
Nabila pergi ke dapur kembali untuk mengecek nasi beserta lauk pauk nya sudah siap atau tidaknya, sekalian membantu ibunya memasak apa yang sekiranya membutuhkan bantuannya.
Ekspetasi Nabila ternyata tak sesuai harapan.Nyatanya menu sarapan untuk di santap oleh dirinya, adiknya dan juga ibunya telah tersaji di hadapan matanya dengan ibu martinah duduk menghadap nasi beserta dengan lauk pauknya yang terdiri hanya berupa sayur sop.
"Adik mu belum bangun,Nabil?".Nabila di sambut oleh pertanyaan dari ibu martinah dan hanya di jawab berupa anggukan kepala.
Nabila, menghampiri ibu martinah dan duduk di sampingnya,bersiap untuk menyantap sarapan sederhananya.
"Kamu makan duluan aja,Nabil.Ibu masih ada urusan yang belum selesai".Ibu martinah,beranjak pergi meninggalkan Nabila yang sudah mulai mengambil menu sarapannya.
Perut yang sudah lapar dan di buru oleh waktu yang tanpa sadar telah bergerak maju,Nabila tak banyak bertanya mengenai kegiatan dan aktivitas ibu martinah yang katanya masih ada urusan.
__ADS_1
Nabila, menyantap menu sarapan sederhana nya dengan khusus,tak mengeluarkan sepatah kata terkecuali suara sendok yang di masukkan ke dalam mulutnya.
Sampai selesai sarapan pun,Nabila tak melihat ibu nya di sekitar dirinya dan entah pergi lama ibunya yang tiba-tiba meninggalkan dirinya makan seorang diri.
Nabila pun tak mencari bahkan tak bertanya,dia harus berangkat pagi-pagi buta sekali bila perlu satpam sekolah pun belum ada yang datang dan membuka kan pintu untuknya.
Selesai sarapan Nabila, membereskan piring bekas sarapannya, mangkuk berisi sayur sup dan nasi tak lupa Nabila mencuci piring bekas nya makan.
Nabila, kebingungan mencari keberadaan ibu martinah yang tiba-tiba menghilang dengan sekejap mata.Nabila,menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 7,sudah terlambat sekali baginya untuk berangkat sekolah.
Nabila,bergegas mengambil tas punggungnya dan keluar dari rumah."Ibu aku berangkat".Teriak Nabila di ambang pintu.
__ADS_1
Tak ada sahutan dari ibunya apalagi bisa yang di ketahui nya kasih terlelap tidur.Nabila, memutuskan untuk berangkat sekolah saja dengan menenteng sekantong plastik berukuran besar.
Nabila,harus berjalan cepat agar dia bisa menitipkan barang dagangannya pada ibu kantin.Berjualan keliling kelas tak akan mungkin.
Di kejauhan,ibu martinah menatap kepergian putrinya dengan tatapan nanar.Lihatlah putri sulung nya tengah keberatan membawa sekantong plastik berukuran besar yang berisi barang dagangan untuk dia jual.
"Sabar yah nak,suatu hari nanti kamu pasti bisa meraih impian dan cita-cita mu lewat karya-karya mu yang menggetarkan hati pembaca".Gumam ibu martinah,sembari melangkah dengan terseok-seok karena beban berat dari kantong plastik berukuran besar yang berisi pakaian kotor.
Di tangan kanan dan kirinya, terdapat pakaian kotor untuk dia cuci dan gosok sebagai tambahan untuk membantu Nabila mewujudkan impiannya.
Ibu martinah memang sudah mengetahui perihal brosur tentang perlombaan menulis novel online deng hadiah yang fantastis,namun ibu martinah juga menyadari Nabila membutuhkan smartphone atau laptop sebagai bahan untuk dia bisa ikut lomba menulis novel online karena nya dia juga ikut membantu meringankan beban nabila.
__ADS_1
Ibu martinah,tidak memberitahu kan tentang aktivitas yang di luar kendali bahkan mungkin Nabila pun tak akan mengizinkan nya,mengingat dia pernah menderita penyakit lambung sampai berhari-hari.