
Nabila berlari sejauh mungkin tanpa tau arah dan tujuan.Dengan beralaskan sandal,dan plastik hitam yang selalu dia bawa bekas dagangannya untuk dia gunakan untuk dagangannya pula.Nabila,tak di landa kebingungan akan arah jalan yang bukan arah jalan pulang.
Awan hitam pekat itu telah berubah menjadi butiran-butiran kristal bening yang siap turun ke permukaan.
Rintik demi rintik hujan satu persatu mulai turun tanpa bisa di cegah oleh satu pun manusia dan menambah nyenyak bagi orang-orang yang sudah terlelap tidur.
Nabila, memutuskan untuk berhenti sejenak setelah dia rasa Nathan tak bisa mengejar dirinya lagi dan kepalanya mulai merasakan ada setetes air yang membasahi kepalanya.
"Hujan?".Nabila menengadahkan kepalanya keatas langit-langit, rintikan itu telah berubah menjadi air hujan dengan debit air yang begitu besar.
Nabila, celingak-celinguk kesana-kemari memandang sekitar mencari tempat untuk berteduh.Ekor matanya menangkap sebuah tenda warung yang masih buka di kala hujan mulai turun semakin deras.
__ADS_1
Nabila,tak berpikir panjang.Dia menghampiri warung tenda yang buka di dekat taman, berharap dia bisa berteduh sejenak sampai hujannya reda.
Tubuh Nabila menggigil kedinginan,hujan lebat di sertai dengan angin kencang membawa Nabila terus melangkah ke warung tenda terdekat yang kebetulan masih buka di malam hari.
"Permisi pak,apa saya boleh numpang berteduh".Nabila,minta izin pada pemilik warung tenda yang di jaga oleh pria paruh baya.
"Iya gapapa neng".Sahut si pedagang, mempersilahkan Nabila untuk berteduh.
Warung tenda yang menjual minuman dan makanan dingin maupun hangat ini seringkali buka di sore hari dan tutup di malam hari bahkan dini hari,warung tenda yang sering mangkal di taman dan mengais rezeki dari pengendara motor maupun mobil yang lewat.
Nabila duduk persis di bangku panjang itu dan menghadap langsung dengan barang dagangan.
__ADS_1
Krucut..Krucut...Krucut..
Cacing-cacing dalam perut Nabila mulai melakukan aksi demo meminta sang empunya untuk mengisi nutrisi agar cacing-cacing di dalam perut Nabila berhenti berdemo.
Nabila,menelan air liurnya.Rasa lapar di kala hujan semakin meningkat malah di perparah dia berhadapan langsung dengan barang dagangan yang di jajakan yang terdiri dari mie instans,aneka gorengan dan cemilan lainnya.
Sekuat tenaga Nabila untuk menahan rasa laparnya,tapi sialnya cacing-cacing di perutnya terlanjur melakukan aksi demo meminta makan dan perut Nabila yang sudah perih karena di paksa menahan lapar.
Nabila,merogoh saku celana dan menemukan beberapa lembar uang hasil berjualan.Bimbangnsba menentukan pilihan,antara membeli makanan atau uangnya di simpan saja.
"Lapar yah neng?".Tanya pemilik warung tenda, memperhatikan gerak-gerik Nabila yang kelaparan dan uang yang ada di genggaman tangan nya ."Uang mu kurang?".Tanya si pemilik tenda lagi,menyadari raut wajah Nabila yang bingung menentukan pilihan.
__ADS_1
Nabila, bergeleng kepala."Tidak pak, hanya saja uang ini adalah uang hasil jualan saya yang akan saya gunakan untuk membeli smartphone".Jelas Nabila,tertunduk diam.
Pemilik warung tenda itu menghela napasnya.Dari cara pakaian gadis di hadapannya saja,sudah dapat di ketahui orang itu tengah berjuang melawan keras nya kehidupan.Sama seperti seorang pemuda yang melakukan hal yang sama,7 tahun silam.