Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 132


__ADS_3

"Kalau cinta perjuangkan,kalau tidak lepaskan".Skak Nathan, menimpali sindiran Noval yang telah berani menganggu usahanya terhadap Nabila yang sudah di taklukkan.


Noval,memutar bola matanya jengah.Sudah jelas perjuangannya mendapatkan cinta sejatinya hancur lebur karena sebuah perjodohan laknat itu,tapi bagi Nathan dan Nabila.Mereka masih memiliki kesempatan.


Guru pertama yang mengajar datang tak lama dari bel berbunyi nyaring,guru geografi itu selalu on time dalam mengajar dan memberikan ilmu pengetahuan untuk anak didiknya.


Saling sindir antara Nabila dan Nathan harus terhenti seiring dengan jam pelajaran di mulai dari jam pertama hingga selesai, mereka memang berhenti saling menyindir namun berdebat tak pernah absen dalam diri mereka yang sudah mendarah daging.


Kedekatan Nabila dan Nathan berawal dari saling adu argumen bahkan sampai harus perang mulut di luar kelas saja pernah hampir mereka lakukan,bukan karena Nabila dan nathan yang terlalu jauh berdebat namun karena dendam dan emosional di dalamnya.


Saat pulang hati ini pula,di saat Nabila hendak menempelkan karya nya di Mading sekolah Nabila mendapatkan gangguan lagi dari Nathan yang akhir-akhir ini sering menganggu Nabila dari segala rutinitasnya.


"Tempel aja terus,kayak loe aja penulis disini".Sindir Nathan,pada Nabila yang sedang menempelkan karya nya di Mading perpustakaan yang lazimnya sering dia lakukan.

__ADS_1


Nabila,tak menggubris ocehan Nathan yang semakin di bales malah semakin menjadi.Sikap diam harus dia ambil agar Nathan tak terus-menerus mengoceh tak jelas.


Nabila melenggang pergi tanpa memperdulikan keberadaan Nathan yang bersusah payah menarik perhatiannya dengan terus menganggu di setiap kegiatannya.


"Makaroni.. Makaroni.."


"Mana ada yang mau beli di siang hari ini?".Sahut Nathan,membuntuti Nabila kemanapun dia pergi.


"Makaroni nya kak".Teriak si pembeli.


Nabila langsung menghampiri si pembeli itu dengan wajah sumringah dan senyuman tak pernah lepas darinya, mengabaikan Nathan yang terus membuntutinya bak pengawal pribadi yang mengawal figur terkenal.


"Mau berapa dek?".Tanya Nabila dengan sopan nya sembari berjongkok membukakan kantong plastik berisi dagangannya.

__ADS_1


"3 kak".


Nabila dengan sigap menyodorkan ketiga makaroni itu pada si pembeli dan menerima uang yang di berikan oleh si pembeli sesuai dengan jumlah harga yang telah di tentukan.


"Alhamdulilah".Nabila bernapas lega karena dagangannya telah habis terjual dengan demikian Nabila bisa cepat pulang ke rumah dan kembali berdagang dengan cara yang berbeda.


Nathan,menatap takjub pada Nabila yang dengan gigih dan pantang menyerah berusaha mengais rezeki di tengah kesibukannya sebagai pelajar dan bahkan mungkin orang seusia dia tak jarang ada yang mau melakoni kedua peran yang berbeda.


Nathan,masih diam terpaku tak beranjak dari tempatnya kendati Nabila sudah tak ada lagi di hadapannya.Nathwn seperti sudah terkena hipnotis dari Nabila lewat caranya yang mampu membuka hati Nathan yang keras dan dingin.


"Luar biasa,tak salah aku mengagumi mu bil.Dari dulu hingga sekarang ".Gumam Nathan, terpesona pada kecantikan Nabila yang tak hanya cantik dari luar namun dari dalam juga.


Tak di pungkiri Nathan merupakan salah satu pengemar Nabila bahkan menasbihkan diri pada seorang Nabila lewat cara dan sikapnya yang berbeda dengan orang kebanyakan,apalagi Mario yang terang-terangan menyukai Nabila.

__ADS_1


__ADS_2