Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 189


__ADS_3

Nabila mengamati ibu kantin yang sibuk sendiri menghitung jumlah dagangan Nabila tanpa sedikitpun mengeluh apalagi protes.


"Lebih banyak,lebih bagus.Bil".Ucap ibu kantin sembari menatap Nabila yang kelelahan.


"Ah ibu,aku semakin gak enak hati".Sahut Nabila,sembari menghampiri ibu kantin yang sudah selesai menghitung dan hendak memberikan uang di muka terlebih dahulu.


"Total nya ada 100 bungkus dan ini,ibu bayar sebagian dulu yah".Ibu kantin dengan senyuman manisnya, memberikan uang kepada Nabila yang Nabila sendiri terlihat ogah mengambil uang dari ibu kantin yang sudah berbaik hati padanya.


"Uang nya nanti aja Bu, sesuai dengan kesepakatan".Tolak Nabila halus.


Ibu kantin masih bersikeras ingin memberikan uang di muka pada Nabila dan lagi-lagi selalu di tolak oleh Nabila dengan halus nya.


Nabila yang keras kepala dan pandai berbicara,membuat ibu kantin harus mengalah dan membayarkan uang sesuai dengan kesepakatan.


"Terimakasih Bu atas pengertiannya dan maaf aku selalu merepotkan ibu terus".Ucap Nabila sebelum dia beranjak pergi untuk berjualan.

__ADS_1


"Gapapa bil,justru ibu yang senang karena sudah mau membantu mu".Sahut ibu kantin sembari menepuk pundak Nabila dan menyemangatinya.


Nabila pamit undur diri untuk berjualan sebelum bel tanda masuk berbunyi dengan nyaring nya dan dia harus kembali berhadap-hadapan lagi dengan si tengil Nathan.


"Makaroni...Makaroni...."Teriak Nabila, menawarkan dagangannya yang sempat absen beberapa hari yang lalu.


Tak butuh waktu bagi Nabila menunggu apalagi berjalan cukup jauh untuk mendapatkan pembeli karena memang tak sedikit yang menantikan Nabila kembali berjualan.


Bukan karena rasa kasihan akan tetapi karena memang rasa dari bumbu balado nya yang terasa enak dan lezat.


Saking banyaknya pembeli hingga Nabila nyaris kewalahan melayani pembeli yang meminta si dahulukan dan bahkan dalam jumlah banyak.


Nabila, dengan sabar melayani nya dan menjawab pertanyaan pembeli yang bertanya tentang absennya Nabila berjualan beberapa hari lalu.


Ulasan senyum sering Nabila berikan, sesekali melemparkan candaan pada pembeli setianya untuk saling mengakrabkan diri.

__ADS_1


Sekilas memang tak ada yang aneh apalagi salah,tapi tidak dengan penglihatan Nathan yang menatap nya tak suka.


Yah, Nathan tengah berdiri sembari mengamati Nabila yang tengah melayani pembeli dengan binar kebahagiaan yang terpancar di wajah nya cukup jelas terlihat.


Nathan beserta dengan rombongan geng nya tak sengaja melihat Nabila yang tengah berjongkok melayani pembeli nya.


"Baru beberapa hari dia absen jualan aja udah banyak yang menanti.Emang apa enaknya makaroni balado buatan di kismin,Nabila?".Tanya Nathan pada anggota geng nya.


Tak ada yang menjawab pertanyaan Nathan,semua diam sembari saling lirik satu sama lain takut salah menjawab tapi kalaupun tak menjawab tetap salah juga.


Nathan, menoleh kepada anggota geng nya satu persatu karena tak mendapatkan jawaban dan bahkan anggota geng nya menunduk diam.


"Kenapa diam?,gue tanya sama kalian semua dan kalian jawab pertanyaan gue".Hardik Nathan,geram dengan sikap bungkam dari anggota geng nya bahkan Noval pun memilih bersikap diam dan menunduk.


"Loe,Noval.Jawab pertanyaan gue".Gertak Nathan sembari melayangkan tatapan tajam dan Noval yang semakin menunduk diam.

__ADS_1


Nathan,harus menarik napasnya secara kasar.Sikap bungkam dari anggota geng nya berarti memang makaroni balado Nabila terasa enak dan lezat tapi tidak untuk dirinya yang terlanjur membenci Nabila.


__ADS_2