluarganya yang berlimpah harta tak malu berjualan meski itu hanya membantu saja.


Nita,yang cantik dan primadona sekolah menawarkan dan berteriak memanggil pembeli.Dalam hitungan menit saja, dagangan nabila sudah habis terjual tentunya bukan karena skill berdagang Nita yang mumpuni tapi karena Nita yang merupakan primadona sekolah dan dalam berjualan nya pun sering mengintimidasi pembeli dengan ancaman yang tak main-main.


Nabila, hanya bisa pasrah begitu saja kala dagangannya di ambil alih oleh Nita dan di jual sesuka hatinya tanpa melihat dan menggunakan skill berdagang nya.Bukan Nabila,tak mampu melawan Nita, hanya saja Nita terlalu keras kepala untuk di bantah.


Nita, mengibas-kibaskan uang hasil penjualan makaroni nya ke depan wajahnya, seakan dengan bangganya dia mampu menjual makaroni dengan waktu yang singkat,tak seperti Nabila yang memakan waktu banyak hanya untuk menjual habis dagangannya.


"Nit".Nabila menghampiri Nita yang terduduk lemas sembari mengibas-kibaskan uang ke depan wajahnya.


Nita,menoleh kearah nabila yang ikut duduk di sampingnya seakan dia mengkhawatirkan suatu barang berharganya telah di curi oleh orang lain bahkan parahnya oleh orang yang di kenal dan di percaya nya.

__ADS_1


__ADS_2