
Nabila di kejar waktu yang sebentar lagi terdengar bel tanda mata pelajaran pertama akan di mulai.Berintung Nabila bisa berlari s cepat superhero meski dia menenteng sekantong plastik berukuran besar.
Nabila,mampir terlebih dahulu ke kantin untuk menitipkan barang dagangannya yang sudah dia bagi dua dengan barang dagangan yang akan dia jual.
"Bu,maaf yah barang dagangannya lebih banyak lagi dari hati kemarin".Nabila merasa sungkan bila terus-menerus menitipkan barang dagangannya dalam jumlah yang besar padahal ibu kantin saja tak keberatan.
Ibu kantin itu hanya tersenyum, memaklumi dengan barang dagangan nabila yang setiap hari nya terus bertambah tanpa banyak pertanyaan apalagi mematahkan semangat dari murid penuh perjuangan.
Nabila, menyodorkan beberapa barang dagangannya pada ibu kantin dan di terima dengan sukarela dan tak ikhlas membantu murid yang gigih memperjuangkan mimpinya.
Serah terima barang dan uang hasil penjualan makaroni kemarin,telah selesai di laksanakan bertepatan dengan suara bel berbunyi nyaring dan agak lama.
Nabila,bergegas lari memburu waktu agar dia lebih cepat masuk daripada guru pertama yang hendak mengajar.
__ADS_1
"Nabila".Nabila di sambut oleh teriakan temannya yang berdiri diambang pintu seperti menunggu kedatangan dirinya.
"Darimana aja kau?,tumben baru datang".Rentetan pertanyaan begitu terdengar memekakkan telinga Nabila yang lelah berlari hingga napasnya tersengal memburu waktu yang hampir telat.
Nabila tak langsung menjawab pertanyaan teman nya yang tak lain dan tak bukan adalah Nita Edison.Nabila,duduk di kursinya dengan tas punggung nya berada tepat di punggung nya dan sekantong plastik berukuran besar ada di bawah meja.
Tak mendapatkan jawaban dari Nabila,bukan berarti Nita menyerah begitu saja.Dia juga ikut duduk di samping Nabila dengan tatapan tak pernah lepas dari nabila.
"Apa?". Dengan tanpa bersalahnya Nabila malah bertanya seakan tak ada masalah, padahal sejak tadi Nita mengkhawatirkan keberadaan Nabila yang tak kunjung datang.
Nabila,terkekeh menyadari kesalahannya."Maaf". Hanya kata itu yang bisa dia ucapkan atas sikap ketidakpedulian nya.
Nita,menepuk pundak Nabila dan pandangan nya mengarah pada sekantong plastik berukuran besar yang Nabila letakkan di bawah meja.
__ADS_1
"Itu pasti dagangan mu yah?".
"Yah apalagi kalau bukan dagangannya,loe kira itu isinya yang".Bukan Nabila yang menjawab pertanyaan Nita, melainkan suara seorang pria yang berdiri tepat di depan Nabila dengan anggota gengnya tak pernah absen menemani setiap langkahnya.
Nita dan Nabila menoleh kearah sumber suara.Nabila sedikit terkejut,tapi tidak dengan Nita yang menatap malas pada pria yang selalu menganggu dia dan nabila.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Nathan anumerta dan anggota gengnya setia menemaninya.
"Yah,parasit datang lagi".Sindir nita dengan mendelik sebal,selalu saja ada mereka yang menjadi parasit di setiap aktivitas Nita dan nabila.
"Yah loe amuba nya".Sindir balik Nathan,tak mau kalah dengan Nita yang menjadi malaikat pelindung bagi nabila.
Nabila,menoleh kearah Nita bermaksud untuk tidak lagi membalas sindiran dan kata hinaan untuk Nathan yang sekali di jawab pasti akan terus-menerus menjawab seakan dia punya permainan baru.
__ADS_1
"Orang kayak dia gak bisa di biarin,Nabil".Sahut Nita,tak setuju dengan pendapat Nabila yang selalu mengalah dan mengalah dengan hinaan nathan.
"Yah betul".